Operasi Tangkap Tangan

Tanggapi OTT Kalapas Sukamiskin, Fahri Hamzah: KPK Kayak Enggak Ada Kerjaan Lagi, Sibuk Cari Sensasi

Selain itu, menurut Fahri, definisi OTT tidak ada dalam KUHP, yang ada adalah operasi intelijen.

Tanggapi OTT Kalapas Sukamiskin, Fahri Hamzah: KPK Kayak Enggak Ada Kerjaan Lagi, Sibuk Cari Sensasi
TRIBUNNEWS/FITRI WULANDARI
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (2/2/2018). 

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah menilai operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Kalapas Sukamiskin Wahid Husen, merupakan tindakan mencari sensasi.

"Kalau saya sih mohon maaf ya, ini KPK kayak yang engga ada kerjaan lagi. Jadi dia sibuk mencari sensasi-sensai," ujar Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (23/7/2018).

Dalam penilaian Fahri, sensasi yang dilakukan KPK tersebut agar RKUHP tidak diteruskan. Selain itu, menurut Fahri, definisi OTT tidak ada dalam KUHP, yang ada adalah operasi intelijen.

Baca: Fahri Hamzah Sebut BUMN Tempat Mangkal Tim Sukses

"Jadi dia (KPK) sibuk mencari sensasi-sensasi untuk menekan supaya KUHP tidak diteruskan. OTT itu definisi yang enggak ada di dalam undang-undang, ada di dalam KUHP itu adalah operasi intelijen. Ini fatal sebetunya," tutur Fahri.

Dia pun menyinggung Kasus Bank Century dan Kasus Pelindo II, hingga kasus reklamasi yang menurutnya hilang dari permukaan, sehingga ia menilai KPK hanya mengurus hal-hal yang tidak penting.

"Negara kehilangan arah dalam penegakan hukum hingga semuanya kacau, tidak ada kepastian. Wara-wiri ke sana ke mari bikin ribut enggak jelas sambil yang besar-besar hilang, kasus Century hilang, kasus Pelindo II hilang, kasus reklamasi hilang, semua hilang. Yang sisa-sisanya ini apa? Ya kita ini disogok dengan isu hibur-hibur dengan adanya penangkapan kiri kanan. Ini enggak benar," papar Fahri.

Baca: Johan Budi Jadi Caleg dari PDIP, Fahri Hamzah: Alumni KPK Memang Politisi Semua

Karena itu, Fahri turut mengkritik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang tidak memiliki agenda pemberantasan korupsi.

"Kalau Presiden mau begini terus ya silakan saja, ini juga artinya kan Presiden enggak punya agenda pemberantasan korupsi. Presiden linglung ini, enggak punya agenda. Akhirnya agenda ini diserobot orang. Enggak punya kewenangan apa-apa," kritik Fahri.

Sebelumnya pada  Sabtu (21/7/2018) dini hari, KPK menciduk enam orang di sejumlah tempat yang berbeda, termasuk Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husen.

Baca: Fahri Hamzah Mengaku Hampir Semua Partai Politik Mengajaknya Pindah

KPK menyebut Wahid menerima suap berupa uang dan mobil dari salah satu napi korupsi, Fahmi Darmawansyah. Suap itu dilakukan agar Fahmi mendapatkan fasilitas mewah di sel dan kemudahan untuk meninggalkan lapas.

KPK juga sempat mendatangi sel tempat Fuad Amin dan Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan ditahan, namun keduanya tidak ada di dalam lapas. (Chaerul Umam)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved