KPK: Zero Tolerance Terhadap Perilaku Korupsi dan Suap di Indonesia Masih Jauh dari Harapan
Saut Situmorang mengatakan, hal tersebut disebabkan tak samanya persepsi semua elemen Bangsa Indonesia dalam melihat suap dan korupsi.
WAKIL Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengatakan, aspek ‘zero tolerance’ atau sikap tanpa kompromi terhadap perilaku suap dan korupsi di masyarakat Indonesia, masih jauh dari harapan.
Hal itu ia sampaikan melihat meningkatnya angka masyarakat Indonesia yang melihat wajar perilaku suap dan korupsi.
Fakta itu ada dalam hasil survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang menyebut 34 persen masyarakat Indonesia menganggap wajar perilaku suap dan gratifikasi. Angka itu meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 26 persen.
• Wali Kota Jakarta Utara: Hujan Boleh Datang tapi Banjir Tidak Boleh Masuk
“Gambaran ‘zero tolerance’ atau tanpa kompromi kepada perilaku suap dan korupsi masih jauh dari harapan di Indonesia, gambaran tanpa kompromi itu tidak ada,” ucap Saut Situmorang ditemui di Hotel Akmani, Jakarta Pusat, Senin (10/12/2018).
Saut Situmorang mengatakan, hal tersebut disebabkan tak samanya persepsi semua elemen Bangsa Indonesia dalam melihat suap dan korupsi.
“Nilai di kepala kita tidak sama, yang melakukan suap atau korupsi mengatakan bahwa itu adalah uang-uangnya dia, kenapa orang lain yang ribut? Kalau sudah begitu, penindakan atau pencegahan seperti apa pun tak akan jalan,” keluh pria berusia 59 tahun tersebut.
• Disebut Pelakor oleh Netizen, Icha Gwen Stres
Melihat besarnya angka tersebut, Saut Situmorang mengaku prihatin. Ia menegaskan, hal tersebut bisa teratasi bila penegakan hukum terhadap perilaku suap dan korupsi fokus pada kegiatan, bukan jumlahnya.
“Kalau di luar negeri baru berencana saja bisa didenda 150 ribu US Dolar, bahkan di negara lain sekadar membayari kopi saja bisa menjadi kasus suap,” tegasnya.
“Jika penanganan suap dan korupsi lebih difokuskan pada kegiatan, bukan besaran uang, bisa jadi efeknya akan lebih cepat,” sambungnya. (Rizal Bomantama)