Kamis, 9 April 2026

Pramudi Bus Transjakarta ini Tak Keberatan Seleksi Ulang

Wacana Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan sertifikasi dan seleksi ulang pramudi bus Transjakarta ditanggapi positif oleh sejumlah pramudi.

Editor: Lucky Oktaviano

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU - Wacana Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan sertifikasi dan seleksi ulang pramudi bus Transjakarta ditanggapi positif oleh sejumlah pramudi.

Markum (45), pramudi Transjakarta koridor I Blok M-Kota, misalnya. Ia setuju saja dengan rencana sertifikasi tersebut.

"Ya diikuti saja, mungkin itu karena laka (kecelakaan) yang di Monas, tapi saya sih belum dapat infonya kapan mau ada seleksinya, baru dengar-dengar dari teman," ujar Markum kepada Wartakotalive.com, Selasa (17/6/2014) sore.

Pria asli Bangilan, Tuban, Jawa Timur, ini mengatakan baru setahun bekerja sebagai pramudi Transjakarta. Ia mengaku, gaji per bulannya mencapai Rp 6,6 juta bila bekerja biasa saja. Sementara bila bekerja lebih giat, ia bisa membawa pulang uang sejumlah Rp 7,5 juta.

Menurutnya, perhitungan gaji bulanan yang berdasarkan pada ritase (rit) tersebut cukup menguntungkan.

Ia menyebutkan, khusus untuk operator Damri, gaji memang lebih besar, tetapi untuk operator lain, ia mengatakan tak sebanyak gaji yang didapatkan oleh pramudi bus Transjakarta Damri.

Bapak tiga anak ini sebelumnya adalah sopir minibus sewaan yang melayani penumpang antar kota antar provinsi.

Ia bercerita, selama bekerja di Jakarta, istri dan anak-anaknya tinggal di Tuban. Sopir dengan logat medhok ini juga mengatakan gaji per bulannya sebagai pramudi bus Transjakarta cukup untuk menghidupi anak dan istrinya di kampung halaman.

Markum yang tinggal di sebuah rumah sewaan di Pesing, Jakarta Barat, ini mengaku pulang ke kampung halaman hampir setiap dua bulan sekali.

Meski harus jauh dari keluarga, ia mengaku bersyukur karena penghasilannya lebih baik. Dulu, ia mengatakan, penghasilannya tak menentu, namun karena seorang teman yang dikenalnya mengajaknya melamar menjadi pramudi bus kota Jakarta itu, ia kemudian mengikuti tes dan berhasil diterima.

Kepada Wartakotalive.com, pria yang gemar bercanda ini menceritakan proses tes masuknya dulu. Ia harus menyetir sebuah bus Transjakarta. Mengemudi maju mundur, dan akurasi berhenti menjadi hal yang sangat ia perhatikan.

Meski merasa sudah nyaman dengan pekerjaannya saat ini, Markum mengatakan ia tak masalah bila tak lulus dalam sertifikasi. Belum rejeki, begitulah katanya. Meski begitu, ia optimistis, siap dites bila memang ada peraturan baru.

Tak keberatan

Sementara pramudi Transjakarta jurusan Pulogadung-Kalideres, Cecep Supriya (47) yang sudah menjalankan pekerjaan ini sejak 2006, mengaku tak keberatan bila memang harus dites ulang. Meski begitu, ia baru mendengar kabar burung dari rekan-rekannya sesama pramudi.

"Ya kalau harus dites ya jalani, lulus ya lanjut, enggak ya stop," ujar pria yang sebelumnya bekerja sebagai sopir bus PPD itu.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved