Selasa, 7 April 2026

PELD dan PECD, Tindakan Operasi Saraf Terjepit yang Aman dan Cepat Pemulihan

Pasien sering takut operasi saraf terjepit karena khawatir terjadi resiko kelumpuhan. Dengan tehnik PELD DAN PECD, resiko itu dapat diminimalisir.

Editor: Ichwan Chasani
Dok. RS EMC Tangerang
Tim Dokter RS EMC Tangerang tengah memberikan penjelasan tentang saraf terjepit kepada pasien. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA — Hampir setiap orang pasti pernah mengalami nyeri pinggang (Low Back Pain/LBP). Keadaan yang dapat menganggu aktifitas sehari-hari ini merupakan suatu keadaan yang juga disebut saraf terjepit atau HNP (Herniated Nucleus Pulposus).

Perlu diketahui bahwa 80 persen dari kondisi LBP disebabkan oleh masalah di otot pinggang dan dapat ditangani secara konservatif atau tanpa operasi. Caranya, dengan istirahat, minum obat, fisioterapi, akupuntur, dan lain-lain.

Namun, tentunya kita harus memberi batas waktu terapi konservatif tersebut, jika tidak ada perbaikan nyeri dalam waktu 6-8 minggu, harus dicari masalah lainnya disamping masalah otot.

Saraf kejepit atau HNP (Herniated Nucleus Pulposus) merupakan kondisi di mana bantalan atau cakram (disc) pada ruas tulang belakang menonjol dan menekan saraf tulang belakang. Untuk Kasus HNP yang ringan sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat juga muncul gejala nyeri yang hebat.

Adapun lokasi paling sering terjadinya HNP adalah di bagian pinggang (lumbal), leher (cervical) dan terakhir paling jarang adalah bagian punggung (thoracal).

Tim Dokter RS EMC Tangerang tengah memberikan penjelasan tentang saraf terjepit kepada pasien.
Tim Dokter RS EMC Tangerang tengah memberikan penjelasan tentang saraf terjepit kepada pasien. (Dok. RS EMC Tangerang)

Keluhan pasien dapat berupa kesemutan yang menjalar ke tangan atau kaki, nyeri leher atau pinggang, kelemahan/kelumpuhan anggota gerak, ataupun sulit menahan buang air besar atau kecil.

Minimalkan luka sayatan

Sekitar 80-85 persen kasus HNP dapat ditangani tanpa operasi, namun 15-20 persen diantaranya perlu dilakukan tindakan operasi. Dengan perkembangan teknologi kedokteran saat ini, tindakan operasi untuk kasus HNP mengarah ke tehnik bedah yang meminimalkan luka sayatan atau disebut minimal invasive.  

Tehnik PELD

Walaupun tehnik operasi mikrodisektomi untuk kasus HNP tetap merupakan gold standard, namun saat ini berkembang tehnik lain yang dinamakan Percutaneous Endoscopic Lumbal Discectomy (PELD).

PELD merupakan suatu tehnik operasi saraf terjepit, dimana dapat dilakukan dengan bius lokal, hanya memerlukan sayatan sebesar 8mm, dapat dilakukan secara one day care atau tanpa rawat inap.

Durasi operasi pun terbilang singkat yaitu 20-40 menit, tidak perlu pemasangan alat implant dan pendarahan yang ditimbulkan sangat minimal. Pengerjaannya dilakukan dengan bantuan lensa dan monitor, sehingga saraf terlihat jelas dan dapat dihindari dari cedera.

Minimalkan rasa nyeri

Dengan luka sayatan hanya 8mm, tehnik PELD memberikan beberapa keuntungan antara lain meminimalkan rasa nyeri pada pasien pasca operasi, sehingga pasien dapat lebih cepat untuk kembali beraktifitas atau bekerja.

Pasien sering khawatir akan resiko kelumpuhan pada operasi tulang belakang termasuk bagian lumbal. Perlu diketahui bahwa level yang sering terkena HNP pada daerah lumbal adalah level L45 dan L5S1. 

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved