Rupiah Anjlok
Menkeu dan Gubernur BI Targetkan Rupiah Menguat, Masyarakat akan Rasakan Dampak
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI Perry Warjiyo sepakat menyinkronkan kebijakan fiskal dan moneter untuk menguatkan rupiah
Ringkasan Berita:
- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI Perry Warjiyo sepakat memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna mendorong penguatan nilai tukar rupiah.
- Pemerintah menilai rupiah yang lebih kuat dan stabil akan membantu menekan biaya produksi UMKM serta menjaga daya beli masyarakat.
- BI menyiapkan langkah menarik kembali aliran modal asing dan menjaga likuiditas pasar uang serta perbankan nasional
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, sepakat menargetkan penguatan nilai tukar rupiah melalui sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan yang difasilitasi Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad di Gedung DPR RI, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Purbaya mengatakan, langkah tersebut ditujukan untuk mengembalikan kepercayaan pasar sekaligus memperkuat nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.
"Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai tukar rupiah sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan dari level yang lebih tinggi dari sekarang," kata Purbaya.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 18 Ribu, Bimbim Slank Bicara soal Isu Kerusuhan 1998
Menurutnya, koordinasi yang lebih erat antara pemerintah dan bank sentral diharapkan memberikan dampak langsung terhadap sektor riil dan mendorong pemulihan ekonomi secara menyeluruh.
UMKM dan Masyarakat Jadi Fokus
Purbaya mengungkapkan pelemahan rupiah selama ini telah meningkatkan biaya produksi bagi pelaku usaha, terutama UMKM yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ia mencontohkan para pedagang tahu dan tempe yang menghadapi penurunan margin keuntungan atau terpaksa menaikkan harga akibat mahalnya bahan baku impor.
"Yang penting adalah kita ingin melihat dampak ke masyarakat yang positif dari rupiah itu. Saya dengar penjual tempe, penjual tahu, sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor," ujarnya.
Baca juga: Respon Purbaya Soal Mundur dari Menkeu saat Rupiah Tembus Rp 18.000 per USD
Karena itu, pemerintah meyakini kebijakan yang lebih terkoordinasi akan menciptakan nilai tukar yang lebih stabil sehingga dapat membantu menekan beban biaya hidup masyarakat.
"Dengan nanti kebijakan lebih bagus itu kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu tempe dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik," tambahnya.
Strategi BI Tarik Modal Asing
Dari sisi moneter, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa BI telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung penguatan rupiah.
Salah satu fokus utama adalah meningkatkan daya tarik investasi portofolio agar aliran modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
"Yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portofolio inflows kembali masuk. Dengan kenaikan bunga luar negeri memang itu ada outflows," jelas Perry.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Rocky Gerung Sebut Chatib Basri Figur Ideal Menkeu Ganti Purbaya
Selain itu, BI juga berkomitmen menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan nasional.
| Prabowo soal Rupiah Anjlok: Warga Desa Tak Pakai Dolar, Yang Pusing Pengusaha! |
|
|---|
| Sandiaga Uno Tukar Dolar ke Rupiah, Fadli Zon: Kurang Signifikan |
|
|---|
| Rupiah Anjlok, Perdagangan Emas di Pasar Minggu Masih Normal |
|
|---|
| Harga Barang Elektronik di Kota Bekasi Naik hingga Rp 200.000 Dampak Rupiah Melemah |
|
|---|
| Rupiah dan IHSG Anjlok, Pemerintah Disarankan Cabut Subsidi BBM dan Listrik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/nilai-tukar-rupiah__9999.jpg)