kuliner nusantara
Berburu Kue Selepas Malam
Khairana mengambil dua loyang sikaporo berwarna hijau dan membelahnya menjadi beberapa bagian.
Apa yang dikatakan Asdar itu bisa menjelaskan mengapa pembuat kue sikaporo tersisa hanya segelintir orang. Secara umum, kata antropolog dari Universitas Hasanuddin, Tasripin Tahara, resep masakan di masyarakat Bugis-Makassar memang diwariskan secara eksklusif hanya kepada keluarga dekat saja. Pewaris akan berusaha mengikuti resep tersebut seutuhnya.
Tengoklah Sarifa dan Khairana. Mereka juga mengolah sikaporo dan sala’ dengan cara yang sama seperti diajarkan tetuanya. Mereka menumbuk sendiri beras menjadi tepung dengan alu dan lumpang warisan tetua. Bahkan, dulu, mereka menanam sendiri padi yang berasnya dijadikan bahan sikaporo.
Suatu siang, kami melihat Sarifa menumbuk lima liter beras di kolong rumah panggungnya. Ia mengeluarkan banyak tenaga untuk menghaluskan beras. Selanjutnya, ia menyaring beras yang telah hancur itu dengan kain kerudung yang pori-porinya amat rapat. Hasilnya, tepung yang dihasilkan sangat halus. Pekerjaan berat menumbuk beras dilakoni Sarifa mulai pukul 10.00 dan baru selesai pukul 17.00. Setelah itu, tepung beras itu ia olah bersama Khairana menjadi sikaporo dan sala’ pukul 17.00. Pukul 19.00, kue matang, selanjutnya Sarifa dan Khairana menunggu pembeli datang. Saat sepi, mereka begadang menunggu pembeli yang mengetuk pintu dapurnya di tengah malam.
Seloyang sikaporo yang dibuat dengan usaha amat keras itu mereka jual hanya Rp 7.500, sedangkan sala’ Rp 15.000. ”Keuntungannya Rp 45.000 per hari. Yang penting cukup untuk beli beras lagi,” ujar Sarifa.
Meski hasil usahanya tidak seberapa, Sarifa dan Khairana menegaskan, mereka akan terus membuat sikaporo dan sala’. ”Kami hanya bisa buat kue itu, sudah jadi tradisi keluarga,” tambah Khairana.
Begitulah, kedua perempuan tua itu bukan sekadar pembuat kue. Mereka bisa dikatakan penjaga tradisi Bugis-Makassar.