Minggu, 19 April 2026

Keluhan Anna Selalu Dicueki Dokter Bedah RSUP Persahabatan

Anna Marlina Simanungkalit (38) meninggal di Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur, 23 Maret 2013 silam, usai dua kali operasi di lehernya.

|

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Budi Sam Law Malau

Pulogadung, Wartakotalive.com


Anna Marlina Simanungkalit (38) meninggal di Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta Timur, 23 Maret 2013 silam, usai dua kali operasi di lehernya. Usai operasi pertama, Anna berulang kali mengeluhkan rasa sakit di leher, sampai dada hingga menembus ke punggungnya.

Keluhan Anna ini selalu diungkapkan ke suaminya, Pandapotan Manurung (41) yang meneruskan ke dokter bedah, dr Budi Harapan Siregar. Namun, keluhan Anna tidak digubris sang dokter. "Katanya (dokter) itu biasa kalau habis operasi," kata Pandapotan di kediaman orang tuanya di Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Senin (23/4 malam.

Selain itu, kata Pandapotan, ia menilai perawat di RSUP Persahabatan mengambil tindakan yang seharusnya hanya boleh dilakukan dokter. "Istri saya sempat mengeluhkan panas di leher. Saya melihat selang infus di dada istri saya terlepas dan tiba-tiba perawat memasang kembali selang itu, namun dipindahkan ke tangan," kata Pandapotan.

Dengan tindakan yang tak wajar itu, Pandapotan menanyakannya ke sang perawat. "Dia cuma bilang tidak apa-apa kok pak. Alasannya sama saja. Karena selang dipasang di dada kan agar proses masuknya obat ke tubuh lebih cepat diserap, dan dipindahkan ke tangan tak kan ada masalah," kata Pandapotan.

Kronologis


Sebelumnya, kata Pandapotan, pada 13 Maret 2013 pagi, dr Budi yang mengoperasi, mengatakan hal mengejutkan. Pembengkakan dan rasa sakit di leher Anna usai operasi pertama gara-gara ada bekuan darah yang menutup saluran tiroid yang diangkat. Karena itu, Anna harus dioperasi ulang.

Pandapotan mengaku terkejut dengan pernyataan dokter. Sekitar pukul 12.30 WIB di hari sama, ia menemui dr Budi untuk diberi penjelasan terkait operasi ulang itu. Hal yang diungkapkan kembali mengejutkan. Kata sang dokter, tiroid sudah menjadi kanker ganas dan telah melilit saluran pernapasan Anna.

"Sehingga, saat operasi pertama, saluran makan di leher Anna yang dikatakan sudah lemah, akhirnya menipis dan sobek. Saya kaget. Kenapa dalam jangka waktu berdekatan, penjelasan dokter berbeda jauh. Saya bilang sama dokternya, pokoknya saya tak mau tahu. Saya mau istri saya selamat," kata Pandapotan.

Saat itulah Anna menjalani operasi keduanya. Menurut Pandapotan, usai operasi, Anna menjalani perawatan di ICU dan masih mengalami demam 37 hingga 39 derajat celsius.
Beberapa hari kemudian, kondisi Anna membaik. Selang alat bantu pernapasan dilepas dan ia bisa berbicara sedikit meski pelan.

Pada Jumat 22 Maret 2013, kata Pandapotan dokter menyetujui pemindahan Anna dari ICU ke ruang rawat inap, meski suhu tubuhnya belum stabil benar. Lalu pada Sabtu 23 Maret 2013, dokter Budi datang ke ruang rawat inap untuk mengganti perban di leher Anna.

Seusai perawatan, kata Pandapotan, dokter mengatakan nantinya pasien akan menerima pemasangan selang melalui kulit perut menuju lambung hingga pasien bisa dirawat jalan. Menurut Pandapotan, jika itu adalah yang terbaik bagi istrinya, ia setuju.

Sekitar 10 menit usai penjelasan dokter, kondisi Anna kritis. Seluruh tubuhnya menggigil dan suhu badannya tinggi. Bahkan, mulut Anna bergetar hingga Pandapotan khawatir lidah sang istri tergigit. Dokter pun memasukkan Anna kembali ke ruangan ICU.

Salah seorang dokter sempat meminta izin Pandapotan untuk memindahkan selang alat bantu supply obat ke organ tubuh dari dada kanan ke dada kiri pasien. Potan pun mengiyakan pasrah.

"Pukul 12.50 WIB, saya disuruh menebus resep, tapi saat kembali ke ICU, saya lihat dokter lagi menekan dada istri saya, langsung saya histeris berteriak keras sekali di situ. Istri saya meninggal," kata Pandapotan.

Pandapotan mengaku kesal menghadapi situasi itu dan penanganan dokter pada istrinya. Anna kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved