Rabu, 15 April 2026

Kemacetan

Yayat Supriyatna : Tata Ruang di Kota Bogor Buruk

Yayat Supriatna mengatakan, penyebab kemacetan di Kota Bogor disebabkan tata kelola ruang yang tidak teratur dan terpusat.

Penulis: |

WARTA KOTA, BOGOR - Ketua Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan (TP4) Kota Bogor, Yayat Supriatna mengatakan, penyebab kemacetan di Kota Bogor disebabkan tata kelola ruang yang tidak teratur dan terpusat sehingga akivitas manusia dan barang hanya berada dalam satu titik wilayah.

Dia menjelaskan pembangunan di Kota Bogor dalam kurun lima tahun terakhir hanya berpusat di sekitar Kebun Raya Bogor dan Bogor Tengah.

"Pembangunan pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, semuanya terletak di sekitar Kebun Raya Bogor. Sehingga aktifitas masyarakat terpusat di satu titik, dampaknya kemacetan," ujar Yayat Supriatna, Kamis (23/10/2014).

Yayat mengatakan, sejak dulu di tengah kota Bogor sudah terbangun bangunan yang menjadi pusat keramaian orang, seperti Stasiun Bogor, Balaikota, Istana Bogor, Sekolah, Gereja, yang tidak mungkin dipindah karena merupakan cagar budaya.

"Kota Bogor pada masa lalu memang mempunyai tata kelola ruang yang sangat buruk, dimana semua perijinan bangunan diperbolehkan berada dipusat Kota Bogor. Seharusnya, pembangunan itu disebar ke pinggiran Kota Bogor," ujar Yayat.

50.000 kendaraan/hari

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengatakan, saat akhir pekan, Kota Bogor selalu dilanda kemacetan karena menjadi lokasi tujuan wisata warga Jakarta dan sekitarnya.

Kota Bogor sendiri memiliki luas sekitar 11.850 hektar dengan panjang jalan hanya 750 kilometer. Hasil kajian Dinas Perhubungan tahun 2012, laju kendaraan 20,5 km/jam, tahun 2013 menjadi 15,5 km/jam.

"Sementara setiap harinya, sekitar 50.000 kendaraan melaju di jalan-jalan utama seperti Jalan Djuanda, Sudirman, Sholeh Iskandar dan Jalan Raya Tajur," ujar Bima Arya.

Sedangkan lalu lintas orang yang keluar dan masuk Kota Bogor bisa mencapai 600.000 orang/hari."Makanya tak heran kalau dampaknya Kota Bogor macet. Tapi, jika dikatakan paling macet dibanding Jakarta, saya pertanyaan motodologi penelitiannya," kata Bima Arya.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved