Senin, 13 April 2026

Tim Konservasi Sambangi Desainer Patung Pancoran

Tim Konservasi hari ini meneui Edhi Sunarso, desainer Patung Dirgantara di Desa Jombor, Sleman, Yogyakarta hari ini, Jumat (22/8/2014).

WARTA KOTA, PANCORAN - Kondisi rusak serta minimnya data terkait konstruksi Patung Dirgantara, Tim Konservasi Cagar Budaya bersama Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta berangkat menuju kediaman Seniman Patung asal Yogyakarta, Edhi Sunarso selaku desainer Patung Dirgantara di Desa Jombor, Sleman, Yogyakarta hari ini, Jumat (22/8/2014).

Keberangkatan tim yang berasal dari Yayasan Garuda Nusantara bersama pihak Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menemui pria kelahiran tahun 1938 tersebut diungkapkan Kordinator Pelaksana Pencucian Patung Pancoran, Budi Kasih karena mengalami kendala dalam proses pembersihan yang dilakukan pihaknya saat ini.

Pasalnya, konstruksi patung yang lebih dikenal bernama Patung Pancoran itu diketahui dalam kondisi memprihatinkan saat ini. Rusak dan keropos akibat korosi terlihat pada beberapa bagian patung yang tersebar di antaranya pada bagian kepala, bahu, tangan, syal dan bagian kaki.

"Karena data minim, kami coba cari tahu desainer aslinya, Alhamdulillah tim kami berhasil melacak dan menghubungi pihak keluarganyan, katanya dia masih hidup, tapi sudah tua dan lumpuh. Karena itu saya sama tim rencananya berangkat siang ini, Jumat (22/8/2014)," kata Edhi Sunarso.

Selain mencari data terkait konstruksi patung, tim yang dipimpinnya pun berencana untuk menggali sejarah dan informasi mengenai awal mula pembangunan, kendala dan tahap penyelesaian patung yang digagas pembangunannya oleh Presiden RI Pertama, Ir Soekarno pada tahun 1964 itu.

"Kami cari data soal patung pancoran di Arsip Nasional, Kementerian Kebudayaan sampai Wikipedia nggak ada semua. Tapi info soal pak Edhi sendiri justru kami dapat dari beberapa orang kenalan kita. Kami mau tahu cerita soal patung ini, karena tahun produksi dan penyelesaian pembangunannya saja masih simpang siur," kata Edhi Sunarso

Tidak hanya itu, lanjutnya, berdasarkan kesaksian pihak keluarga dari pria yang diketahui kelahiran Yogyakarta tahun 1938 itu diketahui kalau proses pembayaran pembangunan belum diselesaikan hingga kini. Biaya pembangunan yang mencapai total sebesar Rp 7 juta, hanya dibayarkan sebesar Rp 1 juta, sedangkan sisanya menggunakan uang pribadi Edhi.

"Kami mau tahu kebenarannya, kita mau lihat bagaimana kehidupannya, kondisi keluarga dan keadaan kesehatannya seperti apa. Karena dikabarkan kalau dia (Edhi-red) lumpuh karena kena stroke, komunikasi cuma dibantu istri sama anaknya," kata Edhi Sunarso.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved