Kelestarian Alam Taman Nasional Halimun Terancam
Mereka itu masif, sangat sulit dikendalikan karena jumlahnya ribuan. Kami operasi di sini, mereka pindah di tempat lain.
WARTA KOTA, BOGOR - Hadirnya penambangan emas dan batu alam di daerah aliran sungai kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) mengancam kelestarian alam taman nasional tersebut.
"Daerah sini aman tapi daerah selatan Sukabumi sudah mulai muncul. Mereka menggali ratusan lubang di tebing, bantaran sungai untuk mencari emas, mengelola di situ menggunakan sianida, air raksa. Itu kan racun semua," kata Kepala Urusan Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam TNGHS, Nur Faisin di Balai TNGHS, Sukabumi, Jawa Barat, Senin.
Ia menjelaskan hadirnya pemambangan liar ini sangat sulit dikendalikan walaupun petugas telah berupaya untuk mengendalikan hadirnya penambang emas tersebut.
"Mereka itu masif, sangat sulit dikendalikan karena jumlahnya ribuan. Kami operasi di sini, mereka pindah di tempat lain. Kejar di sana, mereka pindah lagi. Dan kapasitas kami sebagai petugas amat terbatas," katanya.
Selain itu, lokasi penambangan ini berada di daerah yang sulit dijangkau oleh kendaraan dan harus ditempuh dengan jalan kaki.
Menurut dia, hadirnya penambangan ini karena masyarakat tersebut mengganggap pekerjaan itu sebagai mata pencarian.
"Masalahnya banyak lapisan masyarakat menganggap legal dan kadang-kadang media tidak fair, meliput kegiatan mereka dan memberitakan sebagai perjuangan hidup. Padahal tindakan mereka sangat merusak lingkungan," ujarnya.
Ia mengatakan para penambangan ini rata-rata berpenghasilan besar terutama pimpinan mereka.
"Bangun rumah Rp10 miliar itu kecil buat mereka. Bayangkan, di tengah hutan Halimun Salak ada perumahan mewah dan dilengkapi mobil mewah dan itu milik bos mereka," tuturnya.
Ia menambahkan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini berada di tiga wilayah yakni Bogor, Lebak dan Sukabumi.
Menurut dia, penambangan liar ini paling marak berada di kawasan Lebak, Banten dan bagian barat Bogor.
"Jumlah mereka sudah mencapai ribuan di sana. Kalau Taman Nasional Halimun Salak hancur, Jakarta akan tenggelam," katanya. (Antara)