Caleg 2014
Caleg di Bogor Stres karena Merasa Dibohongi Rakyat
Setelah gagal terpilih menjadi anggota dewan pada pileg 2009, seorang caleg asal Bogor diduga mengalami stres berat.
WARTA KOTA, PALMERAH— Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soeharto Heerdjan di kawasan Grogol, Jakarta Barat, menyiapkan kamar khusus kelas VIP untuk para caleg yang stres usai pemilu legislatif 9 April 2014.
Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Soeharto Heerdjan, Mohammad Reza Syahhasan, mengatakan, caleg yang stres usai pemilu boleh menyewa kamar khusus untuk perawatan. Tarifnya bisa mencapai Rp 250.000/hari.
Diakui Reza bahwa, pihaknya menyiapkan upaya preventif untuk mengatasi permasalahan caleg, jika mereka menderita stres seusai mengalami kegagalan. Sejak tahun 2004 lalu ada Unit Mental Health Check Up. Fungsinya memeriksa kejiwaan setiap orang termasuk anggota legislatif.
Sementara itu, setelah gagal terpilih menjadi anggota dewan pada pileg 2009, seorang caleg asal Bogor diduga mengalami stres berat. Meski sudah menghabiskan dana ratusan juta rupiah untuk biaya sosialisasi dan kampanye, suara yang ia raih tak cukup menghantarkan dirinya duduk di DPRD.
Itulah yang dialami Yu (44), calon anggota legislatif (caleg) dari sebuah parpol besar. Walau pernah nyaleg pada pileg 2009 dan mengalami stres, pada Pemilu 2014 ini, Yu kembali maju dari parpol dan daerah pemilihan (dapil) yang sama.
Seperti pada pileg 2009, kali ini Yu nyaleg untuk DPR Kota Bogor dapil III. Tahun 2009 lalu ibu dua anak ini berada di nomor urut sembilan. Dia saat itu gagal mendulang suara karena di salah satu kampung di wilayah Kota Hujan itu tak mendapat suara yang diharapkan.
Yu hanya mendapat tiga suara di Kampung Muara Baru, RW 014, Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Padahal, di kampung itu Yu sudah menggelontorkan program koperasi. Dalam program koperasi itu, uang awal koperasi untuk seluruh warga kampung dibayari Yu. Besarannya Rp 50.000 per warga.
Lantaran kesal dan kecewa, tim sukses Yu mendatangi ketua RW 014, lalu meminta kembali semua buku koperasi. Peristiwa ini sempat membuat heboh warga sekitar. Wartawan dan polisi datang ke lokasi. Saat itu pertemuan antara ketua RW dan tim sukses Yu diadakan di Posyandu Rajawali, persis di depan rumah sang ketua RW.
Tina (50), istri ketua RW kemudian mengembalikan semua buku koperasi yang belum sempat ia bagikan kepada warga. Uang koperasi pun tak jadi cair ketika itu. “Saya buang ke lantai semua buku koperasinya kala itu,” ucap Tina kepada Warta Kota ketika ditemui di rumahnya di Kampung Muara RT 01/014, Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jumat (21/3) pagi pekan lalu.
Selanjutnya berita Yu yang memerintah tim suksesnya mengambil kembali buku koperasi ini muncul di berbagai televisi. Berikutnya tersiar berita Yu jadi stres berat dan masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi di Kota Bogor. Rumah milik Yu disebut-sebut disita bank karena dijadikan jaminan (agunan).
Ustaz Syaefuddin Zuhri, pimpinan Pondok Padepokan Majlis Dzikir Arrusy (MDA) di Tenjolaya, Kabupaten Bogor, mengaku juga mendengar kisah itu. Syaefuddin mendengar Yu stres dari keluarga si caleg sendiri. Syaefuddin adalah ahli pengobatan sakit jiwa yang banyak didatangi caleg depresi pada pileg 2009 silam.
Yu ketika dihubungi Warta Kota, Jumat (21/3) pekan lalu di Kota Bogor membantah semua rumor itu. Dia tertawa mendengar semua kisah tentang dirinya yang depresi karena gagal nyaleg.
Perempuan pengusaha travel ini justru mengaku, usai kalah pileg 2009 suaminya justru membelikan sebuah mobil Toyota Rush.
Lalu dari usaha travelnya, Yu juga masih bisa membeli satu mobil lagi. “Yang mengabarkan saya masuk RSJ itu lawan-lawan politik saya,” kata Yu sambil terbahak.
Yu memang bukan orang miskin atau kaya mendadak. Suami Yu sudah lama berkarier sebagai PNS di Kota Tangerang Selatan (tangsel). Tahun 2009 lalu suami Yu masih menjabat kepala bidang di salah satu instansi di Tangsel. Tapi, tahun 2014 ini suaminya sudah jadi kepala dinas di Tangsel.