Kamis, 30 April 2026

Warta Pendidikan

UMN Hadirkan Program Studi Kecerdasan Buatan, Fokus Teknologi hingga Etika

Peluncuran Program Studi Sarjana Kecerdasan Buatan menjadi selaras dengan visi UMN, yakni unggul di bidang berbasis ICT

Tayang:
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Feryanto Hadi
Istimewa/Ikhwana Mutuah Mico
Universitas Multimedia Nusantara meluncurkan Program Studi AI berbasis sustainable technology sebagai strategi menjawab disrupsi teknologi dan kebutuhan talenta masa depan, (TribunTangerang.com - Wartakota Network/Ikhwana Mutuah Mico) 
Ringkasan Berita:
  • UMN meluncurkan Prodi S1 Artificial Intelligence sebagai respons perkembangan AI dan kebutuhan industri global.
  • Kurikulum fokus pada teknologi, etika, dan Sustainable AI, serta integrasi prinsip keberlanjutan (green economy).
  • Pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman, AI digunakan sebagai alat pendukung secara bertanggung jawab.
  • UMN juga dorong kolaborasi internasional dan penguatan human skills agar lulusan siap bersaing global.

 

Laporan Wartawan TribunTangerang.com, Ikhwana Mutuah Mico


WARTAKOTALIVE.COM, MENTENG - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan mendorong perguruan tinggi beradaptasi, termasuk Universitas Multimedia Nusantara.

Rektor UMN, Andrey Andoko menjelaskan kampus kini tak hanya fokus pada pembelajaran konvensional, tetapi juga mulai mengintegrasikan teknologi digital dan prinsip keberlanjutan dalam kurikulum.

Seiring perubahan tersebut, lanjutnya, dunia pendidikan dinilai harus mampu menjawab tantangan global yang semakin kompleks. 

Dua tren utama yang disorotnya, yakni digital economy yang ditopang AI serta green economy berbasis sustainability, menjadi arah baru dalam pengembangan pendidikan tinggi.

“Sekarang ini kita menghadapi dua global drive, yaitu digital economy AI, automation, big data dan juga green economy, di mana aspek sustainability menjadi sangat penting,” ujar Andrey Andoko di Ascott Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026).

Ia menjelaskan, perkembangan AI telah mengubah cara manusia mengakses pengetahuan. Informasi kini semakin mudah diperoleh, bahkan secara gratis.

“Kalau dosen hanya berbicara di depan kelas, sementara mahasiswa sudah bisa mengakses informasi yang sama melalui AI, itu sudah tidak efektif lagi,” ujarnya 

Baca juga: Guru Besar UMN Prof Harris Sebut Pidato Presiden Prabowo di PBB Simbol Kepercayaan Diri Bangsa

Sebagai respons, UMN mulai menerapkan metode pembelajaran berbasis pengalaman dan proyek.

Pendekatan ini dinilai lebih mampu mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mahasiswa.

Selain itu, AI juga diposisikan sebagai alat pendukung dalam proses akademik, bukan pengganti manusia sepenuhnya. Penggunaan teknologi ini diperbolehkan, namun tetap harus dilakukan secara bertanggung jawab.

"Kami tidak melarang penggunaan AI, karena itu sudah tidak mungkin. Tapi yang penting adalah bagaimana menggunakan AI secara responsible, tidak sekadar copy-paste,” ujarnya.

Di sisi lain, isu keberlanjutan juga menjadi perhatian utama. Kampus mengintegrasikan prinsip Sustainable Development Goals ke dalam kegiatan akademik maupun non-akademik guna membekali mahasiswa dengan keterampilan berbasis lingkungan.

“Mahasiswa perlu memiliki green skills, karena ke depan aspek sustainability akan menjadi kebutuhan utama di berbagai industri,” tambahnya.

Meski teknologi terus berkembang pesat, ia menegaskan manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan mesin. Kemampuan seperti empati, kreativitas, serta pemikiran kritis menjadi nilai penting yang harus terus dikembangkan.

“Human skill seperti komunikasi, empati, critical thinking, dan kreativitas itu tidak bisa digantikan oleh AI. Itu yang menjadi kekuatan manusia,” katanya.

Untuk itu, UMN didorong menjadi inkubator talenta yang mampu melahirkan lulusan adaptif. Selain kompetensi akademik, mahasiswa juga dibekali kemampuan kewirausahaan dan pengalaman internasional agar siap bersaing di tingkat global.

Dengan berbagai langkah tersebut, ia berharap UMN  tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

“Kampus harus menjadi living lab, tempat mahasiswa belajar tidak hanya di kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata,” ujarnya.

Langkah konkret tersebut diwujudkan UMN dengan meluncurkan Program Studi Sarjana (S1) Artificial Intelligence (AI). Peluncuran ini dilakukan oleh jajaran rektorat dalam sebuah acara di Ascott Menteng.

Program studi ini menjadi bagian dari komitmen UMN sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada bidang Information and Communication Technology (ICT), sekaligus menjawab kebutuhan industri akan talenta AI yang terus meningkat.

Andrey Andoko, menyampaikan langkah ini merupakan respons terhadap perkembangan teknologi yang kian pesat.

Peluncuran Program Studi Sarjana Kecerdasan Buatan menjadi selaras dengan visi UMN, yakni unggul di bidang berbasis ICT, salah satunya adalah Kecerdasan Buatan. 

"Teknologi ini merupakan teknologi baru yang hadir di masyarakat dan berkembang cukup pesat. Hal ini mendorong kami untuk membuka Program Studi Kecerdasan Buatan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, AI tidak hanya membawa peluang, tetapi juga disrupsi di berbagai sektor. Karena itu, penguasaan teknologi ini menjadi bekal penting bagi lulusan.

“Pengetahuan mengenai kecerdasan buatan menjadi penting untuk dikuasai secara mendalam, agar lulusan UMN dapat berkontribusi dalam pengembangan kecerdasan buatan serta penerapannya di masa depan,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Internasionalisasi UMN, Friska Natalia, menjelaskan pendekatan tersebut menjadi pembeda utama program studi AI di UMN.

“Program studi ini tidak semata-mata mempelajari konsep dan teori Artificial Intelligence saja, tetapi juga menekankan Sustainable Artificial Intelligence. Teknologi AI digunakan tidak hanya karena kemajuan dan kecanggihannya, tetapi juga menekankan tanggung jawab serta kode etik,” ujar Friska.

Ia berharap pendekatan tersebut dapat menghasilkan lulusan yang mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat, baik secara sosial maupun lingkungan.

Selain itu, UMN juga membuka peluang pengalaman global melalui kolaborasi internasional dengan Chang Gung University. Program ini memungkinkan mahasiswa menempuh studi lintas negara dengan skema percepatan.

“Mahasiswa dapat menempuh studi 3 tahun di UMN dan 1 tahun di Chang Gung University tanpa biaya tambahan selain tuition fee di UMN. Bahkan, mahasiswa bisa melanjutkan satu tahun lagi untuk meraih gelar magister,” jelas Friska.

Kurikulum program studi AI ini juga dirancang berorientasi pada standar nasional dan internasional. Ke depan, UMN berencana memperluas kolaborasi global guna memperkuat kualitas pendidikan.

Adapun penerimaan mahasiswa untuk Program Studi Sarjana AI dijadwalkan mulai dibuka pada semester ganjil 2026/2027.

“Harapan saya, akan ada banyak calon mahasiswa yang bergabung, mengingat keilmuan AI akan terus berkembang dan sangat dibutuhkan di dunia kerja masa depan,” tutup Friska. (m30)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved