Ledakan di Beirut

Laporan Terbaru: Akibat Ledakan Maha Dahsyat di Beirut, 40 Persen Infrastruktur Ibu Kota Remuk Parah

Editor: Bambang Putranto
Orang-orang membersihkan puing-puing dari apartemen mereka, di lingkungan Mar Mikaehl pada 6 Agustus 2020, dua hari setelah ledakan besar di dekat pelabuhan Beirut mengguncang ibu kota Libanon. Ledakan besar di pelabuhan Beirut telah menewaskan sedikitnya 137 orang, menyebabkan puluhan orang hilang dan sedikitnya 5.000 lainnya luka-luka, kata seorang juru bicara kementerian kesehatan Libanon hari ini.

Wartakotalive, Jakarta - Setelah dilakukan penelitian yang terukur atas ledakan maha dahsyat yang terjadi di Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus lalu, didapat taksiran bahwa sekitar 40 persen infrastruktur di ibu kota Lebanon itu mengalami kerusakan amat parah.

Penelitian tersebut dilakukan oleh perusahaan konsultan swasta Strategy&, yang disewa pemerintah Lebanon untuk membuat asesmen.

Dalam laporan awal setebal 40 halaman, yang dikutip alarabiya.net, Sabtu, 22 Agustus 2020, disebut bahwa ledakan itu menimbulkan kehancuran infrakstruktur senilai 20 miliar dolar AS, sekitar Rp 300 triliun.

Ledakan yang diakibatkan oleh timbunan amonium nitrat sebanyak 2.750 ton di gudang Pelabuhan Beirut itu menewaskan paling sedikit 190 orang, dan ribuan orang lainnya luka parah.

Selain itu, sekitar 300.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena rusak parah.

Berdasarkan data dari worldpopulationreviews.com, jumlah penduduk Kota Beirut tahun 2020 diperkirakan sekitar 2,4 juta jiwa.

Pemandangan parsial pelabuhan Beirut yang hancur digambarkan dari lingkungan terdekat Mar Mikaehl pada 6 Agustus 2020, dua hari setelah ledakan besar di sana mengguncang ibu kota Libanon. Ledakan besar di pelabuhan Beirut telah menewaskan sedikitnya 137 orang, menyebabkan puluhan orang hilang dan sedikitnya 5.000 lainnya luka-luka, kata seorang juru bicara kementerian kesehatan Libanon hari ini. (Patrick BAZ / AFP)

Sebelum ada laporan dari Strategy&, pemerintah Lebanon menaksir kerugian infrastruktur mencapai 15 miliar dolar AS, sekitar Rp 220 triliun.

Namun, menurut estimasi perusahaan tersebut, kerugian Rp 220 triliun itu hanya untuk pelabuhan saja, bukan infrastruktur lainnya.

Kerusakan infrastruktur selain pelabuhan, antara lain jalan, gedung, rumah, rumah sakit, mencapai sekitar 5 miliar dolar AS, sekitar Rp 75 triliun.

Tercatat ada 17 rumah sakit yang mengalami kerusakan sangat parah, dan parah. Sebagian besar dari rumah sakit itu tak lagi bisa digunakan.

Padahal, Lebanon sedang mengalami pandemi virus corona, seperti yang dialami negara lain di seluruh dunia.

Masih berdasarkan laporan asesmen tersebut, sekitar 10.000 bangunan dalam dalam radius 3 km dari pusat ledakan, mengalami kerusakan.

Sepertiga dari jumlah bangunan itu tak bisa lagi dihuni, atau digunakan.

Dua ledakan berturut-turut yang melumat sebagian Beirut Lebanon (afp/scmp.com)

Dari jumlah sepertiga itu di antaranya terdiri dari 120 sekolah, yang berdampak pada kegiatan 63.000 murid, dan 6.000 guru serta pegawai administrasi sekolah.

Dalam laporan itu juga dipaparkan, sebanyak 92 persen pelaku bisnis di Beirut mengalami kerugian.

Kerugian itu mulai dari yang kecil seperti kaca toko pecah, sampai kehancuran total bangunan tempat usaha mereka.

Para pelaku bisnis itu terpaksa harus menguras pendapat setahun ini untuk perbaikan, dan sekitar 12 persen terpaksa harus tutup sama sekali bisnisnya.

Selain menilai kerugian fisik, Strategy& juga melakukan asesmen atas kondisi psikologis warga Lebanon.

Dari semua responden yang digali pendapatnya, Strategy& melaporkan bahwa separuh dari responden membutuhkan dukungan mental yang sangat mendesak, dan 16 persen dari responden yang sangat rentan, membutuh perawatan medis sangat segera.