Valentine 2013
Gadis Bernama Maria
Wiyatri mengernyitkan dahi dan berkata, “Sebelum anak saya meninggal, dia mengatakan ingin menikah dengan Maria. Apakah Maria anak ibu?”.
|
JAM menunjukkan tepat pukul 18.00. Terdengar sayup-sayup adzan Maghrib dari masjid yang terletak di mulut gang Seroja. Dengan gontai, laki-laki itu menyusuri gang yang terlihat sepi, hanya suara jangkrik terdengar saling bersahutan. Saat tiba di depan perlintasan kereta api, ia menghentikan langkahnya, memastikan tak ada kereta yang lewat saat itu. Alvian Pramadi, nama lelaki itu. Kini, ia tengah dirundung rasa bersalah yang membuatnya seakan menjadi manusia paling berdosa di dunia.
Beberapa jam yang lalu, Alvian memutuskan untuk mengakhiri tali kasih yang telah ia rajut selama enam tahun bersama wanita bernama Kiara. Terbayang bagaimana Kiara menangis histeris karena tak terima dengan keputusan Alvian yang dinilainya dibuat secara sepihak. Apalagi, bulan depan Alvian berencana akan melamar Kiara.
Segala cacian keluar dari mulut wanita itu dan mau tak mau, Alvian harus menerimanya. Semua itu dilakukan Alvian demi seorang gadis yang ia kenal setahun yang lalu. Gadis yang telah menjerat hatinya dengan kelembutan hati dan kecantikannya. Kecantikan yang memancarkan aura berbeda dan belum pernah Alvian temui sebelumnya selama tiga puluh tahun ia hidup di dunia ini.
***
Setahun yang lalu, tepat dua tahun setelah kepindahannya ke daerah itu, Alvian berkenalan dengan gadis bernama Maria. Awal perkenalan mereka terjadi ketika Alvian sedang melihat anak-anak kecil bermain bola di lapangan dekat rumahnya. Saat itu, Alvian sedang duduk di kursi kayu panjang yang terletak di bawah pohon jambu air sambil menikmati angin semilir.
Selang beberapa saat, sebuah suara lembut menegurnya “Hai, boleh aku duduk disini?” tanya gadis itu sembari membersihkan bagian kursi yang akan didudukinya. “Silahkan.” jawab Alvian dengan nada kaget bercampur kagum. Selama tinggal di daerah itu, belum pernah ia melihat gadis ini. Matanya berwarna coklat dengan hidungnya yang mbangir, ditambah lagi dengan adanya lesung pipi, membuat ia makin terlihat cantik. Rambut sebahu, keriting, dan berwarna pirang, kontras dengan kulitnya yang putih. Persis seperti noni-noni Belanda di zaman kolonial.
“Perkenalkan, aku Maria. Pasti kamu orang baru ya disini?” Maria memulai perkenalan itu. “Aku tinggal di rumah nomor 28 dekat masjid sana,” lanjutnya.
“Aku Alvian, aku tinggal disitu.” Alvian menunjuk rumah beraksen betawi yang letaknya tidak terlalu jauh dari lapangan bola. Alvian masih terdiam mengagumi kecantikan Maria. Mereka pun terlibat dalam obrolan ringan sampai-sampai tak terasa sudah tiba waktunya sang mentari untuk kembali ke peraduannya.
“Hari sudah senja, aku harus cepat-cepat pulang. Senang bisa berkenalan denganmu. Oh iya, aku mohon jangan pernah tanyakan keberadaanku pada siapapun. Terutama ibuku. Pasti ia akan marah karena ia melarangku untuk berhubungan dengan orang di sekitar sini. Kamu mau kan berjanji padaku?” Maria berkata dengan nada serius.
“Baiklah, aku berjanji.” balas Alvian sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya. Maria tersenyum puas dan segera pergi sambil melambaikan tangannya. Alvian balas melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Sore itu, seperti hari-hari biasanya, anak-anak sedang bermain bola. Kondisi lapangan yang becek akibat guyuran hujan semalam, tidak menghalangi mereka untuk tetap bermain. Gelak tawa muncul ketika Alvian melihat beberapa anak saling merebut bola kemudian terpeleset. Memang di sore ketika akhir pekan seperti inilah, Alvian biasa bertemu Maria, di lapangan bola tempat mereka pertama kali berjumpa.
Hubungan mereka bisa dikatakan makin dekat, bebagai cerita telah mereka bagikan satu sama lain mulai dari masalah keluarga, hobi, sampai pekerjaan mereka. Sama seperti apa yang dilakukan dua orang anak manusia berbeda jenis ketika mereka melakukan pendekatan karena dirasa cinta mulai tumbuh di antara keduanya. Ketika Alvian tertawa melihat seorang anak berlumuran tanah saat terjatuh, Maria sudah duduk di sampingnya. Kala itu, ia menggunakan maxi dress berwarna putih dan scraft biru muda yang melingkar di lehernya, membuat ia tampak anggun dan makin cantik.
Seperti biasa, mereka membicarakan kegiatan selama seminggu terakhir dan akhirnya pembicaraan pun tiba pada topik yang cukup sensitif bagi mereka, apalagi kalau bukan menyangkut masalah percintaan. Terpaksa Alvian berbohong saat itu dengan mengaku dirinya belum memiliki kekasih. Tiba giliran Maria membagi kisah cintanya.
Ia bercerita bahwa perjalanan cintanya harus kandas di tengah jalan akibat sang kekasih, Theo, memutuskan akan menikah dengan wanita lain. Ketika Maria tengah bercerita, seorang anak kecil berlari ke arah Alvian untuk mengambil bola yang keluar lapangan. Anak itu memandanginya dengan aneh sambil menggelengkan kepalanya. Alvian menyadari hal itu, tapi ia lebih memilih untuk mendengarkan cerita Maria.
***
Setelah tiba di rumah Alvian bergegas membersihkan tubuhnya. Malam itu, ia bertekad akan menyampaikan keinginannya pada orang tuanya untuk meminang Maria. Alvian telah mengutarakan isi hatinya pada ayah dan ibunya. Tapi apa daya, sang ayah menolak mentah-mentah rencana pernikahan itu. Semua negosiasi dan bujukan telah dilontarkan Alvian, tapi hasilnya nihil. Alvian memutuskan untuk keluar rumah guna menenangkan pikiran. Namun, betapa kagetnya Alvian saat melihat Maria tengah berdiri di depan rumahnya. Malam itu, di bawah sinar lampu temaram, wajah Maria terlihat sangat pucat.
“Aku sudah mendengar semuanya. Ik houd van jou, Al, sinds onze eerste ontmoeting (aku mencintaimu, Al, sejak pertama kita bertemu).” Maria berkata sambil terisak dan berlari menuju jalan besar. “Maria tunggu!” teriak Alvian sambil mengejar Maria. Alvian merasa kelelahan. Beberapa meter sebelum melewati rel kereta, ia melihat Maria berlari semakin jauh. Tiba-tiba, dari arah barat, sebuah kereta melaju dengan cepat tanpa bisa dihindari Alvian.
***
Sebuah bendera kuning terpasang di depan rumah Alvian. Sesaat setelah acara pemakaman, seorang perempuan berbadan gemuk dengan wajah blasteran menghampiri Wiyatri, ibunda Alvian.
“Maaf bu Wiyatri, saya baru bisa datang sekarang,” ujar perempuan itu dengan takzim.
“Terima kasih. Ibu siapa ya?” tanya Wiyatri dengan nada lirih dan senyum yang dipaksakan.
“Saya Elisa yang tinggal di rumah nomor 28 dekat masjid.” balas Elisa sembari tersenyum. Wiyatri mengernyitkan dahi dan berkata, “Sebelum anak saya meninggal, dia mengatakan ingin menikah dengan Maria. Apakah Maria anak ibu?”. Mendengar perkataan Wiyatri, Elisa tersentak kaget.
“Maria memang anak saya, Bu, tapi mustahil jika anak ibu ingin menikah dengan anak saya. Maria sudah meninggal lima tahun yang lalu.” Elisa menjelaskan dengan keheranan. “Maria meninggal tertabrak kereta setelah kekasihnya memutuskan hubungan mereka. Padahal, saat itu mereka akan bertunangan.” imbuhnya.
Lutut Wiyatri terasa lemas seketika, pandangannya kabur dan lama-kelamaan menjadi gelap. Rasa pening yang luar biasa menjalar di kepalanya. Ia tak menyangka selama ini, Alvian, anak lelaki semata wayang yang menjadi kebanggaannya telah mengenal seorang gadis bernama Maria.
Cerita pendek kiriman dari:
Radian Nyi Sukmasari
Penulis, Mahasiswi