Tip Sehat
Anak Tak Mau Toilet Sekolah Bau dan Gelap
Walaupun fasilitas penting, belum semua rumah atau sekolah menyediakan toilet.
WARTA KOTA, KUNINGAN - Walaupun fasilitas penting, belum semua rumah atau sekolah menyediakan toilet. Kalaupun ada, kondisi toiletnya belum bersih dan higienis.
Ketua Umum Asosiasi Toilet Indonesia Naning Adiwoso mengatakan, sebanyak 45 persen penduduk Indonesia belum menikmati toilet higienis (Data Badan Pusat Statistik 2006).
Artinya, akses sanitasi sehat dan toilet higienis baru dinikmati 55 persen masyarakat Indonesia. Selain di tempat umum, toilet dengan kondisi kebersihan yang tidak memadai juga dijumpai sekolah-sekolah di beberapa wilayah Indonesia. Selain karena kondisi kebersihan yang tidak memadai, jumlah toilet yang sangat terbatas di sekolah juga tidak sebanding dengan jumlah siswa.
"Kadang sekolah bagus, tapi toiletnya enggak ada. Bahkan 33 madrasah di Jakarta hanya menyediakan tempat belajar enggak ada sanitasinya," kata Naning saat menjadi pembicara Gerakan Toilet Higienis Domestos di Mango Tree, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (6/12).
Perbandingan ideal jumlah murid dan toilet, menurut Naning, untuk murid sekolah dasar (SD) 1:50, artinya satu toilet untuk 50 murid. Sementara tingkat SMP 1:75, dan SMA bisa 1:100.
"Anak SD lebih lama jangka waktu untuk ke toiletnya. Dan anak perempuan juga lebih lama daripada laki-laki. Sebagian besar anak sekolah ke toilet untuk buang air kecil saja, hanya sekitar 20 persen yang buang air besar," kata Naning.
Selain jumlahnya yang masih kurang untuk toilet di sekolah, kebersihannya apalagi sampai higienis masih kurang. Idealnya, setelah dua-tiga orang digunakan, toilet harus disikat untuk dibersihkan. Namun kondisi toilet di sekolah justru bau, gelap, dan letaknya terpencil.
Toilet seharusnya bersih, aman, nyaman, kering dan higienis. Higienis berarti tidak ada kuman yang ada di toilet tersebut. Bersih saja belum tentu higienis. Tapi higienis sudah pasti bersih.
Kuman berbahaya dapat bertahan di toilet selama satu bulan atau lebih. Bayangkan jika toilet tidak dibersihkan dalam kurun waktu tersebut, berbagai bakteri dapat berkembang biak dan membahayakan kesehatan kita. Untuk itu toilet sebaiknya dibersihkan setiap hari dengan menggunakan pembersih anti kuman.
Menurut Naning padanan kata toilet dalam bahasa Indonesia memang seperti tidak seksi. Seperti jamban, ruang kecil, kamar belakang, WC. Nama-nama itu relatif menunjukan toilet bukanlah bagian penting.
Tak jarang pula, toilet di sekolah itu dikunci selama belajar, dan saat istirahat saja dibuka. Namun sejak tahun 2005, sudah ada hak anak untuk ke toilet kapanpun mau. "Berapa banyak anak yang lebih memilih menahan buang air kecil daripada melakukan di sekolah. Karena selain bau, juga gelap dan kotor sehingga anak-anak malas. Padahal menahan buang air kecil tentu akan menganggu kesehatan," ujar Naning.
Kering
Naning wanti-wanti untuk menjaga kebersihan toilet, harus diusahakan selalu kering. Desain dari toilet hendaknya mengurangi titik-titik air. Khusus untuk anak-anak terutama di sekolah jangan gunakan ember atau bak untuk menampung air. Ia menyarankan agar gunakan semprotan untuk membasuh.
"Asosiasi toilet sudah tidak suka jika ada toilet menggunaka ember. Apalagi di sekolah. Zaman dulu, jika ada ember atau bak, tiba-tiba gayungnya tidak ada. Atau bisa juga di embernya dimasukin cacing atau kotoran apa," katanya lagi.
Menurut Naning, sulit untuk mengubah mindset orang. Membangun toilet itu mungkin mudah tapi yang sulit merawatnya. Padahal toilet walaupun letaknya dibelakang merupakan cermin budaya bangsa. Di negara maju, toilet umumnya sangat bersih. (lis)