Minggu, 19 April 2026

Para Ibu Ketakutan Anaknya Seperti Adam Lanza

APA yang menyebabkan tragedi penembakan massal, seperti yang terjadi di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Jumat (14/12), sering terjadi di AS?

|

Newton, Wartakotalive.com

APA yang menyebabkan tragedi penembakan massal, seperti yang terjadi di Sekolah Dasar Sandy Hook di Newtown, Jumat (14/12), sering terjadi di AS? Kepemilikan senjata yang luaskah atau atau masyarakat negara itu tengah menderita sakit mental akut?

Adam Lanza si pelaku penembakan itu disebut-sebut menderita sebuah kelainan yang masuk dalam spektrum autis. Ibunya, Nancy Lanza, yang menjadi korban pertama Adam, disebutkan oleh teman-temannya kewalahan menangani Adam. Dia mohon bantuan.

Lisa Long, seorang pengarang dan musisi, yang juga ibu tunggal dari empat orang anak, dan salah satunya berkebutuhan khusus, menulis kisahnya di sebuah blog tentang anaknya yang berpontesi menjadi Adam Lanza berikutnya. Demikian kisahnya sebagaimana dilansir Kompas.com.

Tiga hari sebelum Adam Lanza (20 tahun) membunuh ibunya, lalu menyerbu sebuah kelas TK di Connecticut, putra saya yang berusia 13 tahun, Michael (bukan nama sebenarnya), ketinggalan bus karena dia mengenakan celana yang warnanya tidak sesuai dengan aturan sekolah.

"Saya bisa pakai celana ini," katanya. Nadanya agresif, matanya membelalak hitam. "Itu warna biru tua," kata saya. "Aturan seragam sekolahmu mengatakan celana hitam atau khaki saja." "Mereka bilang saya bisa pakai ini," katanya. "Kamu perempuan jalang. Saya bisa pakai celana apapun yang saya mau. Ini Amerika. Saya punya hak!"

"Kamu tidak bisa pakai celana apapun sesukamu, dan kamu tidak boleh memanggil saya perempuan jalang. Kamu tidak boleh menikmati barang-barang elektronik selama hari ini. Sekarang masuk ke mobil. Saya akan antar kamu ke sekolah," kata saya dengan nada ramah.

Saya tinggal bersama anak lelaki saya yang sakit secara mental. Saya mencintai putra saya tapi dia menakutkanku. Beberapa minggu lalu Michael mengambil pisau dan mengancam akan membunuh saya dan kemudian dirinya, setelah saya memintanya untuk mengembalikan buku perpustakaannya yang sudah terlambat dikembalikan.

Saudaranya yang berusia 7 dan 9 tahun sudah tahu bagaimana menyelamatkan diri. Mereka berlari ke mobil dan mengunci pintu sebelum saya meminta mereka. Saya berhasil meraih pisau itu dari Michael, lalu secara sistematis mengumpulkan semua benda tajam di rumah ke dalam sebuah wadah Tupperware tunggal yang sekarang selalu ada bersama saya. Karena semua itu, dia terus berteriak menghina saya dan mengancam akan membunuh atau menyakiti saya.

Kekacauan itu berakhir saat tiga petugas polisi yang kekar dan seorang paramedis membawa anak saya naik ambulans ke ruang gawat darurat setempat. Rumah sakit jiwa tidak punya tempat tidur kosong hari itu, tapi Michael kemudian menjadi tenang di UGD, sehingga mereka mengirim kami pulang dengan resep untuk Zyprexa. Seorang psikiater anak lokal mengunjungi kami kemudian.

Kami masih tidak tahu apa yang salah dengan Michael. Spektrum autisme, ADHD, Oppositional Defiant atau Intermittent Explosive Disorder semuanya telah diobservasi dalam berbagai pertemuan dengan para petugas probation, pekerja sosial, konselor, guru dan penyelenggara sekolah.

Saya berbagi kisah ini karena saya seorang ibu dari Adam Lanza. Saya ibu dari Dylan Klebold dan Eric Harris. Saya ibu dari Jason Holmes. Saya ibu Jared Loughner. Saya ibu dari Seung-Hui Cho. Dan anak-anak itu serta ibu mereka membutuhkan bantuan. Sangat mudah untuk membahas tentang senjata dalam tragedi semacam ini. Namun kini waktunya untuk berbicara tentang penyakit mental.

Ketika saya bertanya kepada pekerja sosial untuk anak saya tentang pilihan saya, dia mengatakan bahwa satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah membuat Michael dituduh melakukan kejahatan. "Tak seorang pun akan memperhatikan anda kecuali anda mempunya tuduhan." kata pekerja sosial itu.

Tidak ada yang ingin mengirim seorang bocah 13 tahun yang jenius yang mencintai Harry Potter dan koleksi hewannya ke penjara. Tapi masyarakat kita, dengan stigmanya terhadap penyakit mental dan sistem kesehatan yang rapuh, tidak memberikan kita pilihan lain. av

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved