JELAJAH MUSEUM
Tak Terima Tertindas, Haji Prawatasari Pimpin Gerilya
PADA 1690, Bupati CianjurWiratama II secara resmi Cianjur mengakui kekuasaan VOC (Vereenigde Oost indische Compagnie atau Maskapai Dagang Hindia Timur).
PADA 1690, Bupati CianjurWiratama II secara resmi Cianjur mengakui kekuasaan VOC (Vereenigde Oost indische Compagnie atau Maskapai Dagang Hindia Timur). Pengakuan tersebut otomatis membuat posisi tawar Cianjur secara politik jatuh di mata VOC. Sebagai organisasi kapitalis pertama dan terbesar pada zamannya, VOC sebisa mungkin mengeksploitasi daerah taklukan mereka secara maksimal
Apa yang dilakukan oleh Bupati Wiratama II ini menimbulkan rasa tidak senang hati dari para penduduk. Keadaan itu memuncak setelah bupati menerima kewajiban tanam kopi secara paksa berdasarkan Priangan Stelsel yang diberlakukan sejak 1677 serta memberlakukan kerja paksa (rodi) pembangunan sarana infrastruktur seperti jalan dan gedung dagang,. Oleh karena dikerahkan secara paksa, penduduk melakukan perlawanan.
Seorang ulama bernama Raden Alit atau kemudian lebih dikenal dengan sebutan Haji Prawatasari bersama pengikutnya melancarkan perlawanan sejak bulan Maret 1703.
Mula-mula mereka menyerang asrama Kompeni di Cianjur dan pada tahun 1704 menyerang beberapa tempat di Priangan Timur, yaitu Galuh, Imbanegara dan Kawasan. Sesekali mereka juga menjalankan aksi hit and run mereka di sekitar Batavia.
Prawatasari beserta pengikutnya kemudian memindahkan daerah perlawanannya dari Jampang , Cianjur ke daerah muara Citanduy.
Kenyataan itu membuat VOC sama sekali tidak nyaman. Mereka lantas membentuk sebuah ekspedisi militer dengan kekuatan 2 bataliyon (terdiri dari serdadu lokal dan sebagian kecil bule) pimpinan Pieter Scorpoi untuk menyerang Jampang.Baru sampai Cianjur, konvoi para serdadu tersebut dicegat sekaligus “dihabisi” oleh para gerilyawan Haji Prawatasari.
Maret 1704, para gerilyawan Haji Prawatasari mengepung Sumedang dan nyaris mengahancurkannya. Hingga Agustus 1705, tercatat 3 kali pasukan’ Robin Hood dari Tjiandjoer’ itu berhasil mengalahkan pasukan VOC.
Untuk mengenang kegigihan perjuangan Haji Prawatasari, Museum Keprajuritan Indonesia yang terletak di komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur telah mengabadikannya dengan sebuah patung yang terletak di area halaman tengah museum. Patung Haji Prawatasari tersebut berjejer dengan beberapa patung pahlawan lain seperti Tuanku Imam Bonjol, Sultan mahmud Badaruddin, Nyi Ageng Serang dan lain-lain.