WartaKota/

Borobudur Dapat Penghargaan Lagi

Candi Borobudur sebentar lagi digadang-gadang akan memiliki penghargaan baru dari Perserikatan Bangsa-bangsa.

Borobudur Dapat Penghargaan Lagi
Tribun Jabar
Candi Borobudur 

WARTA KOTA, PALMERAH-Candi Borobudur yang merupakan Warisan Budaya Dunia ( World Heritage Site) milik Indonesia sebentar lagi digadang-gadang akan memiliki penghargaan baru dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Tahun lalu, dokumen kegiatan restorasi candi terbesar di dunia ini diajukan kepada PBB lewat UNESCO sebagai Memory of The World (MoW).

Kini, kita tinggal menunggu waktu penetapan hasil sidang tim UNESCO terhadap Candi Borobudur yang jatuh sekitar 27 Oktober - 3 November 2017.

Kepala Balai Konservasi Borobudur, Marsis Sutopo, mengatakan dirinya sangat optimis Candi Borobudur akan mendapatkan MoW tersebut.

Dokumen yang setahun lalu diajukannya sudah sangat memenuhi kriteria MoW dari PBB.

"Optimis, sinyal dari UNESCO positif, peluang diterimanya cukup bagus. Karena didukung banyak keunggulan, ribuan tapi spesifik arsipnya, otentik," ujarnya pada rekan wartawan seusai membuka pameran arsip MoW di Musem Nasioal, Senin (10/10/2017).

Marsis menjelaskan bahwa untuk mendapatkan pengakuan MoW tersebut, dokumen yang diajukan haruslah otentik dan telah dibuktikan keasliannya.

Lalu dokumen tersebut memiliki nilai dan arti penting bagi berbagai bangsa di dunia, juga memberikan manfaat umum, pembelajaran ke publik, dan dapat diakses seluas-luasnya.

Menurut Marsis, restorasi candi terbesar di dunia yang dilakukan Indonesia merupakan restorasi model pertama di dunia yang melibatkan banyak negara dan dikomandoi oleh UNESCO.

"Konsep ini sampai ditiru oleh negara-negara lain untuk merestorasi Situs Warisan Budaya mereka. Seperti Angkor Wat, tapi sampai sekarang belum selesai," tambahnya.

Sementara itu, Indonesia sampai saat ini telah memiliki empat dokumen yang diakui sebagai MoW dunia oleh UNESCO. Ialah I La Galigo, Negarakertagama, Babad Diponegoro, dan Konferensi Asia Afrika.

Selain dokumen Candi Borobudur, pada tahun lalu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mengajukan tiga dokumen atau arsip penting lainnya. Yaitu arsip Konferensi Meja Bundar (KMB), tsunami Aceh, dan Gerakan Non Blok (GNB).

"Dokumen tersebut berbicara tentang masa lalu dan masa depan, dari Indonesia dan dunia," kata Shahbaz Khan, Director UNESCO Indonesia dalam kesempatan yang sama. (Kompas.com/Muhammad Irzal Adiakurnia)

Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help