Rusuh Arema Persebaya

Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Disebut Diintimidasi, Polri: Kalau Ada Bukti, Silakan Laporkan

Penulis: Ramadhan L Q
Editor: Junianto Hamonangan
Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo meminta agar yang keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang merasa terintimidasi saat hendak berangkat ke Jakarta untuk membuat laporan dengan disertai bukti-bukti.

WARTAKOTALIVE.COM, KEBAYORAN BARU - Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan disebut mendapat intimidasi dari aparat kepolisian saat hendak berangkat ke Jakarta.

Mereka berangkat ke Jakarta guna meminta keadilan atas tragedi yang menewaskan ratusan orang pada 1 Oktober 2022 lalu.

Terkait itu, Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo meminta agar yang merasa terintimidasi untuk membuat laporan.

"Kalau ada bukti, silakan dilaporkan ke polres atau polda saja," kata Dedi, kepada Wartakotalive.com, Sabtu (19/11/2022).

Baca juga: Anies Baswedan: Cawapres Bagian dari Strategi, Prematur Bicarakan Pasangan Saat Ini

Diberitakan sebelumnya, satu bulan lebih setelah tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang, keluarga korban masih mendapat intimidasi dari sejumlah pihak, termasuk aparat kepolisian. 

Disampaikan Sekretaris Jenderal KontraS Andy Irfan sekaligus pendamping keluarga korban, menyebut, bentuk intimidasi yang diterima bukan berupa kekerasan, melainkan intimidasi tidak langsung. 

"Misalnya, hari ini ketika teman-teman datang ke Jakarta, itu dapat himbauan dari kepolisian yang pada intinya meminta agar teman-teman tidak datang ke Jakarta," ujar Andy Irfan saat ditemui di Kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2022). 

Baca juga: Anies Baswedan: Cawapres Bagian dari Strategi, Prematur Bicarakan Pasangan Saat Ini

Andy mengungkap, dampak dari himbauan tersebut memberikan rasa takut kepada para keluarga dan korban, sebab dilontarkan secara intensif. 

"Sejumlah sopir hampir membatalkan sewa bus kami. Bentuk-bentuknya begitu, menimbulkan rasa takut," ujar Andy.

Sementara itu, di tempat yang sama, Uli Parulian Sihombing selaku Koordinator Subkomisi Penegakan HAM menyebut, pihaknya menyayangkan hal tersebut terjadi.

Menurutnya, setiap warga negara harus bebas dari intimidasi dari siapapun, termasuk aparat penegak hukum. 

"Itu kami coba pelajari dulu, kami akan liat ke depannya," ujar Uli saat ditemui. 

Uli juga menyampaikan jika pihaknya telah mengantongi sejumlah bukti setelah pihaknya beraudiensi dengan korban. Adapun audiensi tersebut, membahas berbagai harapan korban paska tragedi Kanjuruhan.

"Kami juga akan mempelajari juga bukti baru yang disampaikan oleh keluarga korban dan juga pendamping dan juga kuasa hukumnya," ujar Uli. 

"Termasuk, harapan-harapan dari keluarga korban untuk mendapatkan keadilan," lanjutnya. (M31) 

Baca berita Wartakotalive.com lainnya di Google News.