Minggu, 26 April 2026

Berita Jakarta

Program Pilah Sampah Sukses, Kecamatan Matraman Jadi Terbaik di Jakarta Timur

Kecamatan Matraman jadi yang terbaik dalam program pilah sampah di Jakarta Timur dengan total 3.349 kg. Warga juga mendapat nilai ekonomi.

Istimewa/dok Sudin LH Jakarta Timur
PILAH SAMPAH - Warga Kecamatan Matraman sedang pilah sampah sebelum dijemput oleh Sudin LH Jakarta Timur, Senin (13/4/2026). Sebelum dibawa, sampah yang telah dipilah ditimbang dan dikirin ke PDUP PT Moreko Ciracas, Jakarta Timur 

WARTAKOTALIVE.COM, MATRAMAN - Kantor Kecamatan Matraman mendapat apresiasi dari Wali Kota Jakarta Timur usai menjalani program pilah sampah dengan baik.

Program tersebut bisa berjalan karena jajaran Kecamatan Matraman menerapkan Bank Sampah di setiap RT, RW, hingga ke tempat ibadah.

Sampah yang telah dipilah oleh masyarakat, kemudian dijemput oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur setiap harinya.

Petugas Sudin LH Jakarta Timur kemudian membawa sampah yang telah dipilah ke Pusat Daur Ulang Plastik (PUDP) di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

Camat Matraman, M Husnul Fauzi menjelaskan, pihaknya sangat rutin menggelar sosialisasi program pilah sampah kepada warganya.

Baca juga: Saluran Tertimbun Sampah 17 Tahun, 180 Personel Dikerahkan Bersihkan PHB Tambora

"Sampah yang organik dan anorganik, sudah terpilah. Jadi yang dipilah tuh yang anorganiknya langsung dibawa ke PT Moreko di Ciracas," katanya, Senin (13/4/2026).

Husnul mengaku, jumlah sampah pilah yang dihasilkan oleh warga Kecamatan Matraman mencapai 3.349 kilogram.

Posisi kedua diduduki oleh Kecamatan Jatinegara dengan perolehan 2.784, Cipayung 2.096 dan Cakung 1.315 Kilogram sampah pilah.

Sedangkan untuk Kecamatan Ciracas berjumlah 771 kilogram, Kramat Jati 562 kilogram, Pulo Gadung 489 kilogram, Duren Sawit 385 kilogram, Pasar Rebo 346 kilogram, serta Makasar 201 kilogram.

Menurutnya, warga yang berhasil memilah sampah akan mendapat uang dari PT Moreko yakni perkilogram sekira Rp 1.800.

"Sedangkan di tempat lain katanya tuh yang pengepul itu harganya berani Rp 2.000. Jadi beda Rp 200 perak. Warga pilihan yang harga Rp 2.000, kan Pak RW lebih mending ke pengepul katanya kan gitu. Itu informasi sekilas, tapi nanti mungkin dipertajam lagi dicari tahu ya," tegasnya.

Baca juga: Pemkot Jaksel Siapkan OTT Buang Sampah, Pengerukan Kali Krukut Dikebut Tekan Banjir

Menurut Husnul, sebanyak 83 masjid, 21 musala, satu pondok pesantren, serta 43 bank sampah turut berpartisipasi dalam upaya pengurangan volume sampah.

Setiap sampah yang disetorkan warga selalu dicatat agar nantinya nilai ekonomi yang dihasilkan bisa diserahkan kepada warga.

"Jadi bank sampah di tiap-tiap RW itu dia sudah punya titik-titik kumpul, jadi enggak semua warga setor gitu. Ada kader-kader yang sudah ngumpulin. Nanti pas jadwalnya bank sampah, misalnya di RW 02, mereka misalnya hari ini nih, Rabu jam sekian, nanti mereka datang tuh ke pos RW bawa sampah yang plastik, maupun logam. Nah di situ ditimbang, dibawa sama LH gitu," tururnya. 

"Jadi ya mungkin dari rumah-rumah mereka setor ke RT/RW atau kader atau tempat yang sudah dipilah. Karena kan enggak semua rumah RT juga punya tempat untuk nampung sementara, tapi sampahnya sudah sampah terpilah semua," sambungnya. (m26)

 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved