Selama Pandemi, Angka Eksploitasi Anak Jadi Manusia Silver Meningkat
Faktor terjadi lonjakan katanya karena banyak warga di DKI, Depok, dan Tangerang Selatan kehilangan pekerjaan.
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Budi Sam Law Malau
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Kasus manusia silver yang mengeksploitasi anak untuk mengamen di lampu merah selama pandemi Covid-19 meningkat.
Hal itu sampaikan melalui keterangan tertulis oleh Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait, Selasa (28/9/2021).
Menurut Arist, kenaikan itu sesuai data yang ada di lapangan.
Misalnya di DKI Jakarta ada sebanyak 189 keluarga manusia silver.
Kemudian di Depok dan Tangerang Selatan kurang lebih ada sebanyak 200 keluarga manusia silver yang ditemukan.
"Itu temuan di lapangan dan data yang dihimpun dari berbagai pihak, jumlah keluarga manusia silver melonjak karena faktor ekonomi," kata dia, Selasa (28/9/2021).
Arist melanjutkan, sebelum pandemi Covid-19 angka keluarga manusia silver di tiga wilayah tersebut mendekati 100 keluarga.
Namun kini jumlahnya melonjak dua kali lipat lebih.
Faktor terjadi lonjakan katanya karena banyak warga di DKI, Depok, dan Tangerang Selatan kehilangan pekerjaan.
Sehingga mereka memilih untuk menjadi manusia silver daripada harus menganggur atau berdiam diri di rumah.
Diantaranya kata dia, sopir angkot dan pedagang kaki lima yang beralih profesi sebagai manusia silver di DKI, Depok dan Tangsel.
"Mereka terpaksa berpindah profesi sebagai keluarga manusia silver karena kebutuhan sehari-hari," tuturnya.
Arist meminta kepada Pemerintah Pusat untuk mencari solusi agar masalah ini terus berkepanjangan.
Mengingat ada beberapa anak yang dikorbankan untuk dieksploitasi menjadi manusia silver demi meraup pundi-pundi rupiah.
Karena yang dikhawatirkan kalau masalah ini dibiarkan maka keluarga manusia silver akan terus bertambah banyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/arist-merdeka-29.jpg)