Tip Sehat
Ajarkan Anak Tidak Takut Periksa Gigi
Tidak semua orang merasa nyaman ketika mau ke dokter gigi.
Penulis: |
WARTA KOTA, PALMERAH - Tidak semua orang merasa nyaman ketika mau ke dokter gigi. Mendengar suara bor atau alat-alat dokter gigi bisa membuat jeri.
Dewi (42) salah satunya. Karyawati swasta ini mengaku merasa takut untuk pergi ke dokter gigi. Jika masih bisa diobati tanpa harus ke dokter gigi, ibu dua anak ini akan melakukannya.
“Waktu itu gigi ada yang lubang. Mau ke dokter gigi, takutnya sudah berhari-hari sebelumnya,” katanya.
Agar kedua anaknya tidak takut ke dokter gigi seperti dirinya, Dewi pun sejak dini sudah mengajak anak-anaknya ke dokter gigi. Tidak seperti dirinya, kedua anaknya yang duduk di bangku SMP lebih berani ke dokter gigi. Hasilnya, penyakit gigi dan mulut bisa dhindari.
Penyakit gigi dan mulut termasuk dalam 10 besar penyakit yang banyak dikeluhkan masyarakat Indonesia (Depkes 2008). Temuan tersebut diperkuat data dari Riset Kesehatan Dasar, dimana 25,9 persen penduduk Indonesia mengalami permasalahan gigi dan mulut.
Sayangnya, tenaga kesehatan gigi yang menjadi ujung tombak edukasi serta pelayanan kesehatan gigi masih terpusat di kota besar saja. Menurut Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) drg Farichah Hanum, saat ini ada sekitar 25.000 dokter gigi. Tapi 66 persen terpusat di Pulau Jawa dan sisanya menyebar. “Secara absolute sudah mencukupi, namun sebarannya yang tidak merata dan proporsional dengan jumlah penduduk. Sehingga di beberapa provinsi masih kekurangan,” kata drg Farichah dalam jumpa pers Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2014 di Gandaria City beberapa waktu lalu. Terdapat 23 propinsi yangmasih kekurangan dokter gigi.
Adanya keterbatasan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia, Pepsodent bekerjasama dengan PDGI dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) menyelenggarakan BKGN. Menurut drg Ratu Mirah Afifah, GCClinDent MDSc, Professional Relationship Manager Oral Care PT Unilever Indonesia Tbk, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pelayanan tidak hanya di kota besar tapi juga sampai pelosok. Sehingga dapat membantu pemerataan edukasi serta pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat Indonesia.
Tahun ini BKGN memfokuskan edukasi serta pelayanan gigi dan mulut kepada anak-anak.
“Pendekatan yang digunakan akan berbeda ketika mengedukasi ke anak-anak,” kata drg Mirah. Ia mencontohkan FKG UI bekerjasama dengan Unilever mempunyi mobil edukasi kesehatan gigi keliling yang dilengkapi dengan poster, video kartun gigi, dan juga panggung boneka keluarga gigi. Jika anak telah mendapatkan pengalaman edukasi serta pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang menyenangkan, ditambah lagi berdasarkan pengetahuan, diharapkan anak berani ke dokter gigi. Dan bisa mengajak teman serta keluarganya.
Apalagi, kebiasaan sehat dapat dibentuk sejak dini dan anak dapat membawa perubahan baik bagi lingkungannya. Termasuk perubahan dalam perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut. secara keseluruhan, bentuk kegiatan Pepsodent yang dilakukan mulai dari ‘Gelar dengar Pendapat’, pembentukan dokter gigi kecil di school program, kegiatan edukasi serta sikat gigi missal untuk perayaan Hari Kesehatan Gigi Dunia, misi pahlawan cilik serta BKGN.
Anak diharapakan bisa berperan sebagai ‘agent of change’ untuk membangun kebiasaan baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. mulai dari menyikat gigi dua kali sehari dan rutin memeriksakan giginya dalam dua kali setahun. (lis)