Gentongan Jadi Kebanggaan Madura
Mungkin dari sebagian besar kita tidak terlalu mengenal dengan Batik Madura. Jika dibandingkan dengan batik dari Solo, Pekalongan, bisa dikatakan batik dari Madura ini tidaklah terlalu populer.
Semenjak keberadaan batik dinyatakan Unesco sebagai Intangibel Cultural Heritage of Humanity sehingga lebih dikenal di manca negara. Maka hal itu juga yang membuat para perajin batik mulai giat kembali menciptakan karya-karyanya. Termasuk pula pembatik di Madura.
Batik Madura dapat digolongkan sebagai batik pesisiran seperti juga Cirebon, Indramayu, Pekalongan, Lasem dan lainnya. Sedangkan secara khusus batik Solo dan Jogjakarta.
Menurut pengamat batik, Judy Triani Sumarsono, diantara batik pesisiran masing-masing mempunyai ciri khas. Seperti unsur ragam hiasnya tampak persamaan, terutama dalam hal mendapat pengaruh dari India, Cina, dan Eropa. Persamaan yang paling menonjol pada batik pesisiran, dalam hal penggunaan warna terutama warna yang cerah dan dinamis.
"Batik Madura hingga kini masih mempertahankan bahan pewarna alam dengan warna khas seperti merah hati, biru tua, kuning, hijau dan kombinasi dari berbagai warna yang terang dan dinamis," ujarnya.
Ada dua wilayah batik Madura yang secara tradisional mempunyai kemahiran membatik yang diwariskan turun temurun, yaitu wilayah batik di daerah pantai seperti Tanjungbumi, Paseseh dan Telagabiru dan wilayah pedalaman seperti Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Masing-masing daerah juga memiliki kekhasan motif dan warna yang berbeda.
Tetapi kalau mencari batik di Sumenep untuk saat ini akan sulit ditemukan. Karena menurut Hasnah Gasim, kolektor batik Madura, Sumenep dulunya adalah kerajaan sehingga jarang ada yang mau membuat batik. Mereka masih menganggap sebagai keturunan keluarga raja dan orangnya pun halus.
"Berbeda dengan daerah Bangkalan dan Pamekasan, keduanya masih mempertahankan batik. Perbedaannya di Bangkalan motifnya tidak banyak berubah sedangkan di Pamekasan warna dan motif banyak yang berubah," jelas Hasnah yang asli Pamekasan ini.
Mengenai warna, imbuh Hasnah, pada dasarnya batik Madura suka dengan warna yang pekat. Batik Sampang dominan dengan coklat sogan, batik Bangkalan dominan dengan merah, hijau dan biru, Pamekasan khas dengan merah dan coklat dan pada perkembangannya mereka juga membuat warna sesuai dengan pesanan pasar seperti putih dan hitam.
Dalam hal corak motif juga punya ciri khas tersendiri seperti Sampang, Pamekasan dan Sumenep, coraknya banyak dipengaruhi oleh batik Solo dan Yogyakarta. Pengaruh dari luar pun juga tampak pada motifnya seperti ragam hias Buket, Sekar Jagad berasal dari Belanda. Ragam hias naga, burung hong pengaruh dari Cina.
Dalam melukiskan motif tersebut tampak seperti yang dilihat sehari-hari seperti motif burung, ayam bekisar, perahu, sendok nasi disebut tong centong), mangkok tempat buah disebut si basi.
"Pada dasarnya penamaan batik itu bisa berdasarkan latar atau esen, fungsinya, seperti gendongan, motif bunga seperti bang tanjung (bunga tanjung), dan warna disebut dengan barnaan," imbuh Judy, lulusan desain tekstil dari ITB ini.
Ciri khas batik Madura dalam menggambar ragam hias di atas kain mori tanpa menggunakan mal atau tanpa menjiplak patroon. Mereka langsung menggambar motifnya dengan canting. Karena itu ketepatan dalam pengulangan ragam hias tidak ada, sebab memang sulit dilakukan karena tidak memakai patroon.
Batik Gentongan
Pada saat ini hampir semua batik yang halus di Bangkalan memakai warna alam yang dikenal dengan batik Gentongan. Pengerjaannya cukup rumit dan lama. Setidaknya dibutuhkan waktu tiga bulan hingga satu tahun untuk membuat satu lembar batik gentongan. "Ada gentongan penuh yang cukup lama direndam di gentong tapi ada juga yang separuh bila direndam tidak lama," jelas Hasnah.
Sesuai namanya, pewarnaan batik gentongan dilakukan dalam gentong tanah. Pewarna yang digunakan berasal dari bahan?bahan alami seperti daun atau buah?buahan, sehingga harus melalui pencelupan berkali?kali.
Kain direndam dalam gentong kemudian dipendam di dalam tanah selama sehari semalam. Proses pewarnaan ini diulangi setiap hari hingga mendapatkan warna yang diinginkan. Prosesnya bisa memakan waktu sampai tiga bulan. Proses pencelupan bisa sampai 30 kali. Dengan harga yang tidak murah,batik ini selalu dicari oleh para kolektor batik
Karena prosesnya rumit dan lama, sebagian perajin meninggalkan tradisi membuat batik gentongan. Mereka memilih menggunakan pewarna sintetis yang bisa memproduksi batik secara massal dalam waktu singkat.
| Proses pembuatan batik gentongan |
|
1. Proses Leccak Proses awal batik dengan cara mencelupkan kain putih ke dalam cairan campuran minyak nyamplong dan air abu tomang. Proses ini memakan waktu 2 bulan. Tujuannya untuk melembutkan kain, mengharumkan, mempermudah proses pembatikan serta fungsi utamanya untuk memaksimalkan pengikatan warna oleh kain serat pewarnaan. 2. Proses Rengreng Proses menggambar motif batik pada kain yang sudah di leccak baik menggunakan pensil terlebih dahulu ataupun langsung di batik menggunakan malam. Proses ini membutuhkan 3-7 hari. 3. Proses essean/isen Mengisi motif yang telah direngreng. Proses ini memakan waktu sekitar 1 bulan tergantung tingkat kehalusan motif batik yang diinginkan. 4. Proses nembok Proses menutup motif batik yang tidak ingin diwarnai warna yang pertama. Proses ini memakan waktu sekitar 3-7 hari. 5. Proses gentongan untuk tahap pertama Proses pewarnaan kain di dalam gentong yang berisi cairan pewarna alam. Kain direndam di dalam gentong selama satu hari penuh, kemudian kain diangkat, disikat dan ditiriskan. Setelah itu kain diangin-anginkan tapi tidak sampai kering. Kemudian dimasukkan lagi ke dalam gentong selama 1 hari lagi. Proses ini dilakukan setiap hari selama kurang lebih 3 bulan sampai didapatkan tingkat warna yang diinginkan. 6. Proses leret pertama Merebus kain yang telah diwarnai di dalam gentong, direbus di dalam air panas yang sudah dicampur tepung kanji sampai malamnya bersih. 7. Proses pembatikan Proses membatik lagi kain yang telah diwarnai di dalam gentong, baik yang masih berwarna putih (hasil proses tembok sehingga aja didapatkan warna kedua) maupun yang sudah berwarna sehingga warna yang pertama masih tetap ada denga motif yang diinginkan. 8. Proses gentongan untuk warna kedua Proses ini sama seperti proses gentongan untuk warna yang pertama 9. Proses lorot kedua Proses ini sama saja seperti pada proses lorot pertama |