Teroris Bom Thamrin Dituntut Hukuman Mati, Ini Dakwaan Lengkapnya

Jumat (25/5/2018) pekan depan, Aman Abdurrahman dan kuasa hukumnya akan mengajukan pledoi atau pembelaan atas tuntutan JPU.

Teroris Bom Thamrin Dituntut Hukuman Mati, Ini Dakwaan Lengkapnya
Warta Kota/Hamdi Putra
Terdakwa teroris bom Thamrin Aman Abdurrahmab tiba di PN Jakarta Selatan dengan pengawalan ketat pada Jumat pagi (18/5/2018) sekitar pukul 08.15 WIB. 

JAKSA Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa kasus Bom Thamrin, Aman Abdurrahman alis Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma dengan pidana hukuman mati.

Jumat (25/5/2018) pekan depan, Aman Abdurrahman dan kuasa hukumnya, Asrudin Hatjani akan mengajukan pledoi atau pembelaan atas tuntutan JPU tersebut.

Berikut adalah dakwaan JPU terhadap Aman Abdurrahman yang diperoleh Warta Kota dari SIPP Pengadilan Negeri Jakarta Selatan:

"Berdasarkan ketentuan pasal 85 KUHP dan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor 193/KMA/SK/X/2017 tanggal 31 Oktober 2017, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ditunjuk untuk memeriksa dan memutus perkara pidana atas nama Oman Rochman alias Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma serta dapat diperiksa dan disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan."

"JPU mendakwa Aman Abdurrahman pada tahun 2008 sampai 2016 atau setidak-tidaknya pada waktu lain dalam tahun 2008 sampai tahun 2016, bertempat di Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan, Samarinda, Medan, Bima dan Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan Cilacap Jawa Tengah, merencanakan dan menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme."

"Menurut JPU, Aman Abdurrahman menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan serta menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas dan menimbulkan korban yang bersifat massal."

"Selain itu, ia juga didakwa telah merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain atau menimbulkan kerusakan dan kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik maupun fasilitas internasional."

"Awal mulanya, sejak tahun 2008 terdakwa sering memberikan ceramah atau kajian-kajian agama di beberapa tempat/kota di Indonesia antara lain Jakarta, Surabaya, Lamongan, Balikpapan dan Samarinda dengan materi dari kitab karangan terdakwa sendiri."

"Ceramah tersebut membahas dan memberikan pemahaman kepada orang lain bahwa demokrasi termasuk syirik akbar yang bisa membatalkan keislaman seseorang."

"Yang termasuk ke dalam syirik demokrasi akbar adalah menyembah berhala, berdo'a kepada selain Allah, berkorban kepada selain Allah, menaati hukum selain hukum Allah dan lain-lain sehingga wajib bagi setiap muslim untuk berlepas diri dari sistem syirik demokrasi."

Halaman
123
Penulis: Hamdi Putra
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help