Ponpes Assayfiyyah Rangkasbitung Adakan Kajian Kitab Kuning
Pondok Pesantren Assayfiyyah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, menyelengarakan kajian berbagai kitab kuning untuk meningkatkan kemampuan membaca maupun pendalaman ilmu keagamaan
Palmerah, Wartakotalive.com
Pondok Pesantren Assayfiyyah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, menyelengarakan kajian berbagai kitab kuning untuk meningkatkan kemampuan membaca maupun pendalaman ilmu keagamaan bagi peserta didiknya atau santri.
"Kami setiap bulan Ramadhan menggelar kajian kitab kuning," kata Ketua Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Assayfiyah Rangkasbitung, KH Deden Alfiansari, Kamis (11/7/2013)
Ia mengatakan santri yang belajar itu dari berbagai daerah di Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Lampung.
Mereka memperdalam kajian kitab kuning khas Ponpes Salafiyah yang berkembang di Tanah Air dengan sistem coretan untuk memaknai isi kitab itu. Sebab kitab kuning itu disebut kitab gundul karena huruf-hurufnya belum memiliki tanda baca dzoma, fathah dan kasrah, katanya.
Selain itu juga makna harfiah bisa berubah dan perlu pengkajian khusus serta diskusi sehingga memiliki kompetensi di bidang pengetahuan agama Islam. Ia menjelaskan bahwa pengkajian kitab kuning itu meliputi ilmu Fiqih, Akidah, Tasauf, Ibadah, Tafsir Alquran, dan lain-lainnya.
Pendalaman ilmu Fiqih, tambahnya, seperti kitan Fathul Muin, Tasauf kitab Nasuhaibad, Tafsir Alqunan kitab Jalalen, dan ilmu kalimat bahasa Arab kitab Alfiyah dan Nahu.
"Dengan pengkajian kitab kuning ini tentu kemampuan santri bisa bertambah baik pembacaan maupun memaknainya itu," katanya.
Ia menjelaskan bahwa ponpes yang didirikan tahun 1980 itu telah meluluskan ribuan santri dan kini terus berkembang dalam upaya membantu program pemerintah.
"Para alumni di sini juga banyak menjadi ulama, pegawai negeri sipil (PNS), TNI, Polri dan pengusaha," katanya.
Sebab pada prinsipnya ajaran Islam itu seluruh manusia harus memiliki ilmu sebagai bekal hidup dunia dan akhirat nanti. Karena itu, pihaknya sejalan dengan program pemerintah untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
"Saya kira dengan pengkajian kitab kuning tentu manfaatnya cukup besar bagi kemajuan Islam di Tanah Air," katanya.
Sementara itu, seorang santri warga Bogor Soleh mengaku dirinya belajar mengkaji kitab kuning di Ponpes Assayfiyyah Rangkasbitung untuk meningkatkan kompetensi keilmuan agama Islam.
Sebab dalam kitab kuning itu membahas pengkajian ilmu Fiqih, di antaranya kitab Fathul Muin. "Kami setiap bulan Ramadhan memperdalam kitab-kitab kuning agar meningkatkan kemampuan ilmu agama Islam," katanya.