resensi buku
Puisi: Pengalaman dalam Olah Bunyi
Mulanya, menikmati puisi adalah menikmati seni berbahasa; seni bermain-main dengan kata
Oleh Umar Fauzi Ballah
Mulanya, menikmati puisi adalah menikmati seni berbahasa; seni bermain-main dengan kata. Pembaca dibuat kagum oleh cara penyair menyeleksi diksi, menyusun frasa, meletakkan imaji, dan sebagianya. Itu mulanya.
Selanjutnya, pembaca terpana dan lebih khusyuk untuk mengetahui kedalaman maknanya. Dengan memahami dua unsur itu, kenikmatan puisi pun bisa dicapai. Barang tentu, tidak semua pembaca mencapai kenikmatan serupa. Kenikmatan seperti itulah yang saya rasakan ketika membaca buku puisi terbaru karya A Muttaqin bertajuk Tetralogi Kerucut.
Tetralogi Kerucut adalah buku kedua A Muttaqin setelah Pembuangan Phoenix (2011). Sama seperti halnya Tetralogi Kerucut yang tahun ini dinobatkan sebagai lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2014, Pembuangan Phoenix pun berada di lima besar tahun 2011. Namun, terlepas dari kondisi tersebut, A Muttaqin adalah penyair fenomenal dan berbakat. Dalam catatan saya, penyair ini mulai berkibar di kancah nasional sejak 2007 dan nyaris di Jawa Timur sendiri namanya, pada tahun tersebut, belum pernah ”diperhitungkan.”
Sebagai penyair berbakat, puisinya tampak berbeda dengan puisi-puisi yang dibuat oleh kebanyakan penyair lain. Kebakatannya dalam berpuisi dapat ditelisik pada ”spontanitasnya” berpuisi. Setiap kali berhadapan dengan puisi A Muttaqin, saya membayangkan bahwa puisi dengan seenaknya keluar dari dalam pikirannya. Hal ini terlihat dari bagaimana dia menuliskan bebunyian begitu rapat antarkata dalam satu frasa atau antarlarik dalam rima.
A Muttaqin berupaya menangkap momen estetis yang ia abadikan dengan kesederhanaan, kegelian, sedikit kejenakaan, dan pesan filosofis. Salah satu yang menarik adalah puisi ”Sepatuku”: ”Sebenarnya, kau makhluk bangsat belaka,/ Sepatuku. Kau amat keparat. Dan laknat./ Mulutmu pun pantas disumbat...// Kau bahkan menghasut kakiku, hingga/ mereka tak akur dan tergesa. Aku heran,/ bagaimana kau menyuap kepala sekolah/ Sehingga ia mewajibkanmu turut serta.”
Penekanan bunyi menjadi karakter puisi A Muttaqin. Larik-larik seperti itu tidak mudah lahir dari dalam diri penyair yang tidak memiliki kecakapan berbahasa dan kehalusan perasaan terhadap hal-hal sederhana yang mungkin sering kita lihat sehari-hari.
Beberapa puisi A Muttaqin pada judul-judul awal dalam kumpulan ini begitu rimbun dengan metafora. Flora dan fauna menjadi metafora surealis dan menjadi ornamen fantasi yang menghenyakkan, seperti pada ”Sekuntum Rum”: ”Hujan melepas katak dan kumbang perdu./ Ada birahi, juga sepi yang berbaris/ dari telur-telur waktu. Langit jadi suwung/ seperti lesung pipimu:// Pipi yang tak berpupur bianglala semu/ atau sisa sayap kupu-kupu./ Senja pun legam dalam merah siam/ yang padam di bibirmu.// Lalu semut-semut merambat/ dari alismu ke alas mimpiku” (hal 1).
Pengalaman transenden
Puisi ”Tetralogi” adalah puncak kumpulan Tetralogi Kerucut. Namun, puisi ini memiliki empat subjudul, yaitu ”Ketuban Cahaya”, ”Api di Puncak Semak”, ”Sempalan Cinta”, dan ”Maha Mahabbah”. Di sinilah tampak keterampilan dan kerja intelektual penulisan puisinya.
Puisi ”Tetralogi” ditulis dengan dua lirik dalam satu bait sebagaimana kaidah penulisan gurindam. Tipografi demikian tentu sudah dipersiapkan dengan kejelian proses kreatif sang penyair. Melalui ”Tertralogi”, sejatinya A Muttaqin hendak mewartakan empat nabi yang bergelar ulul azmi. Penyair menciptakan metafora dengan simbol sedemikian rupa untuk melukiskan hal tersebut. Ia ”menyembunyikan” Nabi Ibrahim sebagai ”Ketuban Cahaya”: ”Hatinya tergetar: itukah tuhan, tubuh tak teraran,/ labuhan bagi segala puji dan sembahan?//… ketika subuh menjemput semua pendarnya.// Hingga kedip terakhirnya./ Ia meronta. Batal sudah/ segala duga. Fajar pun pecah.”
Begitulah seterusnya, A Muttaqin memetaforakan ”Api di Puncak Semak” sebagai Nabi Musa, Nabi Isa sebagai ”Sempalan Cinta,” dan Nabi Muhammad, sang penutup para rasul, sebagai ”Maha Mahabbah.” Nabi Muhammad, sosok yang menjadi alasan terciptanya alam raya atau nur Muhammad, dimetaforakan dengan baik seperti petikan berikut, ”Sebab semula, sebab segala yang membuat ini itu ada/ adalah cahaya.// Dan dia tumbuh bagai lentera pertama. Jauh. Teramat/ jauh, sebelum kelopak kun menyalin serat jasadnya” (hal 42).
Kecanggihan dan modifikasi semacam itu tampaknya menjadi kerajinan beberapa penyair dalam dekade ini. Di antara mereka gemar menyalin teks asal yang tampak biasa-biasa saja menjadi teks yang lebih berkilauan. Puisi-puisi mutakhir Indonesia memanfaatkan teks yang sudah ada ke dalam bentuk yang lebih indah. Tentu saja, ini bagian dari kreativitas yang tujuannya dimaksudkan untuk menafsir kembali rasa keindahan. Rasa keindahan yang kemudian melahirkan pengalaman transenden. Inilah perjalanan spiritual yang dihadirkan melalui puisi.
Lebih dari itu, keindahan bentuk dan pengalaman-pengalaman puitik yang dihadirkan dalam Tetralogi Kerucut bukan hanya pada tataran frasa, kalimat, dan kesatuan larik-bait, melainkan juga pada tataran kecil seperti diksi.
Penyair ini gemar memakai kata-kata yang asing didengar. Umumnya berasal dari bahasa daerah, seperti kintir, pisuhan, geronjal, jumbleng, peteng, merit, krikitan, punal, kreweng, wuku, cukul, dan turah. Ada juga yang berasal dari bahasa Arab, seperti toyibah dan hibbah. Pada tataran ini, A Muttaqin sesungguhnya telah melakukan dua hal, yakni memperkenalkan kata untuk bahasa Indonesia yang nantinya bisa jadi termaktub dalam kaidah serapan. Kedua, diksi itu merupakan kesatuan puitik yang sengaja dihadirkan sebagai bentuk kosmologi estetika puisinya. Ini sekaligus membuktikan kekayaan penyair terhadap kosakata dan mendayagunakannya untuk kekuatan puitiknya.
UMAR FAUZI BALLAH, Kritikus Sastra.
DATA BUKU:
♦ Judul: Tetralogi Kerucutu Penulis: A Muttaqin
♦ Penerbit: Quntum Media
♦ Cetakan: I, 2014
♦ Tebal: viii + 44 halaman
♦ ISBN: 978-602-9241-38-9