Konsultasi

Layanan BPJS yang Nyaman

Pendirian rumah sakit baru diharapkan dapat mengurangi kesenjangan

Oleh dr Samsuridjal Djauzi

Ayah saya berumur 65 tahun, berobat menggunakan layanan BPJS di rumah sakit di Jakarta Pusat. Agar ayah saya dapat dirujuk, untuk penanganan penyakit kencing manisnya yang telah mempunyai komplikasi gangguan ginjal, merupakan perjuangan tersendiri. Proses masuk BPJS memakan waktu hampir seminggu.

Setelah mempunyai kartu BPJS, kami minta surat rujukan ke puskesmas. Rupanya rujukan puskesmas ditujukan ke rumah sakit daerah. Di sini pasien diperiksa dan kemudian baru dirujuk ke rumah sakit rujukan nasional. Teman-teman memberi tahu untuk dapat layanan jika menggunakan kartu BPJS harus datang pagi-pagi. Kami baru dapat panggilan sekitar jam sembilan. Setelah itu barulah kami menuju poliklinik diabetes, disini juga harus antre lama sebelum dapat diperiksa dokter.

Pemeriksaan dokter cukup lama dan teliti, tampaknya ayah saya harus bersiap menjalani cuci darah. Dokter kencing manis juga meminta agar ayah saya berkonsultasi dengan dokter jantung dan ginjal. Namun rupanya konsultasi tersebut tidak dapat dilakukan hari itu, sehingga saya harus mencari hari lain untuk mendampingi ayah berobat. Saya pedagang kecil, setiap mengantar ayah, saya harus menutup toko. Karena proses mengantar ayah ini cukup lama, praktis saya harus menutup toko seharian.

Mungkinkah layanan BPJS disederhanakan? Apakah tidak dapat digunakan sistem yang memudahkan bagi pasien sehingga pasien tidak membuang waktu banyak serta menikmati layanan nyaman. Saya harus mengakui kebijakan asuransi nasional amat membantu kami sekeluarga. Semula saya sebagai anak harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk pengobatan ayah. Sejak mengikuti BPJS, biaya pengobatan menjadi amat ringan,.

Lalu, bagaimanakah jalan keluarnya agar pelayanan ini semakin memudahkan rakyat kecil seperti kami?

P di J

Jaminan asuransi nasional kesehatan yang mulai diberlakukan sejak awal tahun ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, baik layanan pencegahan maupun pengobatan. Sampai dengan akhir November jumlah peserta sudah mencapai 131 juta orang, jauh melampaui target yang ditetapkan untuk akhir tahun 2014. Ini tentu menggembirakan karena program ini dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sehingga masyarakat memanfaatkannya.

Kita berharap semua warga negara akan dapat memanfaatkan program BPJS ini nantinya. Perbaikan tersebut merupakan hasil upaya pemerintah, penyelenggara, pelaksana layanan, namun jangan dilupakan juga akan dipengaruhi oleh sikap masyarakat. Sebelum asuransi nasional kesehatan diberlakukan, sebenarnya jumlah tempat tidur rumah sakit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk di negeri kita relatif masih kurang. Pendirian rumah sakit baru diharapkan dapat mengurangi kesenjangan antara penyediaan tempat tidur dan kebutuhan masyarakat.

Kementerian Kesehatan sudah membangun cukup banyak rumah sakit di daerah yang operasionalnya dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Rumah sakit swasta sudah banyak yang ikut melayani pasien BPJS, tetapi sebagian lain masih menunggu. Mereka mengamati apakah biaya yang disediakan oleh BPJS mencukupi untuk menutup unit biaya layanan mereka. Pemerintah mungkin saja mewajibkan rumah sakit swasta menerima layanan BPJS sesuai dengan kewajiban sosial mereka, tetapi tentu lebih baik jika rumah sakit swasta sendiri yang sukarela menerima pasien BPJS.

Jika semula banyak sekali pasien yang tidak dapat menjalani tindakan diagnostik dan terapi yang dibutuhkan karena terhalang besarnya biaya, maka sekarang mereka mendapat jaminan pembiayaan dari BPJS. Kita tentu memahami agar pembiayaan tersebut benar-benar diperuntukkan bagi mereka yang memerlukan, dan tindakan yang akan dilakukan memang penting, maka perlu birokrasi yang menyebabkan pasien dan keluarga harus menjalani prosedur panjang dan tidak nyaman.

Problem jumlah pasien
Keadaan kami di rumah sakit saat ini, kami mempunyai kesempatan untuk menolong saudara-saudara kita yang memerlukan, tetapi jumlah pasien jauh melampaui kapasitas. Setiap hari di rumah sakit tempat saya bekerja sekitar 3.000 pasien datang mengharapkan pertolongan. Untuk mendapat gambaran, dapat dianalogikan sebuah rumah makan mempunyai kapasitas melayani pengunjung tiga ratus sehari. Tiba tiba dengan kapasitas dapur yang sama, jumlah karyawan yang tidak bertambah, nasi mungkin ditambah, datanglah 1.200 pengunjung secara hampir bersamaan.

Apa yang akan terjadi? Tempat duduk kurang, makanan mungkin tak tersaji tepat waktu. Bahkan ada yang kehabisan nasi atau lauk. Sudah tentu kita tidak dapat menyalahkan para karyawan semata. Untuk mendapat layanan yang baik semuanya harus disempurnakan. Jumlah pasien yang berobat di rumah sakit amat ditentukan oleh penyaringan pasien di layanan kesehatan primer (puskesmas atau klinik). Kami berharap sekitar 85 persen kasus dapat selesai di layanan kesehatan primer dan hanya sekitar 15 persen yang perlu dirujuk ke rumah sakit.

Peralatan medis di layanan kesehatan primer serta obat dilengkapi sesuai kebutuhan. Kalau perlu jam buka layanan kesehatan primer diperpanjang agar dapat melayani pasien lebih banyak. Kegiatan penyuluhan dan pencegahan ditingkatkan agar masyarakat dapat memelihara kesehatan dengan baik. Begitu pula jumlah rumah sakit yang mengikuti layanan asuransi nasional ini ditingkatkan.


Sumber: KOMPAS
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved