Fenomena Batu Akik
Lestarikan Batu Akik Lewat Komunitas
Demam batu akik di Indonesia sebenarnya bisa menjadi fenomena yang baik dalam rangka mengangkat hasil bumi asli Indonesia.
Penulis: Feryanto Hadi |
WARTA KOTA, JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjanji akan menambah kapasitas pameran batu akik guna menggairahkan kembali pasar yang kini meredup.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Irwandi menegaskan dengan banyaknya pameran yang digelar dengan menyuguhkan keunikan tertentu, masyarakat akan kembali terpanggil dan pasar batu akik yang sudah terlanjut melibatkan ribuan pelaku usaha akan kembali bergairah.
“Nanti kami juga akan lakukan sosialisasi terhadap manfaat batu akik, standarisasi mutu dan harga untuk menghindari pedagang nakal yang suka mempermainkan harga,” kata Irwandi kepada Warta Kota beberapa waktu lalu.
Upaya untuk melestarikan kecintaan terhadap batu akik juga telah dilakukan oleh para pemerhati maupun masyarakat yang perduli dengan keberadaan batu akik, khususnya dilihat dari segi kekayaan budaya.
Salah satunya dilakukan dengan membentuk komunitas para pecinta batu akik tertentu.
Rama Permana, Ketua Komunitas Pandan Jakarta (Kopaja) mengatakan, pembentukan komunitas sebagai wadah pecinta batu akik tertentu sangat efektif untuk tetap menjaga kecintaan masyarakat terhadap jenis batu tertentu dari berbagai daerah.
Kopaja sendiri merupakan rumah bagi masyarakat pecinta batu pandan yang bermarkas di Jakarta Timur.
“Setiap daerah pasti punya jenis batu khas tersendiri, termasuk cerita sejarah yang melingkupinya. Nah, berhubung di Jakarta yang khas adalah batu pandan, kami berusaha melestarikan bersama-sama dengan berada dalam sebuah komunitas,” kata Rama kepada Warta Kota. Adanya berbagai komunitas pecinta batu ini kata Rama juga bisa menjadi upaya untuk menstabilkan harga jual batu di pasaran.
“Jelas pasar juga akan terdorong dengan adanya komunitas-komunitas seperti ini. Kopaja yang notabene lahir di Jakarta Timur saja sudah memiliki 7000 anggota. Padahal kami di bawah naungan komunitas Pandan Lovers yang merupakan komunitas yang lebih besar di Jakarta.”
Komunitas yang dibentuk 2014 ini pun setiap pekan rutin menggelar pertemuan yang mereka sebut Kopling atau Kopdar Keliling.
Tujuannya, kata Rama, selain untuk mepererat tali silaturahim juga sebagai ajang sharing tentang berbagai hal terkait batu pandan.
“Ini tentu bisa mendorong pamor batu pandan naik. Dulu jenis batu ini disepelekan, hanya dipakai orang-orang tua. Sekarang banyak sekali anak muda yang gemar terhadap batu pandan karena kami juga selalu melakukan pendekatan budaya maupun edukasi, dalam hal ini mendorong masyarakat Jakarta untuk mencintai batu khas Betawi,” imbuh Rama.
Bangga
Demam batu akik di Indonesia sebenarnya bisa menjadi fenomena yang baik dalam rangka mengangkat hasil bumi asli Indonesia.
Di beberapa tempat, batu akik bahkan telah menjadi kekayaan dan kearifan lokal yang membanggakan masyarakat setempat.
Tidak hanya menjadi komiditi ekokomi saja, melainkan pemakaian batu akik bisa merekatkan persaudaraan hingga prestise pemakai batu tersebut.
Aiptu Sulistiyo selaku Pembina Kopaja optimistis dengan melakukan pendekatan budaya dan histori terhadap batu akik, masyarakat akan lebih menghargai nilai-nilai batu akik tersebut ketimbang larut dalam booming sesaat.
“Kalau sudah tahu nilai budaya batu tersebut, orang akan lebih bisa menghargai. Berbeda dengan orang yang hanya ikut-ikutan dengan sekadar memiliki batu akik, golongan ini pasti akan cepat bosan,” katanya.
Aiptu Sulistiyo menuturkan, jika pendekatan budaya dan keleluargaan melalui pembentukan komunitas pecinta batu akik diterapkan di banyak tempat di Indonesia, hal tersebut akan berdampak positif untuk mengangkat pamor bahkan nilai jual batu akik dari daerah tersebut.
Terpenting, jenis batu akik yang berasal dari daerah itu tidak cepat dilupakan masyarakat.
“Semuanya berawal dari kebanggaan terhadap batu akik itu sendiri sebagai kekayaan asli Indonesia. Di Indonesia ini banyak jenis batu yang khas dan tentu memiliki kualitas baik bahkan berkelas dunia. Modal kebanggaan ini bisa membuat keberadaan batu akik akan selalu dekat dengan masyarakat, di luar nilai ekonomi atau estetika yang melekat pada jenis batu tersebut,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150821-batu-akik_20150821_201757.jpg)