Soto Betawi Ekstra Sumsum
Sebagai bagian dari budaya masyarakat Tionghoa yang gemar mencicipi makanan, tak aneh jika warisan kuliner di pecinan begitu kaya. Makanan yang mengadopsi penganan betawi juga bertebaran di sana.
Berdagang buah di Glodok sudah ia lakoni sejak tahun 1975. Pada tahun 1982 ia banting setir berdagang makanan. "Saya harus banting setir karena untuk dagang buah saingan makin berat, modal harus gede. Akhirnya setelah ngobrol- ngobrol sama suami, jadi deh saya jual makanan. Saya kepaksa masak," begitu pengakuan ibu dari Dessy, Yustina, dan Hendri ini.
Perlu dua tahun hingga akhirnya Afung menemukan 'jalan hidupnya' pada soto betawi dengan rasa yang ala Afung. Istri Hiu Sung Sen atau biasa dipanggil Ko Afung ini akhirnya bisa melupakan bisnis buah. Kini ia konsentrasi pada soto betawi saja. "Pelanggan saya udah turun temurun. Soto saya sering dibawa ke luar kota, bahkan luar negeri. Udah banyak yang cocok sama rasa soto betawi saya. Jadi saya ngurus ini aja," tutur Afung.
Yustina, putri kedua, adalah calon penerus bisnis ini. Meski Yustina sudah mulai ikut mengelola dan menyiapkan menu tapi resep masih di tangan Afung. Resep baru akan diturunkan pada saatnya nanti jika Yustina sudah siap.
"Makanya kalau sekarang saya ditanya apakah mau buka cabang, saya jawab, enggak. Kecuali anak-anak yang mau pegang. Jadi sementara ya di sini aja. Pelanggan juga dari mana-mana tahunya warung saya di sini," ucap Afung mantap.