Senin, 27 April 2026

Konsultasi

Kiat Mendampingi Individu dengan Gangguan Jiwa

Individu mengalami halusinasi ketika mempersepsi sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Oleh Kristi Poerwandari

Gangguan jiwa mungkin ada di lingkungan terdekat kita, tetapi tidak banyak dipahami, tidak segera disadari, atau mungkin diingkari keberadaannya. Akibatnya, penanganan juga terlambat diberikan.

Saya menemukan di internet (http://www.everydayhealth.com/health-report/schizophrenia-caregiver-guide/), beberapa informasi dan petunjuk praktis yang bermanfaat.

Waham dan halusinasi
Pembahasan mengenai masalah kejiwaan akan sangat panjang dan kompleks. Dalam tulisan ini saya hanya akan membahas ringkas bagaimana mendampingi individu dengan delusi (waham) dan halusinasi.

Individu mengalami halusinasi ketika mempersepsi sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Yang paling umum adalah halusinasi pendengaran. Individu mendengar suara-suara yang menyuruhnya melakukan sesuatu atau memberi tahu mengenai suatu bahaya. Kadang bisa juga muncul halusinasi lain, misalnya melihat obyek atau orang atau mencium bau dan meraba sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Sementara itu, waham adalah keyakinan khusus yang sangat kuat dipegang individu meski ada bukti jelas bahwa hal itu tidak benar. Tampil dalam beragam bentuk, misalnya keyakinan bahwa kekuatan luar mengendalikan dirinya, pasangan melakukan perselingkuhan, pikirannya bisa dibaca orang lain, atau bahwa ia titisan Tuhan. Individu yang mengalami tidak bisa membedakan antara yang riil dan tidak riil. Yang dialaminya dirasa sangat nyata. Karena itu, dapat dibayangkan kekacauan yang dirasakan dan dapat dimengerti betapa perilakunya juga mungkin menjadi kacau.

Orang dengan gangguan jiwa tidak jarang mengalami penurunan kapasitas dari fungsi-fungsi normal sebelumnya. Kadang simtom ini salah dipahami sebagai depresi. Yang mungkin tampil antara lain tidak mampu memulai atau mempertahankan aktivitas yang telah direncanakan sebelumnya, terlihat tanpa ekspresi emosi, dan tidak lagi dapat menikmati hidup.

Orang terdekat
Kita mungkin sangat terkejut jika sebelumnya kehidupan terasa baik-baik saja, tetapi tiba-tiba disadarkan bahwa orang terdekat kita mungkin mengalami gangguan jiwa. Orangtua sangat terkejut karena sebelumnya anaknya tampil baik-baik saja, malah sangat membanggakan. Sementara itu, orang berkenalan, jatuh cinta, menikah, dan membangun mimpi-mimpi berdua sehingga sangat shock ketika menyadari pasangannya mungkin mengalami gangguan jiwa.

Yang terjadi memunculkan berbagai perasaan seperti bingung, takut, atau marah. Apalagi karena gangguan dapat mengubah kepribadian dan perilaku yang sebelumnya tampil sebagai individu yang penuh kasih sayang jadi terlihat jauh dan dingin. Sering pula kita melakukan pengingkaran (denial), menganggap gangguan jiwa tidak mungkin terjadi di lingkungan terdekat kita.

Banyak tantangan yang dihadapi, seperti bagaimana tugas-tugas kerumahtanggaan dapat dijalankan dengan baik, kebutuhan ekonomi keluarga dapat terus dipenuhi, dan keintiman atau interaksi dalam keluarga dapat terus dijaga. Cukup sering pasangan atau anggota keluarga menjadi sangat bingung, terluka, atau takut. Karena itu, semua pihak perlu mengerti apa yang sebenarnya terjadi serta langkah-langkah apa yang dapat atau perlu diambil, khususnya ketika ada anak-anak yang juga harus dilindungi dan dijaga masa depannya.

Ada dua kriteria untuk merespons situasi yang akan berpengaruh terhadap bagaimana kondisi keluarga atau perkawinan dapat dipertahankan, atau jadi memburuk, yakni:

• Individu yang mengalami gangguan harus bersedia mengalami penanganan medis dan psikologis. Apabila tidak ada penanganan, anggota keluarga atau pasangan dapat telantar, menjadi sasaran agresi, atau dipersalahkan untuk waham yang dialami. Hubungan menjadi sangat sulit untuk dipertahankan.

• Individu atau anggota-anggota keluarga yang sehat perlu membangun sistem dukungan. Pasangan atau anggota keluarga yang mengalami gangguan mungkin akan sulit memenuhi kebutuhan emosional kita sehingga kita perlu mencari sistem dukungan di luar hubungan dengannya.

• Dalam keluarga perlu dijalin komunikasi yang terbuka sehingga yang menyandang gangguan ataupun pendamping dapat memperoleh dukungan. Konseling/terapi perkawinan mungkin akan dapat membantu keluarga beradaptasi dengan situasi baru.

Pendamping perlu membantu individu dengan gangguan jiwa untuk merawat diri, memastikan secara kontinu berkonsultasi dengan dokter, minum obat secara teratur, menghindari rokok, obat-obatan lain, dan alkohol. Stres dapat memicu kekambuhan sehingga perlu diciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman. Terapi medis perlu diimbangi dengan diet sehat dan olahraga untuk memastikan berat badan tetap terjaga dan fisik tetap aktif.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved