Senin, 13 April 2026

Sosok Muda

Kirana Kejora, Berhenti Menulis Sama Dengan Mati

“Saya selalu tertantang untuk melahirkan karya yang harus lebih bagus dari hari ke hari dengan melihat, memandang serta berkolaborasi dengan lingkungan-lingkungan baru, utamanya anak-anak kaum marjinal.”

|
MENULIS adalah darah daging bagi seorang Kirana Kejora, perempuan asal Jawa Timur yang telah menerbitkan banyak karya ini. Itu kenapa sampai sekarang dia masih eksis untuk berkarya, menghidupi ‘darah daging’ yang sudah terlanjur menyatu dengan dirinya. Baginya, menulis itu obat sakit jiwa sang penulis, lalu disebarkan kepada para pembaca.
 
Kirana Kejora lahir di Ngawi 2 Februari 1972. Darah yang mengalir padanya, adalah darah seni. Kata dia, darah seni mengalir dari eyangnya, seorang Warok Ponorogo dan pemilik Reog. “Sejak kecil menulis sudah menjadi passionku, menulis diary sejak umurku masih 9 tahun sampai sekarang,” ujarnya saat berbincang dengan Wartakotalive.com. Saat ini, dia dikenal sebagai penulis novel selain menjadi seorang penyair.
 
Semuanya mungkin akan sepakat jika menyebut seorang penulis novel mempunyai tingkat kepekaan yang tinggi, baik dengan keadaan di sekitarnya, lingkungan sosial atau apapun yang bisa dia lihat, dengar dan rasakan. Sebab, kepekaan itulah yang kemudian akan menjadi ruh sebuah tulisan.
 
Begitu pula dengan Kirana. Kepekaan menurutnya bisa menjadi salah satu kekuatan menjaga eksistensinya dalam menulis. “Menjaga eksistensi tentu harus tetap mau mendengar, melihat  dan merasakan kondisi kini, agar tulisan kita bisa member dan tidak terkesan egois. Karena, pada dasarnya, penulis itu ada sifat ego-nya, cenderung autis,” ungkap penulis novel Bintang Anak Tuhan ini. 
 
Pertanyaannya, bagaimanakah sifat autis itu bisa berubah menjadi sifat jenius, memberi dengan cara sederhana namun tetap memikat pembaca? Kata Kirana, kuncinya adalah dengan mengasah secara terus menerus cara berpikir dan cerdas menyikapi kondisi.
 
Menulis adalah tuntunan, bukan tuntutan
 
Menulis adalah tuntunan jiwa, bukan tuntutan, begitu kata Kirana. Sebab, menurutnya, jika tuntutan lebih terkesan menekan atau memaksa, namun dengan mengartikannya sebagai tuntunan, dengan ini berarti menulis harus dilakukan di manapun dan kapanpun.
 
Soal mood, Kirana mengaku hal tersebut pasti akan selalu ada jika seseorang telah menetapkan hatinya menjadi seorang penulis. “Jika sudah memilih menjadi penulis, menyediakan waktu sangat mudah,”kata dia yang telah memutuskan untuk menjadi penulis full time sejak 2004.
 
“Bagi saya, seorang penulis, juga harus banyak membaca dan melihat ke lingkungan sekitar. Artinya, seorang penulis harus mau melihat, mendengar, merasakan. Sedangkan modal utamanya adalah berani, berani dicaci maki, itu saja. Jika ada pujian, anggap saja itu hanya bonus.”
 
Kirana mengungkapkan, dalam setiap menulis, dia juga menjadikan keluarganya sebagai inspirasi. “Mungkin ada waktu di mana saya tidak bisa menulis, yaitu saat sedang bersama anak-anak. Tapi justru saya bisa mengambil energy dari mereka, untuk semakin menulis yang lebih bagus, di kesempatan lain. Toh, tulisan saya juga buat mereka,” Kirana menambahkan.
 
Selain itu, hal-hal lain yang dia temui di lingkungan masyarakat, juga bisa menjadi inspirasi. Misalnya, soal perhatiannya terhadap nasib para kaum marjinal. “Saya selalu tertantang untuk melahirkan karya yang harus lebih bagus dari hari ke hari dengan melihat, memandang serta berkolaborasi dengan lingkungan-lingkungan baru, utamanya anak-anak kaum marjinal.”
 
Hal ini, dibuktikan dengan beberapa karya dia yang sangat kental dengan tema-tema sosial. Misalnya, saat menulis novel Bintang Anak Tuhan, dia bergaul dengan para Odha. Saat menulis Air Mata Terakhir Bunda, dia bergaul dengan korban lumpur. “Termasuk saya sendiri di sini, belajar banyak dari bencana tersebut.”
 
Saat menulis Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (AMTA) yang akan terbit dalam waktu dekat ini, dia belajar banyak dari para penderita kanker, selain dia juga melihat para single dad yang hebat.  Lalu saat menulis Kenang Langit, sebuah novel yang juga akan segera terbit, Kirana bergaul dengan anak-anak retardasi mental, belajar sabar dengan mereka. Kemudian, sebuah novel yang sedang digarapnya berjudul Pencarian Cinta Terakhir, dia juga belajar dari bagaimana sifat saudara kembar non identik.
 
Berhenti menulis sama dengan mati
 
Di usianya yang menjelang 41 tahun, Kirana Kejora masih terus produktif melahirkan karya. Ya karena itu tadi, menulis adalah darah gadingnya, otomatis setiap saat dia harus terus menulis agar agar ‘bisa hidup’.
 
“Saat saya menulis novel ELANG dulu selama 3 tahun, banyak orang heran apa kirana punay Jin yang membantu menulis, karena mereka melihat aku kok bisa produktif sekali,” Kirana berkisah. “He he he, saya tertawa. Ya saya banyak dibantu Tuhan untuk menulis. Bersyukur tiap saat saya selalu bisa membangun mood baik buat menulis dan sangat cepat mengadaptasi sebuah energy ke tulisan. Sekali lagi, menulis itu sudah menjadi darah daging. Ketika saya berhenti menulis, artinya saya telah selesai, tak bernafas dan mati.”
 
Ditanya mengenai karya yang paling berkesan baginya, Kirana menyebut bahwa novel ELANG menjadi salah satu hasil tulisannya yang memiliki kesan mendalam. 
 
“Sebenarnya semua karya akan menemui takdirnya sendiri-sendiri. Tapi, sejauh ini, jujur meski belum difilmkan, karya saya yang paling berkesan adalah ELANG.  Tiga tahun saya menulis naskah Elang dengan melibatkan rasa lahir batin, logika dan pergulatan hati dengan sang kembar Elang Laut dan Elang timur (nama dua tokoh dalam novel), dimana ELANG menjadi dasar pemikiran saya menulis apapun setelah itu,” jelas mantan staff pengajar Universitas Hang Tuah, Surabaya.
 
Selain menulis novel dan membuat syair, Kirana juga menulis naskah scenario untuk film, baik untuk layar lebar maupun televisi. Beberapa naskah skenario layar lebar yang pernah dibuat ibu dua orang anak ini adalah Ketika Cinta Memilih, Hidup Itu Biutipul, Munajat Cinta Sang Gibran dan Hasduk Berpola. Kirana juga sering diundang menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan seperti seminar dan workshop penulisan dan pementasan karya-karya puisi di berbagai kota.
 
“Saya ingin semua novel saya bisa menjadi film.  Karena, media visual hingga kini masih menjadi media yang sukses menebar virus inspiratif. Semoga setelah film yang saya tulis, Hasduk Berpola, yang akan tayang 21 Maret di bioskop, menyusul film based on novel Air Mata Terakhir Bunda, novel-novel saya yang lain juga akan jadi film yang bisa memberi, mengubah, menggugah dan menggugat keadaan negeri ini,” Kirana mengakhiri.
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved