Breaking News:

PON XX Papua

Cerita Laode Abdul Haris Sofyan Peraih Medali Emas Wushu Nomor Sanda Kelas 65 Kg

Haris (biasa disapa) nekat merantau dari tempat tinggalnya di Desa Pemana, Alok, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Kota Surabaya, Jawa Timur

Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Umar Widodo
PB PON XX PAPUA/Yulius Rianto Gozali )
Abdul Haris Sofyan dari DKI Jakarta (Kiri) menang atas Samuel Marbun dari Sumatra Utara di Kelas 65 Kg cabor Wushu Sanda Putra, dan berhak medali Emas yang berlangsung di GOR Hiad Sai Trikora Merauke, PON XX Papua, Minggu (3/10/2021) 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sosok Laode Abdul Haris Sofyan, sejak tahun 2007 dalam usia 14 tahun yang terbilang remaja sudah berani merantau ke Kota Surabaya, Jawa Timur.

Haris (biasa disapa) nekat merantau dari tempat tinggalnya di Desa Pemana, Alok, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Kota Surabaya, Jawa Timur, karena merasa dirinya tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

Saat merantau ke Kota Surabaya, Haris mengaku hanya membawa bekal apa adanya dan tidak memiliki sanak saudara ataupun teman.

Setelah merasa cukup tinggal di Kota Surabaya, Haris memutuskan akan merantau lagi ke Kota Jakarta. Beruntung dia bertemu dengan sosok bernama Jerry di sebuah Stasiun Kereta Api.

Jerry merupakan petugas keamanan yang bekerja di salah satu ruko di kawasan Harmoni, jakarta Pusat. 

Saat itu Jerry satu-satunya orang yang mau menerima kehadirannya di Jakarta. Dirinya bertemu Jerry di stasiun yang ada di Surabaya, Jawa Timur dengan tujuan ke Jakarta.

Laode Abdul Haris Sofyan saat berbincang bersama Warta Kota di Gedung KONI Pusat, Senayan, Jakarta usai kembali dari PON XX Papua
Laode Abdul Haris Sofyan saat berbincang bersama Warta Kota di Gedung KONI Pusat, Senayan, Jakarta usai kembali dari PON XX Papua (Warta Kota/Yolanda Putri Dewanti)

Di Jakarta tinggal di depan pintu ruko milik orang lain yang tidak terlalu besar, tiap malam hanya bermodalkan kardus buat alas tidurnya. Kemudian setiap pagi dia membantu ibunya Jerry berjualan nasi uduk.

"Ibunya pak Jerry adalah ibu angkat saya pertama saat mengadu nasib di Ibu Kota, saya bantu cuci piring karena dia jualan nasi uduk setiap pagi di ruko itu," ucap Haris kepada Warta Kota, di Kantor KONI, Jakarta Pusat, Rabu (13/10/2021).

Pada saat itu, di benak Jerry terbesit bahwa Haris harus bisa jadi orang sukses, ia merasa khawatir dengan masa depan Haris. Akhirnya ia ditawarkan untuk berlatih tinju.

Halaman
1234
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved