Pilpres 2019
Profesor UI dan LIPI Kritik Keras Jokowi Ajak Pendukung Pakai Putih-putih: Bisa Timbulkan Perpecahan
Ajakan Jokowi kepada pendukungnya untuk pakai pakaian putih-putih berpotensi menciptakan kekerasan dan persekusi saat hari pencoblosan.
Ajakan Jokowi kepada pendukungnya untuk pakai pakaian putih-putih berpotensi menciptakan kekerasan dan persekusi saat hari pencoblosan. Ajakan itu dinilai melanggar UU Pemilu.
Ajakan Presiden Joko Widodo alias Presiden Jokowi kepada pendukungnya untuk memakai baju putih pada 17 April 2019 dikritik dua guru besar.
Kedua guru besar atau profesor tersebut adalah Prof Dr Tamrin Tomagola dan Prof Syamsuddin Haris.
Tamrin Tomagola adalah guru besar sosiologi Universitas Indonesia sedangkan Syamsuddin Haris adalah guru besar politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Sebagai Calon Presiden Nomor 01, Presiden Jokowi ajak pendukungnya pakai kemeja putih pada hari pencoblosan, yakni Rabu (17/4/2019).
"Jangan lupa, saya ingatkan, tanggal 17 April itu kita pakai baju putih," ujar Jokowi seperti ditulis Kompas.com, Selasa (26/3/2019).
Ajakan itu Presiden Jokowi itu, dalam pandangan sosiolog Tamrin Tomagola, berpotensi memecah belah.
• Alur Penyelundupan Komodo ke Luar Negeri dan Titik Rawan Pencurian Komodo di Labuan Bajo
• Persija vs Kalteng Putra Dipadati Jakmania, Persija Tertinggal 0-1 Melalui Gol Kontroversial Wanggai
• Kebijakan Anies Makanan Sehat untuk Anak SD, Ada 29 Menu yang Bisa Dipilih
"Imbauan ini berpotensi memecah-belah dan meng-hadap-hadap-kan pemilih berbaju-putih dengan pemilih berbaju non-putih," tulis Tamrin Tomagola di akun twitternya, Rabu (27/3/2019).
Tamrin Tomagola justru mempertanyakan apakah Presiden Jokowi sadar bahwa ajakan tersebut juga bisa berujung terjadi konflik kekerasan.
Simak cuitan Tamrin Tomagola secara lengkap berikut ini.
• Survei Terbaru CSIS Jokowi-Maruf Menang di 8 Wilayah; Maruf Amin Bersyukur, Ini Daftar Lengkapnya
• Jawab Hoaks Azan Dilarang Berkumandang, Wiranto: Memangnya Jokowi Dewa?
Tamrin Tomagola @tamrintomagola Mar 27: Benarkah @jokowi imbau pendukungnya berbaju-putih saat ke TPS pada Rabu, 17 April 2019 ?
Imbauan ini berpotensi memecah-belah dan meng-hadap-hadap-kan pemilih berbaju-putih dgn pemilih berbaju non-putih. Sadarkah bhw polarisasi hitam-putih berujung konflik-kekerasan?
Cuitan Tamrin Tomagola itu kemudian mendapat komentar dari Prof Syamsuddin Haris.
Menurut Syamsuddin Haris, imbauan Presiden Jokowi itu sangat tidak bijak.
Penyeragaman, baik itu baju, atribut, maupun pikiran, sangat bertentangan dengan semangat merayakan keberagaman,
Pernyataan Jokowi soal ajakan untuk berbaju putih pada 17 April 2019, justru berpotensi menimbulkan persekusi.
"Di TPS basis 01, pemilih berbaju berwarna berpotensi alami persekusi. Sebaliknya, di TPS basis 02, pemilih berbaju putih potensial dipersekusi," ujar Syamsuddin Haris di akun twitternya.
Syamsuddin Haris @sy_haris Replying to @tamrintomagola @jokowi: Ya benar, ini imbauan yg tdk bijak. Penyeragaman --baju, atribut, apalagi pikiran-- bertentangan dgn semangat merayakan keberagaman.
Di TPS basis 01, pemilih berbaju berwarna berpotensi alami persekusi. Sebaliknya, di TPS basis 02, pemilih berbaju putih potensial dipersekusi.
Tamrin Tomagola menambahkan melalui akun twitternya, seragam itu digunakan oleh penyelenggara Pemilu untuk membedakan dengan yang bukan penyelenggara.
"Tapi buat pemilih yang membawa-bawa atribut/simbol tertentu di hari pencoblisan itu jelas aksi/kegiatan kampanye di hari di mana dilarang berkampanye," ujar Tamrin Tomagola.
Menurut Tamrin, penggunaaan atribut tertentu merupakan pelanggaran terhadap UU Pemilu dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
@tamrintomagola: Kalau Penyelenggara berseragam itu utk membedakan dgn yg bukan Penyelenggara. Tapi buat pemilih yg membawa-bawa atribut/simbol tertentu di hari pencoblisan itu jelas aksi/kegiatan kampanye di hari dimana dilarang berkampanye. Itu pelanggaran UU/Peraturan Pemilu+KPU
Presiden Jokowi Ajak Pendukungnya Pakai Baju Putih
Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo mengimbau pendukungnya untuk mengenakan pakaian putih pada hari pencoblosan Pemilu 17 April 2019.
Imbauan itu diungkapkan ketika Jokowi menyampaikan pidato politik di kampanye terbuka di Bukit Gelanggang, Kota Dumai, Provinsi Riau, Selasa (26/3/2019).
"Jangan lupa, saya ingatkan, tanggal 17 April itu kita pakai baju putih," ujar Jokowi seperti ditulis Kompas.com.
Lebih dari 20.000 massa pendukung yang datang di arena itu pun berteriak sekaligus bertepuk tangan.
Jokowi kemudian mengungkapkan alasan mengapa pendukungnya wajib mengenakan pakaian berwarna putih pada saat hari pencoblosan.
"Karena yang mau dicoblos nantinya bajunya putih. Karena kita adalah putih, putih adalah kita," ujar Jokowi.
Ia kemudian menunjuk ke layar besar yang terpasang di samping panggung. Pada layar itu, ada gambar Jokowi dan Kiai Haji Ma'ruf Amin di surat suara.
"Tuh gambarnya itu," ujar Jokowi, menunjuk ke arah layar besar.
Tulisan Jokowi Ajak Pendukungnya Pakai Putih-putih
Sementara itu, tulisan Presiden Jokowi yang mengajak pendukungnya berpakaian putih-putih saat hari pencoblosan dibagikan di akun instagram Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat.
Dalam tulisan yang ditekan Jokowi itu disebutkan, Jokowi mengajak pemilih untuk menggunakan hak pilih pada 17 April 2019.
"Jangan lupa pilih yang bajunya putih. Karena putih adalah kita," tulis Jokowi di kertas selembar tersebut.
Jokowi menambahkan, "Kita semua ke TPS berbondong-bondong berbaju putih."
@djarotsaifulhidayat: Karena Putih adalah kita