Rabu, 13 Mei 2026

Berita Nasional

Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar AS, Terburuk Sepanjang Sejarah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi.

Tayang:
Editor: Joanita Ary
Istimewa
RUPIAH MELEMAH -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi. Mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 64 poin di level Rp 17.478 per dolar AS. 

WARTAKOTALIVECOM, Jakarta -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi.

Mata uang Indonesia bahkan sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS, yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 64 poin di level Rp 17.478 per dolar AS.

Tekanan jual terus berlanjut hingga rupiah bergerak turun ke posisi Rp 17.502 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah dalam beberapa pekan terakhir di tengah meningkatnya tekanan global dan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi geopolitik dunia.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai gejolak di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ketidakpastian yang terus meningkat membuat investor global cenderung mencari aset aman atau safe haven seperti dolar AS.

“Ketidakpastian di Timur Tengah serta harga minyak mentah yang masih tinggi memberikan tekanan besar terhadap rupiah,” ujar Lukman.

Kenaikan harga minyak dunia dinilai menjadi ancaman serius bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.

Ketika harga energi meningkat, kebutuhan dolar AS untuk impor ikut bertambah sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga masih dipicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Investor global masih melihat dolar AS sebagai instrumen investasi yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Tekanan terhadap rupiah kali ini mengingatkan pasar pada krisis moneter 1998 ketika nilai tukar mata uang Indonesia sempat terpuruk akibat gelombang krisis Asia.

Meski kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini dinilai jauh lebih kuat dibanding masa krisis, pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada inflasi, biaya impor, hingga daya beli masyarakat.

Pelemahan kurs juga berpotensi memengaruhi berbagai sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor.

Di sisi lain, kondisi ini dapat menguntungkan eksportir karena pendapatan berbasis dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas di pasar keuangan domestik.

Intervensi di pasar valas maupun kebijakan moneter diperkirakan akan terus dilakukan guna menjaga kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved