Senin, 1 Juni 2026

Natal dan Tahun Baru 2013

Pendeta Rubin: Natal adalah Berbahaya

Ada pemikiran mendalam, sebelum kata-kata itu keluar dari mulut Pendeta Rubin Ong dalam khotbahnya. Bagaimana penjelasannya?

Tayang: | Diperbarui:

JUDUL di atas mungkin menjadi tanda tanya bagi umat Kristiani yang merayakan Natal. Tetapi sebenarnya ada pemikiran mendalam, sebelum kata-kata itu keluar dari mulut Pendeta Rubin Ong, dalam khotbahnya, menjelang hari raya Natal 2012, beberapa waktu lalu di Gereja Duta Injil, Ambasador, Kuningan, Jakarta Selatan.

"Christmas is Dangerous. Natal adalah berbahaya," begitu kalimat tegas dari Pdt Rubin, di depan ratusan jemaat yang hadir. Mendengar itu, mereka  tercengang.

Lalu, Pendeta menjelaskan:

"Ya, Natal menjadi berbahaya jika umat memaknainya hanya secara fisik. Natal kerap identik dengan sesuatu barang yang harus baru kita punyai saat merayakannya. Natal akhirnya menjadi materialisme belaka. "Ini yang terjadi beberapa tahun belakangan."

Apa yang diungkapkan Pendeta Rubin bukan tanpa alasan. Jika mau jujur, tidak sedikit umat yang kehilangan makna Natal sesungguhnya.

Natal sekedar diartikan barang baru dan berubah materialisme. Belum lagi banyak pusat perbelanjaan yang menawarkan diskon, cuci gudang, promo jelang setiap Natal dan Tahun Baru ini.

Bukan hanya bagi umat dan jemaat, Natal juga bisa sangat berbahaya bagi para Pendeta dan hamba Tuhan serta para gembala gereja. "Natal akan memberikan harapan semu," kata Rubin yang lagi-lagi kata-katanya seakan menampar wajah jemaat.

Apa alasannya? Menurut PendetanRubin, di hari Natal, umat Kristen akan berbondong-bondong datang ke gereja. Bahkan beberapa gereja harus membuat tenda besar, karena umat yang datang melebihi kapasitas gereja.

Di beberapa gereja umat yang datang mencapai ribuan dan bisa sepuluh kali lipat dibanding hari biasa. Dengan kehadiran jemaat yang begitu banyak, kata Pendeta Rubin, para pendeta dan gembala bisa terjebak dan berpikir bahwa mereka sudah berhasil mengabarkan injil pada orang banyak.

"Tapi nyatanya, sekali lagi, itu harapan semu," kata Pendeta Rubin.

Usai Natal, lanjut Rubin, gereja kembali sepi. Ini pertanda, Natal tidak bisa memberikan apa-apa dan bagi sebagian umat hanyalah dianggap satu momen perayaan biasa.

Karenanya Pendeta memberi kritik pada gereja yang hanya menghadirkan Natal namun kehilangan esensinya. "Karena kehilangan esensi, sehingga eksistensinya tidak akan kuat. Banyak gereja mengganti esensi dengan figur, dengan acara dan dengan pendeta yang dianggap ngetop, atau bahkan diganti dengan kemegahan gereja," kata Pendeta Rubin.

Lalu apa esensi Natal sesungguhnya.

Pendeta Rubin lalu mengutip Injil Yohanes Pasal 1: 14-16. Dalam Injil itu disebutkan bahwa kelahiran Yesus atau Natal merupakan pertanda bahwa Firman telah menjadi manusia. "Kita urai sedikit-demi sedikit. Tarik saja makna natal. Bahwa firman teraplikasi menjadi daging," kata Pendeta Rubin.

Hal ini adalah proses yang tidak mudah. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. "Aneh banget, mengherankan, gak masuk akal, imposible," kata Rubin.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved