Konsultasi
Keberhasilan Terapi Diabetes Melitus
Jangan mudah percaya pada janji yang belum dibuktikan mengenai terapi yang dapat menyembuhkan diabetes melitus.
Oleh dr Samsuridjal Djauzi
Saya penderita diabetes sejak sepuluh tahun yang lalu. Ketika umur saya 48 tahun, saya merasakan bahwa berat badan saya menurun dan sering berkemih. Pada pemeriksaan laboratorium diketahui saya menderita diabetes melitus. Karena badan saya kurus, dokter menganjurkan agar saya menggunakan suntikan insulin di samping pengaturan makan dan olahraga.
Saya hanya sebentar melaksanakan penyuntikan insulin karena saya tertarik pada pengobatan herbal. Saya mencoba pengobatan herbal dan saya mulai tidak mengatur makanan seperti yang dianjurkan. Saya curiga ketika saya mengalami bisul-bisul di paha. Ternyata gula darah saya tinggi sekali, melebihi 400 mg. Saya ketakutan dan kembali berobat ke dokter. Saya menyesal tidak patuh pada pengobatan dokter. Sejak itu saya mendapat insulin sampai sekarang. Berat badan saya sebenarnya sudah naik, tetapi fungsi ginjal saya menurun dibandingkan normal. Untunglah keadaan jantung dan pembuluh mata saya baik. Jadi belum ada komplikasi pada jantung dan mata.
Sejak dua tahun yang lalu saya sudah pensiun. Sekarang saya mengatur makan dengan hati-hati, berolahraga dan menyuntik insulin. Hasil gula darah baik, juga pemeriksaan HbA1C yang merupakan ukuran pengendalian gula darah jangka panjang sebelumnya baik. Berat badan saya sudah termasuk normal, tetapi tekanan darah masih 140/95, kadang-kadang lebih tinggi.
Apakah sudah terlambat bagi saya untuk mengendalikan keadaan diabetes melitus saya? Bagaimana ukuran keberhasilan terapi diabetes melitus yang menyeluruh? Terima kasih dokter.
P di J
Angka penyandang diabetes melitus di negeri kita beragam. Di Tana Toraja, kekerapan diabetes melitus 0,8 persen dari penduduk, tetapi di Manado jauh lebih tinggi, yaitu 6,1 persen. Selain itu, penyandang diabetes melitus semakin meningkat jumlahnya, di Jakarta pada tahun 1982 kekerapannya 1,7 persen, pada tahun 1993 kekerapannya 5,7 persen, sedangkan pada tahun 2001 kekerapannya telah mencapai 12,8 persen. Data di atas menunjukkan bahwa penyandang diabetes melitus di negeri kita jumlahnya sudah amat besar, dan jumlah tersebut cenderung meningkat.
Tujuan penatalaksanaan diabetes melitus di Indonesia, seperti juga di negara maju, masih berupa pengendalian. Jika diabetes melitus dapat dikendalikan, kerusakan organ tubuh akibat komplikasi diabetes melitus dapat dicegah atau diminimalkan. Sampai saat ini, di dunia kedokteran kita belum berhasil menyembuhkan diabetes melitus tipe dua.
Jangan mudah percaya pada janji yang belum dibuktikan mengenai terapi yang dapat menyembuhkan diabetes melitus. Pada prinsipnya, terapi diabetes melitus adalah dengan pengaturan makan, olahraga, serta obat penurun gula darah baik berupa tablet maupun suntikan insulin. Pada keadaan tertentu diperlukan suntikan insulin, tetapi pada keadaan lain cukup dengan minum tablet penurun gula darah. Hasil pengendalian gula darah dapat dinilai. Keberhasilan jangka pendek dengan mengukur gula darah, sedangkan penilaian yang lebih jangka panjang dengan pemeriksaan gula darah mandiri.
Selain gula darah yang terkendali, penatalaksanaan diabetes melitus juga sekaligus ingin berat badan penyandang menjadi ideal, tekanan darahnya normal, serta profil lipidnya juga normal. Sebagai rangkuman, dapat dilihat target pengendalian diabates melitus pada penyandang diabetes melitus yang mempunyai risiko kardiovaskular atau tanpa risiko kardiovaskular pada tabel 1.
Tabel 1.
Risiko Pengendalian Diabetes Melitus
Parameter Tanpa Risiko KV Dengan Risiko KV
- IMT (kg/m2) 18,5 - <23 18,5 - <23
- Tekanan Darah Sistolik (mmHg) < 130 < 130
- Tekanan Darah Diastolik (mmHg) < 80 < 80