Minggu, 12 April 2026

BBJ Tampilkan Maestro Monolog Landung Simatupang

Karakter-karakter dan sikap sang buyut itu kemudian melekat kental pada Diponegoro.

WARTA KOTA, PALMERAH - Setelah tampil di dua kota yang berbeda, Landung Simatupang, aktor panggung kelas atas sekaligus maestro monolog Indonesia akan menggelar pentas Pembacaan Dramatik Kisahan tentang Diponegoro di Bentara Budaya Jakarta, Kamis 6 Maret 2014 pukul 19.30 WIB.

Pentas Pembacaan Dramatik Landung dkk yang dibuka untuk umum ini akan mengangkat kisah tentang Pangeran Diponegoro dengan bahan baku utama buku Kuasa Ramalan karya sejarahwan Inggris, Peter Carey, yang berisi kisah dan segala aspek tentang sosok Pangeran Diponegoro.

Care juga mengacu pada Babad Diponegoro karya otobiografi sang pangeran. Diperkuat oleh tim pendukung pementasan dari Bentara Budaya pentas yang tidak mengenakan biaya masuk ini merupakan salah satu wujut ucapan syukur atas penerbitan buku Kuasa Ramalan sebanyak tiga jilid dan keputusan UNESCO yang menetapkan Babad Diponegoro sebagai International Memory of The World atau ingatan kolektif dunia.

Sebelumnya Landung yang dikenal sebagai sutradara teater, penyair, akttor panggung dan aktor film ini telah mementaskan bagian dari naskah Pembacaan Dramatik Pangeran Diponegoro ini di dua kota.

Pertama, bagian kisahan bertajuk Sang Pangeran di Keresidenan pada 24 November 2013 di Pendapa Bakorwil II Magelang, tempat sang Pangeran ditangkap oleh Jenderal Hendrik Mercus de Kock.

Kedua, bagian kisahan bertajuk Sang Pangeran: dari Tegalrejo ke Selarong pada 8 Januari 2014 di Monumen Pangeran Diponegoro Tegalrejo, Yogyakarta. Monumen ini merupakan ndalem (kediaman) Ratu Ageng, istri Sultan Hamengku Buwono I, buyut sang pangeran.

Dikisahkan bahwa di tempat itulah Diponegoro kecil yang bernama Raden Antawirya menghabiskan masa kanak-kanaknya. Pengaruh karater Ratu Ageng yang dikenal sebagai sosok relijius, menggemari kesenian dan pengusaha dermawan yang dekat dengan rakyat cukup kuat.

Karakter-karakter dan sikap sang buyut itu kemudian melekat kental pada Diponegoro. Sejumlah media melaporkan, pelaksanaan pementasan di Pendopo Tegalrejo Yogyakarta menghadirkan setting panggung dan suasana pergelaran yang berhasil membangun ikatan emosional dan empati penonton.

Demikian pula penonton yang hadir dengan mengenakan pakaian tradisional Jawa turut berhasil membangun suasana kesejarahan sang pangeran. Untuk pementasan di Bentara Budaya Jakarta kali ini Landung masih akan dibantu oleh tim pendukung yang akan berusaha menghidupkan suasana dan setting sejarah Pangeran Diponegoro.

Pada pentas sebelumnya Landung yang menitikberatkan kisahan pada masa muda sang pangeran di awal Perang Jawa (1825-1830) berhasil mengerahkan kekuatannya sebagai aktor panggung kelas atas dengan menghadirkan beberapa potong pengadeganan sang pangeran muda sehari-hari, terutama saat belajar mengaji serta bela diri.

Lantunan tembang Jawa oleh tim pendukung yang diambil dari Babad Diponegoro dalam bentuk tembang/puisi Jawa turut menghidupkan suasana kejawaan zaman sang pangeran. Penonton akan ditarik ke masa lalu ketika kemelut Perang Jawa itu akan meledak.

Sebagai aktor panggung sekaligus maestro monolog Landung akan tampil bak dalang wayang kulit. Dengan jam terbangnya yang tinggi di dunia seni peran Landung akan menghidupkan karakter para tokohnya, perpindahan pengadeganan melalui narasi dan "dialog" yang sesuai tiuntutan karater dan suasana.

Landung yang juga sarjana Sastra Inggris lulusan Universitas Gajah Mada yang beberapa kali menyutradarai drama berbahasa Inggris ini juga akan memunculkan dialog dari tokoh berkebangsaan Belanda, Prancis atau tokoh asing lain.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved