Senin, 13 April 2026

Hutan Taman Kota Srengseng Tidak Terawat

Kondisi Hutan Taman Kota Srengseng di Jalan H. Kelik, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat memprihatinkan.

Editor: Suprapto
Hutan Taman Kota Srengseng Tidak Terawat - P7151146.JPG
Wahyu Tri Laksono
Kondisi Hutan Taman Kota Srengseng di Jalan H. Kelik, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, memprihatinkan.
Hutan Taman Kota Srengseng Tidak Terawat - P7071006.JPG
Wahyu Tri Laksono
Kondisi Hutan Taman Kota Srengseng di Jalan H. Kelik, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, memprihatinkan.
Hutan Taman Kota Srengseng Tidak Terawat - P7151138.JPG
Wahyu Tri Laksono
Kondisi Hutan Taman Kota Srengseng di Jalan H. Kelik, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, memprihatinkan.
Hutan Taman Kota Srengseng Tidak Terawat - ade_karlan,_penanggung_jawab_hutan_taman_kota_srengseng.jpg
Wahyu Tri Laksono
Ade Karlan, Penanggung Jawab Hutan Kota Srengseng.

WARTA KOTA, KEMBANGAN - Kondisi Hutan Taman Kota Srengseng di Jalan H. Kelik, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat memprihatinkan. Banyak kerusakan di berbagai sudut hutan yang dibebaskan lahannya sejak masa Gubernur R. Soeprapto pada 1986 tersebut.

Kerusakan itu menandakan tidak seriusnya pemerintah dalam merawat kondisi hutan tersebut. Pantauan Warta Kota di lokasi, Jumat (18/7/2014), hutan yang memiliki luas 15 Hektare tersebut memang kotor. Banyak pohon-pohon yang bertumbangan, menghalangi jalan serta ada yang masuk ke dalam danau buatan. Hanya saja kondisi itu dibiarkan begitu saja, seperti disengaja sehingga pohon tersebut digunakan untuk tempat bermain anak-anak sekitar tanpa tahu ada bahaya nantinya.

Sementara itu tembok-tembok yang membatasi pemukiman warga dengan hutan taman kota, beberapa dijebol oknum warga yang tidak bertanggung jawab. Sejumlah sampah rumah tangga juga dibuang ke hutan taman kota oleh warga sekitar di dekat tembok pembatas tersebut.

Selain itu, sejumlah fasilitas pendukung yang ada di hutan yang awalnya bekas lokasi pembuangan sampah tersebut tampak rusak. Misal, jalan paving blok yang dipenuhi lumut, bergelombang hingga berlubang, membahayakan bagi pengunjung. Sedangkan fasilitas wall climbing (panjat dinding) juga rusak parah karena tidak digunakan lagi.

Syarif (46) yang datang bersama kedua anak serta istrinya tersebut mengeluhkan hal itu. Menurutnya tempat ini sudah cukup nyaman untuk mengajak anak-anak bermain di sini. Hanya saja perlu diperhatikan lagi perawatannya sama keamanannya.

"Itu kaya pohon-pohon yang tumbang dibersihkan jangan dibiarkan melintang di jalan. Terus juga dicek kembali kondisi pohon yang sudah layak ditebang yang mana, supaya nantinya tidak tumbang sewaktu-waktu dan mengenai pengunjung yang datang," ucap pria tersebut kepada Warta Kota di lokasi.

Ia juga mengeluhkan kondisi jalan yang disediakan untuk menyusuri hutan yang mulai ditanami pepohonan pada tahun 1995 setelah proses pengerukan dilakukan sejak 1986. "Jalannya licin, banyak lumut, sudah gitu bergelombang dan ada yang bolong lagi," ujar pria yang beralamat tinggal di Rawa Belong tersebut.

Lanjut Syarif, kasihan nantinya buat anak-anak, kalau sedang asik berlarian tersandung ataupun terpeleset akibat kondisi jalan yang demikian. "Kalau bisa diperbaiki jangan sampai rusak begitu ya. Inikan tempat alternatif buat liburan keluarga juga," katanya.

Senada dikatakan, Surya (26) dan Akbar (23), karyawan perusahaan rokok swasta yang sedang beristirahat di kawasan Hutan Kota tersebut. Ia mengaku tempat ini sudah nyaman tetapi lebih diperhatikan lagi kebersihannya. "Iya kalau bisa lebih diperhatikan kebersihannya. Terutama daun-daun yang berguguran lebih sering dibersihkan biar pengunjung bisa lebih menikmati suasananya lagi," kata pria warga Cengkareng kepada Warta Kota di lokasi.

Dirinya memang kerap kali mengunjungi wilayah ini, tetapi setiap ke lokasi ini selalu saja dipenuhi sampah daun yang berserakan. "Padahal kalau saya lihat petugasnya rajin menyapu dedaunan itu ya," tutur pria berbaju putih tersebut.

Sementara itu, penanggung jawab Hutan Taman Kota Srengseng sekaligus pegawai Dinas Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Ade Karlan (50), mengamini akan berbagai macam kerusakan di hutan yang awalnya hanya ditanami 65 jenis pepohonan tersebut. "Iya hutan ini masih jauh dari kesan nyaman dan layak. Masih jauh dari standar hutan taman kota yang semestinya, banyak kerusakan di sana-sini," ungkap pria tersebut kepada Warta Kota di lokasi.

Ia mengatakan berbagai kerusakan yang terjadi merupakan kesalahan pembangunan sejak awal. Sebagai contoh, tujuan awal dibangunnya hutan ini sebagai hutan konservasi bukan untuk rekreasi warga. "Toh sekarang selain jadi hutan konservasi juga jadi taman kota untuk warga," ujar pria asal Cimahi, Bandung, Jawa Barat tersebut

Akibatnya saat ini ada dua surat keputusan dari pemerintah, yang satu terkait hutan tersebut sebagai hutan konservasi dan satunya lagi SK tentang hutan taman kota. Lanjut Ade, kesalahan kedua sejak awal ialah, pengerukan sampah yang dilakukan pada pembangunan pertama tidak benar-benar dikeruk sampai habis. Jadi masih menyisakan beberapa lapisan sampah di bawahnya.

Hal ini yang membuat banyak pohon-pohon yang sudah ditanam puluhan tahun akhirnya bertumbangan. "Saat saya gali sekira 20cm ternyata masih ada sampah plastik yang membuat akar pohon itu tidak masuk ke lapisan tanah yang dalam. Sehingga wajar jika pohon banyak yang tumbang," kata pria yang tinggal sendiri di mess pegawai di Gunung Sahari tersebut.

Dia juga menjelaskan banyaknya sampah serta tembok yang dirusak warga akibat tidak pedulinya para pengurus setempat terhadap kelestarian hutan taman kota srengseng. "Ga ada dukungan dari pengurus RT/RW, kelurahan, dan Kecamatan kepada warga yang buang sampah dan merusak tembok. Harusnya ada saling koordinasi dari semua pihak agar hutan taman kota srengseng tetap lestari," ucapnya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved