Jelajah Museum

Wayang Ampuh Sebarkan Semangat

Dulu, wayang juga digunakan untuk menyebarkan semangat nasionalisme dan ajaran agama.

|

MEMBERIKAN informasi kepada masyarakat juga bisa dilakukan dengan menyelipkan pesan melalui cerita pewayangan. Cara ini sudah dilakukan sejak jaman dulu, saat wayang kulit digunakan sebagai media untuk menyebarkan ajaran agama.

Di Museum Penerangan, terdapat beberapa contoh wayang sebagai media penyebaran informasi maupun untuk memberikan penerangan kepada masyarakat luas. Salah satunya adalah Wayang Suluh, yang bentuknya, baik potongan maupun pakaian, mirip orang dalam kehidupan sehari-hari.

Wayang ini muncul pada masa perjuangan kemerdekaan. Antara 1945–1949. Wayang Suluh diartikan sebagai Wayang Penerangan, sedangkan makna kata suluh sendiri bisa pula dikatakan sebagai obor yang digunakan untuk alat penerangan di tempat gelap. Lazimnya, wayang suluh terbuat dari kulit kerbau dan dibuat pertama kali pada tahun 1947 oleh Departemen Penerangan Republik Indonesia.

Tujuan dari pembuatan wayang ini adalah untuk penyuluhan yang sifatnya propaganda perjuangan agar Bangsa Indonesia bersemangat berjuang dalam rangka mempertahankan kemerdekaaan RI. Wayang suluh dibuat berdasarkan tokoh-tokoh perjuangan, seperti Sukarno dan Hatta serta tokoh-tokoh asal Belanda

Jenis wayang kedua yang terdapat di Museum Penerangan adalah Wayang Wahono. Fungsi wayang ini untuk menyampaikan penerangan kepada masyarakat, terutama pemeluk agama islam. Ceritanya sendiri menjelaskan persatuan dan kesatuan dengan harapan agar umat Islam mampu lebih mendalami dan menghayati agamanya, serta waspada terhadap siapapun yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan.

Kemudian, ada Wayang Wahyu. Wayang Wahyu pertama kali digagas Booeder Timo Heus Wignyosubroto. Ia seorang pastur dari Surakarta, yang pernah menyaksikan pergelaran wayang kulit pada 13 Oktober 1957 di Himpunan Budaya Surakarta (HBS). Pertunjukan wayang yang ditontonnya waktu itu dibawakan dalang MM. Atmowijoyo dengan mengambil lakon ”Dawud Mendapat Wahyu Kraton” yang diambil dari dari kitab suci Perjanjian Lama.

Lakon maupun sumber dari wayang Wahyu dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru, dimana di dalamnya tertulis wahyu-wahyu atau firman-firman Tuhan. Cerita wayang kulit Wahyu dimulai dari Nabi Adam dan Siti Hawa yang berada di surga, diganggu oleh setan sehingga diturunkan ke dunia. Wayang ini dibuat untuk kepentingan visualisasi agama Katolik dan dipentaskan setiap hari besar Katolik.

Demikianlah, media wayang cukup ampuh digunakan untuk memberikan penerangan kepada masyarakat. Wayang, selain sebuah tontonan, juga bisa menjadi tuntutan, terkait dengan isi cerita yang sarat dengan makna.

Baca juga jelajah museum lainnya:

Ke TMII, Jangan Lupa Mengunjungi Museum Penerangan

Indahnya Biola WR. Supratman di Museum Sumpah Pemuda

Sejarah Bangunan Museum Sumpah Pemuda

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved