Revitalisasi Terminal Gaya Kolonial dan Hijau
Dinas Perhubungan DKI akan melanjutkan program revitalisasi terminal. Tahun ini pembangunan terminal dilanjutkan di enam terminal.
WARTA KOTA, JAKARTA - Dinas Perhubungan DKI Jakarta akan melanjutkan program revitalisasi terminal di Ibu Kota. Setelah pembangunan kembali terminal Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, dan Terminal Kota, Jakarta Barat, tahun ini pembangunan terminal dilanjutkan di enam terminal.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta M Akbar mengatakan, tahun lalu sudah dilakukan penyusunan Detail Engginering Desain (DED) ke-15 terminal tersebut.
”Jadi perbaikan bukan hanya bus nya, tetapi juga terminalnya. Termasuk fasilitas, masyarakat yang harus diberikan kenyamanan, terminal ada food courtnya, ada tamannya juga," ujar Akbar Minggu (11/5/2014).
Akbar mengatakan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ingin membangun ciri khas dari semua terminal di DKI. Dengan merubah desain dan menambah fasilitas-fasilitas publik di dalam terminal, Jokowi ingin agar masyarakat merasa nyaman ketika berada diterminal, layaknya masuk hotel bintang lima, dan kesan seram terminal banyak preman tidak ada lagi.
Terminal yang akan direvitalisasi yakni Muara Angke, Tanjung Priok, Senen, Klender, Grogol, Kampung Rambutan, Kampung Melayu, Kalideres, Pulo Gadung, Ragunan, Pasar Minggu, Pinang Ranti dan Rawamangun. Infrastruktur yang baik, akan memaksa orang untuk tertib. Ada tiga jenis pembangunan terminal berdasarkan luasan terminal. Yakni mezanine concept. Konsep ini menata pergerakan orang atau penumpang berada di lantai terpisah, dan tidak ada penyeberangan orang di area angkutan umum. Konsep ini akan diterapakan di terminal Kampung Rambutan, Kalideres, Pulo Gadung dan Rawamangun.
Kedua, pedestrian crossing consept, yakni pergerakan orang atau penumpang satu level atau sebidang dengan angkutan umum dan jalur pergerakan menggunakan zebra cross. Konsep ini akan dibangun untuk terminal, Muara Angke, Ragunan, Tanjung Priok, Kota Jakarta, Klender, Pasar Minggu, dan Tanah Merdeka.
Kemudian yang ketiga; combination consept Mezanine & Pedestrian Crossing, merupakan kombinasi antara pembangunan mezanine concept dan pedestrian dalam satu terminal. Konsep itu diperuntukan pada terminal Manggarai, Lebak Bulus, Senen, Pinang Ranti, Kampung Melayu, dan Grogol. Selain tiga konsep itu, sejumlah terminal juga sudah akan menerapkan transit Oriented Development (TOD) atau terintergasi dengan moda transporasi lainnya, seperti Transjakarta dan Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek.
Tunggu Akses Tol
Sedangkan untuk terminal Pulogebang, akan didukung oleh pembangunan jalan layang dari tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) ke terminal Pulogebang yang saat ini dilanjutkan setelah sebagian pembebasan tanah selesai. Pembebasan lahan menyebabkan pembangunan Flyover terhenti hingga setahun belakangan. Posisi flyover berada di sekitar KM 51 JORR atau setelah pintu toll Bintara dari arah selatan dan setelah Cakung Timur dari arah Utara. Bus atau mobil dari tol bisa belok dan naik ke atas flyover untuk kemudian masuk ke dalam terminal Pulogebang. Selain flyover menuju Pulogebang, pengguna kendaraan juga bisa turun ke kiri dan masuk ke Jalan Sentra Primer Timur ke arah Walikota Jakarta Timur.
Flyover akan memiliki dua lajur dengan lebar 9,75 meter, sedangkan panjangnya, untuk flyover dari arah selatan menuju terminal sepanjang 675 meter, dan panjang flyover dari terminal menuju tol sepanjang 373 meter. Pembangunan flyover ini memakan biaya sekitar Rp 113 miliar yang dianggarkan di tahun jamak, atau multiyears. Diharapkan kehadiran Flyover mempermudah masyarakat Jakarta dan Bekasi untuk mengakses terminal dan juga kawasan Sentra Timur. “Kita harapkan pembebasan tanah bisa segera selesai, sehingga fisiknya bisa kita selesaikan akhir 2014 ini,” ujarnya.
Selain itu, terminal Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Pulogadung, Jakarta Timur juga akan ditutup dan dipindah ke Pulogebang. Jika jalan layang tersebut selesai, maka Terminal Pulogebang akan melayani bus AKAP. Akbar mengatakan, begitu jalan layang atau akses dari tol selesai, maka bus AKAP akan diarahkan ke Terminal Pulogebang.
”Akhir tahun ini kita harapkan jalan layang sudah selesai, jadi begitu jalan akses dari tol selesai, maka bisa langsung kita operasikan terminal AKAP, untuk tahap awal, mungkin kita uji coba beberapa trayek bus AKAP, tapi nanti semua bus AKAP Pulogadung pindah ke Pulogebang, kemungkinan awal 2015 sudah pindah semua,” kata Akbar.
Menurut Akbar, Dinas Perhubungan sudah mulai melakukan sosialisasi di Terminal Pulogadung kepada para Perusahaan Otobus, dan juga semua pihak yang ada di Pulogadung bahwa nantinya terminal tersebut tidak lagi melayani AKAP.
Akbar menjelaskan, terminal Pulogadung akan dibangun dengan konsep mezzanine dimana penumpang tidak menyeberang di area bus. Direncanakan pembangunan Terminal Pulogadung akan menelan biaya sekitar Rp 260 miliar. Terminal seluas 34.996 meter persegi ini hanya menjadi terminal dalam kota karena kemacetan menuju Pulogadung semakin parah. Dengan pemindahan terminal AKAP ke Pulogebang, maka diharapkan lalu lintas baik di Jalan Bekasi Raya dan Jalan Perintis Kemerdekaan akan lebih lancar.
Seperti diketahui, sebagian lahan untuk membangun akses ke JORR tersebut masih dimiliki masyarakat. Lahan yang belum dibebaskan berada di sisi barat tol JORR, sebagian di sisi timur JORR, dan di sisi utara terminal Pulogebang. Sisi utara terminal akan menjadi lahan ramp on off (tanjakan dan turunan) menuju tol. Namun saat ini dihuni banyak warga.