Berita Jakarta
Pengamat: Penanganan Sampah Jakarta Harus Dimulai dari Hulu
Masalah sampah Jakarta dinilai tak cukup ditangani di hilir, perlu solusi dari sumber hingga TPST.
Penulis: Miftahul Munir | Editor: Dwi Rizki
Ringkasan Berita:
- Pengamat tata kota M Azis Muslim menilai penanganan sampah di Jakarta harus dimulai dari sumber, bukan hanya di TPST Bantargebang yang kini kelebihan kapasitas.
- Ia mendorong pemilahan sampah sejak rumah tangga, pengembangan bank sampah, serta pemanfaatan teknologi untuk mengolah sampah organik.
- Peran masyarakat dinilai penting untuk mengatasi persoalan sampah secara menyeluruh.
WARTAKOTALIVE.COM, CIRACAS - Pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi di Jakarta yang terus meningkat menyebabkan volume sampah kian bertambah dan menjadi persoalan serius.
Pemerintah dinilai perlu menangani persoalan sampah secara menyeluruh hingga tuntas.
Pengamat tata kota, M Azis Muslim, mengatakan selama ini persoalan sampah kerap disorot dari sisi hilir, yakni Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.
Padahal, menurutnya, penanganan seharusnya dimulai dari hulu atau sumber sampah, seperti rumah tangga.
“Sumber sampah itu bisa berasal dari limbah rumah tangga, industri, maupun komersial. Kalau ingin menuntaskan masalah, intervensi harus dilakukan secara berkelanjutan dari sumbernya,” kata Azis saat dikonfirmasi, Kamis (16/4/2026).
Ia menilai, TPST Bantargebang saat ini sudah kelebihan kapasitas sehingga tidak mampu lagi menampung sampah dalam jumlah besar, termasuk dari daerah penyangga.
Karena itu, Azis menyarankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencari alternatif lokasi untuk pengolahan atau penampungan sampah.
“Permasalahan daya tampung ini bisa diatasi dengan mencari lokasi baru yang memungkinkan dijadikan TPST. Selama ini Jakarta masih sangat bergantung pada Bantargebang,” ujarnya.
Baca juga: Pemkab Bekasi Perkuat Strategi Hadapi Ancaman Krisis Pangan
Selain itu, ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga agar petugas lebih mudah mengelola sampah organik dan anorganik.
Menurutnya, sampah yang masih memiliki nilai ekonomis bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat maupun petugas.
“Sampah anorganik misalnya, bisa menghasilkan nilai ekonomi. Sementara kendala selama ini juga ada pada volume, waktu, dan rute pengangkutan,” jelasnya.
Azis menambahkan, permasalahan di hilir sangat bergantung pada kondisi di hulu. Oleh karena itu, peran masyarakat menjadi kunci dalam pengelolaan sampah.
Ia juga mendorong pemerintah untuk menggalakkan program bank sampah hingga tingkat RT dan RW.
Untuk kawasan komersial seperti pasar, Azis menyarankan pengolahan sampah organik melalui teknologi biodigester maupun maggot.
“Sampah organik bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak atau pupuk. Jadi perlu dibuat kantong-kantong pengolahan di sumbernya,” tandasnya. (m26)
Baca berita Wartakotalive.com lainnya di WhatsApp.
Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.
| Setu Babakan Jadi Lokasi Fokus Operasi Penangkapan Ikan Sapu-sapu di Jaksel |
|
|---|
| Pramono Anung Tegaskan Usulan Penamaan Halte oleh Parpol Hanya Candaan |
|
|---|
| Pramono Anung Pimpin Operasi Bersih Ikan Sapu-Sapu di Jakarta, Digelar Besok Serentak di 5 Wilayah |
|
|---|
| Amblas karena Sejumlah Faktor, Jembatan di Jalan Pule Ciracas Jakarta Timur Mulai Diperbaiki |
|
|---|
| Dampak El Nino 2026, Pramono Sebut Ancam Harga Pangan dan Ekonomi Jakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/gerobak-motor-pengangkut-sampah-di-TPS-Rawajati.jpg)