Kamis, 4 Juni 2026

Eka Budianta Penulis yang Memilih Tinggal di Senior Living

Eka Budianta (59) memilih menghabiskan masa tuanya di Senior Living atau hunian yang dikhususkan bagi manusia lanjut usia (lansia).

Tayang:
Editor: Suprapto

WARTA KOTA, CIKARANG - Eka Budianta (59) memilih menghabiskan masa tuanya di Senior Living atau hunian yang dikhususkan bagi manusia lanjut usia (lansia).

Senior living yang dipilihnya adalah hunian elit yang dibangun diatas tanah milik Jababeka Residence Cikarang, Jawa Barat, yang bernama Senior Living D'Khayangan milik PT Jababeka Longlife City.

Eka tinggal di sana atas keputusannya sendiri. Di sana, Eka tinggal di dalam sebuah unit apartemen yang baru ditempatinya semenjak 20 September lalu.

Kamar di apartemen tersebut terdiri dari sebuah tempat tidur khusus yang bisa disesuaikan sesuai kenyamanan pengguna. Di sana juga ada satu unit televisi, meja makan, sofa, meja lengkap dengan kaca, serta ada kamar mandi di dalam kamar tersebut.

"Saya memilih tinggal di sini karena tak ingin merepotkan anak saya yang juga tinggal di Cikarang. Dengan punya hunian sendiri, saya bisa menengok anak cucu saya. Selain itu saya sengaja memilih hunian ini meski belum berusia 65 tahun karena saya pikir, lebih awal menyiapkan diri akan lebih baik," katanya kepada Warta Kota dalam acara grand opening Senior Living D'Khayangan di Jababeka Cikarang, Kamis (25/9/2014) siang.

Walaupun tinggal di sana adalah keputusan Eka, namun, sang istri yang saat ini tinggal menetap di Australia sempat tak menyetujui rencana tersebut karena jika ingin menengok jaraknya terlampau jauh. Namun, Eka mengatakan, semakin cepat tinggal di sana, makin lama pula waktu tinggalnya, biaya nya pun akan sama saja. Sehingga ia memutuskan untuk menempati hunian masa tuanya itu meski belum berusia 60 tahun.

Tinggal di hunian yang semuanya berisi orang-orang lanjut usia bukan berarti berhenti berkegiatan. Buktinya, pria yang aktif menulis sajak, puisi, serta buku ini mengikuti kegiatan yang merupakan kegemarannya, yakni bercocok tanam.

Hunian yang dibangun di atas tanah seluas 8 hektar ini memang menyediakan lahan bagi para lansia untuk bercocok tanam melalui senior botanical garden.

"Saya seorang pengarang. Di dunia kepengarangan dikenal seorang pengarang Perancis bernama Mulier. Pada akhir hidup, ia menyuruh untuk manusia mendekatkan diri ke alam, ia berkata peliharalah tamanmu, oleh karenanya, saya menyukai kegiatan gardening di sini, karena rasanya senang bisa kembali dekat dengan alam di usia senja," katanya ketika ditanya motivasinya tinggal di sana.

Pria yang pernah bekerja sebagai wartawan ini menceritakan pengalamannya selama tinggal di senior living tersebut. Menurutnya, karena belum banyak rumah di sana, ketika angin berhembus selalu diikuti oleh suara gemuruh. Hal itu mengingatkannya pada buku berjudul little house in the prairie yang pernah dibacanya, kenangnya sembari menirukan suara gemuruh angin.

Meski begitu, pria yang masih segar bugar itu menyayangkan kondisi tanah di Jababeka yang kurang baik untuk bercocok tanam.

"Tak semua tanah cocok untuk tanaman sehingga ada beberapa tanaman yang sudah di tanam sejak beberapa waktu lalu namun tumbuhnya masih kerdil, beberapa kali mencoba menanam pohon juga gagal, padahal, modal untuk menanamnya mahal," katanya.

Meski begitu, hal tersebut tak membuatnya menyerah untuk lebih dekat dengan alam. Buktinya, ia berencana hendak membeli benih pohon baobab yang bisa berusia hingga ribuan tahun.

"Saya mau coba menanam baobab di sana, bisa tumbuh besar hingga 4000 tahun, jadi saya tanam sekarang, 4000 tahun lagi akan saya tengok," ujarnya.

Saking senangnya bercocok tanam, ia bahkan menjadi konsultan taman untuk Jababeka. Sehingga, meski tinggal jauh dari keluarga, Eka tak takut tak bisa berkarya lagi. Ia yakin, dirinya masih bisa membantu masyarakat sekitar dengan caranya sendiri, salah satunya, dengan menjadi konsultan bercocok tanam. (Agustin Setyo Wardani)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved