Tawuran Pelajar

4 Pelajar Tewas Karena Tawuran di Depok

Sejak September 2014 sampai akhir September 2015 ini Polres Kota Depok mencatat ada 105 kali tawuran pelajar SMA dan SMK di wilayah ini.

4 Pelajar Tewas Karena Tawuran di Depok
Wartakotalive.com/Budi Samlaw Malau
Kapolresta Depok Kombes Dwiyono dalam Diskusi Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tawuran Pelajar di Kota Depok, Selasa (13/10/2015) 

WARTA  KOTA, DEPOK-- Sejak September 2014 sampai akhir September 2015 ini  Polres Kota Depok mencatat  ada 105 kali tawuran pelajar SMA dan SMK  di wilayah ini.

Dalam 105 kali tawuran itu, 4 pelajar SMA tewas mengenaskan akibat aksi brutal pelajar lainnya.

Hal itu diungkapkan Kapolresta Depok Kombes Dwiyono dalam Diskusi Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tawuran Pelajar di Kota Depok yang digelar Polresta Depok bersama Dinas Pendidikan Kota Depok di Aula Mapolresta Depok, Selasa (13/10/2015).

Dalam diskusi itu hadir pula para guru dan kepala sekolah SMU di Depok serta para walimurid.

Menurut Dwiyono selain memakan korban 4 pelajar tewas, dalam 105 kali tawuran di Depok pada setahun ini, sebanyak 67 pelajar harus dijerat pidana dan 210 siswa lainnya dilakukan pembinaan.

"Data 105 kali tawuran pelajar di Depok dalam setahun ini sangat tinggi. Ini artinya dalam seminggu rata-rata 3 kali tawuran terjadi di Depok. Ini yang harus kita tanggulangi bersama," kata Dwiyono.

Dwiyono menambahkan fakta ini menunjukkan bahwa tawuran pelajar menjadi momok meresahkan bagi masyarakat. "Dan cukup sulit dicari ujung pangkalnya yang membuat para pelajar ini selalu tawuran," kata Dwiyono.

Menurut Dwiyono, hari yang paling sering dijadikan para pelajar untuk tawuran adalah Jumat dan Sabtu.

Sementara titik rawan tawuran di Kota Depok adalah di persimpangan Mampang-Kodim di Jalan Raya Sawangan, lalu di sepanjang Jalan Merpati Beji, di kawasan Sukmajaya, di kawasan Depok Timur, Simpangan Depok di Jalan Raya Bogor serta simpang Juanda dan Jalan Raya Bogor.

"Faktor yang menjadikan tawuran terjadi secara terus-menerus adalah karena adanya ajakan atau doktrin dari alumni, bahwa sekolah lain adalah musuh," kata Dwiyono.

Penyebab lainnya pula, kata Dwiyono, juga karena kebiasaan pelajar bolos sekolah. "Biasanya karena pelajar terlambat, lalu dilarang masuk sekolah. Ini yang repot karena mereka gak mungkin pulang. Akhirnya mereka berkeliaran di luaran dan ujung-ujungnya tawuran," kata Dwiyono.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Suprapto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help