Ledakan di Beirut

Khaldiya Tinggalkan Suriah Hindari Perang, namun Tewas di Beirut akibat Ledakan Maha Dahsyat

Editor: Bambang Putranto
Produser TV Lebanon Tony Ahwaji duduk terluka di balkon apartemennya yang rusak di lingkungan Mar Mikhael, Beirut, Libanon, pada 6 Agustus 2020, dua hari setelah ledakan besar mengguncang ibu kota Libanon. Ledakan tersebut, yang tampaknya disebabkan oleh api yang menyulut 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang, dirasakan hingga ke Siprus, sekitar 240 kilometer ke barat laut. Skala kehancurannya sedemikian rupa sehingga ibu kota Libanon menyerupai lokasi gempa bumi, dengan 300.000an orang kehilangan tempat tinggal dan ribuan lainnya berdesakan di rumah sakit yang kewalahan untuk perawatan.

Wartakotalive, Jakarta - Perang saudara di Suriah yang tak kunjung henti menyebabkan istri Ahmed Staifi dan anak-anaknya mengungsi ke Lebanon. Namun sang istri dan anak-anaknya justru tewas di negeri itu akibat terkena ledakan maha dahsyat di Pelabuhan Beirut pekan lalu.

Ahmed Staifi adalah orang Suriah yang bekerja Lebanon sejak lama. Sedangkan istri dan anak-anaknya di Suriah.

Ia secara berkala pulang ke Suriah, yang berbatasan langsung dengan Lebanon.

Ketika pecah perang saudara di Suriah sejak 2011, Staifi tetap bekerja di Lebanon.

Sekitar enam tahun lalu istri Staifi, Khaldiya, menelepon dia. "Aku akan menyusul kamu, nggak kuat dengan keadaan perang di sini".

Khaldiya bersama empat orang anaknya akhir bisa bergabung dengan suaminya.

Ada lebih dari satu juta orang Suriah yang mengungsi ke Lebanon, termasuk Khaldiya bersama empat orang anaknya.

Mereka "beruntung" karena sang suami sudah tinggal lama di Lebanon, sehingga sudah mempunyai tempat untuk tinggal, meskipun mengontrak.

Sementara sebagian besar pengungsi Suriah lainnya tinggal di gubuk dan tenda darurat, dengan makanan yang dijatah.

Ahmed Staifi pun bahagia karena bisa berkumpul dengan istri dan anak-anaknya, di tempat yang aman dari serangan bom.

Ahmed Staifi yang kehilangan istri dan dua anaknya, dengan latar belakang rumahnya yang runtuh akibat ledakan di Beirut (reuters/alarabiya.net)

Namun, pada Selasa, 4 Agustus 2020, kebahagiaan Ahmed Staifi sirna.

Ledakan super dahsyat dari bahan kimia di Pelabuhan Beirut meluluh-lantakkan sebagian Ibu Kota Lebanon itu.

Sebanyak lebih dari 150 orang tewas, ribuan luka-luka, dan masih seratusan orang yang tak ketemu.

"Aku buru-buru kembali ke rumah," tutur Staifi, yang dikutip alarabiya.net, Selasa, 11 Agustus 2020.

Ia mendapati rumah tinggalnya runtuh total. "Aku mendengar suara anak perempuanku di bawah reruntuhan..'ayah aku tidak ingin mati'," kenang Staifi.

Dua anak perempuan Staifi akhirnya berhasil diselamatkan, dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Namun, sang istri bersama dua anak perempuannya yang tertua dan bungsu tak bisa diselamatkan. Mereka tewas tertimpa reruntuhan rumah.

Akibat ledakan itu tercatat paling sedikit 43 orang pengungsi Suriah tewas.