JELAJAH MUSEUM
Yuk, Kenali Media Penerangan Tradisional
Pernahkah kita mengingat atau sekadar membayangkan bagaimana caranya para tokoh atau pemuka jaman dulu menyebarkan informasi atau pencerahan kepada masyarakat luas?
|
Penulis: Feryanto Hadi |
PERNAHKAH kita mengingat atau sekadar membayangkan bagaimana caranya para tokoh atau pemuka jaman dulu menyebarkan informasi atau pencerahan kepada masyarakat luas? Tentunya kondisi dulu tidak sama dengan kondisi sekarang dimana teknologi sudah maju.
Ternyata, banyak cara yang dilakukan untuk memberikan penerangan, menyebarkan informasi atau saat memberikan pengumuman kepada masyarakat, salah satu caranya adalah dengan menggunakan media tradisional seperti kentongan, dengan media wayang, dan sebagainya. Inilah yang setidaknya kami sadari kembali, setelah pada Jumat (14/12) kami berkunjung ke Museum Penerangan, di Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Pondok Gede, Jakarta Timur.
Seperti diketahui, masyarakat majemuk Indonesia yang terdiri dari beragam suku memiliki alat komunikasi tradisional dengan ciri khas masing-masing. Selain dengan kentongan atau wayang, ‘Mangkok Merah’ digunakan oleh Suku Dayak untuk menyebarkan informasi apabila sukunya berada dalam bahaya. Adapula ‘Tois’, terompet kulit karang ini digunakan sebagai alat komunikasi di Nusa Tenggara Timur.
Di lantai satu Museum Penerangan, kita bisa menyaksikan beragam alat-alat penerangan tradisional. Ada dua kentongan yang unik, yakni yang dinamai kentongan hijau. Kentongan ini dibuat oleh mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kentongan ini bentuknya sangat unik, kental dengan nuansa seni, maka maklum jika kentongan ini menjadi koleksi Museum Penerangan. Selanjutnya, ada juga kentongan yang tak kalah unik, yakni kentongan berukir dari Kabupaten Wonogiri. Ditengok sepintas, orang mungkin tidak sadar bahwa ini sebuah kentongan, karena bentuk kentongan ini sangat indah. Ukiran menyelimuti seluruh badannya.
Di tempat asalnya, khususnya di daerah Jawa, kentongan digunakan sebagai media menyampaikan informasi kepada masyarakat. Bisa berupa panggilan untuk berkumpul, penanda sebuah bahaya, penada kematian dan untuk memberitahukan informasi yang lain.
Biasanya, masyarakat sudah bisa tahu informasi apa yang disampaikan oleh kentongan itu, dengan menghitung berapa kali kentongan itu dipukul. Misalnya, jumlah pukulan berirama sebanyak tujuh kali, menandakan adanya kematian di kampung tersebut atau kentongan yang dipukul secara cepat dan berulang menandakan adanya bahaya, baik kebakaran maupun ada maling (pencuri).
Bisa juga digunakan sebagai penanda waktu, dilakukan oleh para peronda atau kentongan yang kerap digunakan penduduk untuk membangunkan masyarakat untuk bangun sahur, di bulan ramadhan. Hingga kini, di beberapa daerah kentongan juga masih berlaku, meski sudah ada pengeras suara.
Nah, informasi ini mungkin bisa bermanfaat bagi Anda, atau sekadar membawa Anda pada kenangan masa lampau, dimana budaya kentongan masih sangat karib dengan kehidupan masyarakat, dari dulu hingga sekarang.