Seorang pendongeng duduk beristirahat di sudut ruangan. Ia memakai kemeja putih lengan panjang dan celana panjang bahan layaknya gaya tahun 1940-an, walau terlihat agak lusuh. Saat itu, tampak pula seorang prajurit Jepang bersenjatakan senapan, berdiri membelakanginya, mengawasi keadaan di seberang. Wajahnya letih namun sikapnya tetap awas. Tak lama si pendongeng kemudian menengok ke arah serdadu lalu perlahan ia bergeser ke arah penonton. Dengan suara setengah berbisik, ia mulai bercerita kepada penonton tentang tema Akhir Pekan @Museum Nasional Minggu 15 September 2013 pagi itu, Samurai Bersepeda.
Pagi itu Rangga Riantiarno yang berperan sebagai pendongeng menceritakan mengenai sejarah sepeda yang sempat membuat orang kita dulu gigit jari di tahun 1800-an kalau melihat Belanda-Belanda naik sepeda. Orang-orang Jawa cuma bisa melongo, “Pit, pit,” seru mereka. Maksudnya, fiets, sepeda dalam bahasa Belanda. Fongers, Simplex, Batavus, Gazelle, adalah merk sepeda ternama yang tak luput didongengkan kepada para pengunjung yang hadir saat itu.
Ia lanjut bercerita tentang Pasar Gambir yang di situ dulu ada stadion olahraga dan ada lapangan balap sepeda (Velodrome) yang dibangun pada tanggal 7 November 1936. Masih ada lagi cerita tentang sejarah tentara Jepang yang berhasil menang menaklukan tentara Belanda, Inggris dan Persemakmuran sepanjang Malaysia dan Singapura hanya dengan sepeda!.
“Kenapa mereka bisa menang? Dengan sepeda mereka justru bisa melewati jalan perkampungan yang kecil dan sulit dilalui kendaraan tempur biasa. Inggris dan sekutunya yang menunggu mereka di medan pertempuran terkecoh. Lihat ke depan, eh, malah pantatnya dicaplok Jepang, hahaha,” cerita Rangga kepada pengunjung yang menonton pentas dongeng Teater Koma.
Itulah gambaran singkat dari program Akhir Pekan @Museum Nasional. Sebuah program hasil kerja sama Museum Nasional Indonesia dengan Produser Mystery of Batavia dan Teater Koma. Program ini dirancang khusus untuk anak-anak, keluarga dan komunitas yang beraktivitas pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Freeday) Jakarta.
Setiap hari Minggu, Anda bisa mendapatkan informasi asal usul serta sejarah benda-benda yang menjadi koleksi Museum Nasional Indonesia dengan cara yang berbeda. Dari keris Puputan Bali hingga keramik kapal Tek Sing; dari emas raja-raja Medang sampai kehebatan soldadu sepeda Jepang, sejarah mereka bakal dipentaskan Teater Koma dalam dongeng berdurasi 15 menit.
”Di sini saya mencoba membuat suatu cara yang berbeda untuk menikmati museum, bekerjasama dengan Teater Koma membuat pertunjukan seni teater yang dimaksudkan untuk menyampaikan pesan yang mudah dipahami akan benda bersejarah,” ucap Yudhi Soerjoatmodjo, Director, Storyteller, Cross Pollinator, akhir pekan lalu pada edisi kedua acara Akhir Pekan @Museum Nasional.
Acara ini digelar sejak 8 September hingga Desember nanti. Setiap kali, ada tiga kali pertunjukan (mengambil waktu sepanjang car free day). Pada penampilan kedua, acara ini mampu menyedot ratusan pengunjung. Dengan kapasitas 30 sampai 50 orang setiap pertunjukan, diharapkan para penonton dapat memahami dan mengetahui lebih banyak akan sejarah itu sendiri dan mengajarkan sejarah kepada keluarga maupun anak-anak sebagai generasi penerus.
Tertarik? Segera saja daftar di Facebook Akhir Pekan di Museum atau dapat melalui akun Twitter @museum_weekend. Untuk nonton, Anda hanya perlu membayar tiket masuk ke museum Rp 5000/orang. Selain nonton Teater Koma, Anda juga dapat berkeliling museum.
Ayo, gowes sepeda atau langkahkan kaki di hari Minggu ke Museum Nasional Indonesia. Rasakan pengalaman berbeda menikmati museum. (Aria Sankhyaadi, Syanella Aprilia)