Selasa, 9 Juni 2026

Pinyaram, Manis Tradisi dari Ranah Minang yang Menyapa di Jalan Padang–Bukittinggi

Itulah pinyaram, jajanan manis khas Ranah Minang yang seolah memanggil siapa pun untuk berhenti dan mencobanya

Tayang:
Editor: Joanita Ary
Wartakota/Joanita Ary
PINYARAM -- Pinyaram, kue bundar manis khas Minangkabau. Renyah di pinggir, lembut di tengah, dan selalu membawa rasa hangat dari Ranah Minang. 

WARTAKOTALIVECOM, Padang -- Kabut tipis baru saja terangkat dari lereng perbukitan ketika mobil perlahan meluncur di jalan berkelok antara Bukittinggi dan Padang.

Sisa hujan pagi meninggalkan aroma tanah basah yang berpadu dengan semerbak wangi santan dan gula aren dari kedai-kedai kecil di tepi jalan.

Di antara hamparan hijau yang teduh dan udara sejuk pegunungan, deretan piring besar berisi tumpukan bundar berwarna cokelat keemasan tampak menggoda mata.

Itulah pinyaram, jajanan manis khas Ranah Minang yang seolah memanggil siapa pun untuk berhenti

Warga lokal lebih sering menyebutnya mirip kue cucur, sama-sama manis, sama-sama menggoda.

Kami sempat berhenti di salah satu warung kecil di daerah Kayu Tanam, di antara perjalanan dari Bukittinggi menuju Padang.

Di bawah atap seng yang sederhana, seorang uni penjual menyapa dengan ramah.

 “Coba dulu, kak! Baru tahu rasa Minang yang sesungguhnya,” ujarnya sambil menyodorkan piring kecil berisi dua pinyaram hangat.

Gigitan pertama langsung menghadirkan kelezatan yang sulit dilupakan.

Lapisan luarnya sedikit garing, sementara bagian tengahnya lembut dan padat dengan rasa gula aren yang pekat.

Rasanya manis, tapi tidak berlebihan pas untuk menemani kopi hitam di tengah udara pegunungan yang dingin.

Seorang bapak tua yang duduk tak jauh dari sana ikut menyapa.

Dengan logat khas Minang, ia bercerita bahwa pinyaram dahulu hanya dibuat pada hari-hari istimewa, seperti Lebaran, pesta adat, atau kenduri keluarga.

“Sekarang orang sudah bisa makan kapan saja, tapi dulu ini makanan yang sakral,” tuturnya.

Ketika rasa penasaran meningkat, sang uni penjual tersenyum dan mempersilakan saya melihat proses pembuatannya di dekat kedai kecilnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved