Senin, 27 April 2026

Warung Nasi Kapau yang Selalu Dinanti Pelanggan

Jalan Kramat Raya, Senen tak pernah sepi dari aktifitas. Apalagi di bulan Ramadan, saat buka dan sahur, warung makanan selalu penuh

Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Dian Anditya Mutiara

WARTA KOTA, SENEN - Kawasan Senen atau tepatnya di Jalan Kramat Raya tak pernah sepi dari aktivitas selama bulan Ramadan ini. Setiap waktu berbuka dan sahur, restoran dan lapak penjaja makanan selalu dipenuhi masyarakat.

Hadi (57), pemilik warung Nasi Kapau Bukit Tinggi di Jalan Kramat Soka, tak jauh dari Jalan Kramat Raya mengatakan, tempat itu telah menjadi favorit bagi masyarakat untuk membeli menu berbuka dan sahur sejak lama.

"Dulu sejak 1970 orang asal Sumatera Barat sudah banyak yang berdagang di Senen. Awalnya pedagang nasi Padang dan pakaian memenuhi Jalan Kramat Bunder, sebelum akhirnya ditertibkan," katanya kepada Wartakotalive.com, Jumat (11/7/2014).

Hadi merupakan generasi kedua pedagang Nasi Kapau di tempat itu, setelah sebelumnya ia membantu di warung ayahnya. Baru pada 1999 ia membuka warung Nasi Kapau sendiri di Jalan Kramat Soka.

Warung milik Hadi Tidaklah besar, tetapi menyediakan menu yang lengkap, dari ayam, telur, rendang, aneka ikan, belut dan sebagainya, termasuk sayur Kapau yang ketenarannya sudah mendunia.

"Warung boleh saja gaya kaki lima, tapi rasa makanan bintang lima. Bahkan nggak kalah sama rasa makanan Padang restoran-restoran besar seperti Sederhana atau Simpang Raya," katanya.

Perbedaan Nasi Kapau dengan Nasi Padang adalah pada rasa sayur Kapau. "Kapau adalah nama sebuah dusun. Yang dinamakan Kapau sendiri adalah masakan yang dibuat dari kol, kacang panjang sama nangka. Itu namanya sayur asli Kapau. Kemudian ada Tunjang (kikil), usus isi telur. Bumbunya juga lebih meresap. Jadi memang sudah sangat terkenal, sampai luar negeri," jelasnya.

Untuk melayani pelanggan yang semakin banyak berdatangan mendekati azan maghrib, Hadi mempekerjakan 15 orang. Sedangkan untuk jam operasi, buka dari 13.30-23.00. Menu yang disediakan dijual dengan harga berkisar Rp 12.000-Rp 13.000 per porsi.

Selain itu, pada momen Ramadan warung milik Hadi menyediakan makanan khas Padang yang kerap dikonsumsi masyarakat Sumatera Barat, yakni Es Tebak dan Es Kampiun.

Es Tebak terbuat dari campuran cendol putih dan tepung beras. Sedangkan Es Kampiun, terbuat dari candil, kolang-kaling, tape, sumsum dan beberapa bahan lain.

"Kedua minuman ini jarang sekali dijumpai di Jakarta. Ini sengaja kami buat untuk memperkenalkannya ke masyarakat," kata Hadi

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved