resensi buku
Mengungkap yang Ter(di)sembunyikan
Selama ini yang berkembang di masyarakat persepsi negatif tentang orang-orang Tionghoa.
WARTA KOTA, PALMERAH - Bagi Daradjadi Gondodiprojo (74), memasuki masa senja bukan berarti berhenti berkarya. Sebaliknya menjadi titik balik. Masa purnakarya seakan menjadi lorong waktu yang menariknya menapaki jejak-jejak sejarah. Bahkan menggodanya untuk mengungkap peristiwa-peristiwa penting yang masih ter(di)sembunyikan.
Meskipun ketertarikannya pada masalah kebudayaan dan sejarah baru muncul saat pensiun, mantan pimpinan di lingkungan Departemen Keuangan dan BUMN ini mensyukuri ”pencerahan” yang dia alami. Daradjadi mengaku pada masa mudanya mungkin dia terlalu larut dalam bekerja. Profesinya sebagai ahli keuangan membuat cara pandangnya terbatas. Baru setelah mulai menggeluti bidang seni budaya dan sejarah, tokoh pembina Yayasan Suryosumirat (Himpunan Kerabat Mangkunegaran) ini merasa memiliki cara pandang dengan spektrum yang lebih luas.
Buku Geger Pacinan adalah bukti keseriusannya menyelami sejarah. Inspirasi penulisannya muncul secara kebetulan, ketika cucu Mangkunegara IV ini tengah asyik menelusuri naskah atau manuskrip koleksi Rekso Pustaka, perpustakaan Pura Mangkunegaran, Solo. Ketika membaca buku Zainuddin Fananie—judulnya Restrukturisasi Budaya Jawa—Daradjadi terkejut dengan yang ditulis dosen Universitas Muhamadiyah, Surakarta, itu.
”Dia menulis, …dikatakan bahwa Mangkunegara I pada awal perjuangannya itu bekerja sama dengan Laskar Tionghoa. Sesuatu yang sangat kejutan bagi saya. Saya belum pernah mendengar. Mulai saat itu saya mulai menggali buku-buku babad, buku-buku sejarah.” tutur Daradjadi saat ditemui di salah satu rumah makan di kawasan Senayan, Jumat (14/2). Perburuan literatur lalu semakin intensif, bahkan hingga ke Leiden, Belanda, dan British Library, Inggris.
Daradjadi sempat berpikir untuk berhenti menulis bakal bukunya. Namun, sejarawan Didi Kwartanada mengubah niatnya. Didi memompa semangatnya dan menjadi teman diskusi dalam mempelajari metode penelitian dan penulisan sejarah. Butuh tiga tahun bagi alumnus Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi (1986) ini untuk menuntaskan penulisan sejarah ”Perang Sepanjang 1740-1743” yang dikenal sebagai ”Geger Pacinan”. Perang besar pada abad ke-18 yang melibatkan pasukan Laskar Tionghoa-Mangkunegaran melawan VOC. Cakupannya mulai dari Batavia hingga Blambangan, Banyuwangi.
” …Saya baru tahu, ternyata ini sambungan dari kisah tentang sejarah pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia, tahun 1740. Dari situ, orang-orang Tionghoa yang selamat, kan pada lari ke Jawa, ke Kerajaan Mataram. Dari situ mereka bergabung dengan Kerajaan Mataram untuk melakukan perlawanan dengan VOC. Mereka yang bergabung antara lain adalah Raden Mas Said yang kelak menjadi Mangkunegara I,” ungkap Daradjadi.
Tak banyak orang yang tahu peristiwa sejarah itu. Maka, Daradjadi merasa punya kewajiban mengungkapkannya. Dia ingin menunjukkan adanya salah persepsi terhadap orang-orang Tionghoa. Selama ini yang berkembang di masyarakat persepsi negatif tentang orang-orang Tionghoa. Mereka hidup eksklusif, tidak punya rasa kebangsaan, dan seterusnya. Persepsi itu berakar dari politik kolonial Belanda, yang menempatkan orang-orang Tionghoa tak jauh dari benteng-benteng Belanda, agar terjangkau bidikan meriam Belanda.
”Ada beberapa persepsi negatif terhadap orang-orang Tionghoa. Orang Tionghoa tidak pernah berjuang dengan orang-orang Indonesia. Ini tidak betul. Ini tidak seperti yang digambarkan oleh sejarah,” ujar Daradjadi, yang pengurus Yayasan Mangadeg ini. (RPS/YKR/LITBANG KOMPAS)