Selasa, 7 April 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Politik Pinokio

Demikianlah kisahnya. Sahdan menurut cerita, Kakek Geppeto yang hidup sendiri, merasa sangat kesepian. Lalu ia membuat boneka kayu.

Editor: AchmadSubechi
Istimewa
Joseph Goebbels (Istimewa) 

Ingat kisah Pinokio, boneka kayu ciptaan Kakek Geppeto?

Demikianlah kisahnya. Sahdan menurut cerita, Kakek Geppeto yang hidup sendiri, merasa sangat kesepian. Lalu ia membuat boneka kayu. Ia berdoa dalam hatinya semoga boneka kaya buatannya, bisa hidup dan menjadi anak kecil.

Dan, alangkah terkejutnya Kakek Geppeto, doanya terkabul. Boneka kayu buatannya, hidup! Bisa berjalan. Bisa berbicara. Dengan kegembiraan yang meluap-luap dalam hatinya, Kakek Geppeto memberi nama boneka kayu yang hidup itu Pinokio. 

Harapan dan impian tidak berhenti sampai di sini. Ia ingin sekali Pinokio menjadi anak pintar. Karena itu, Pinokio yang memanggil Kakek Geppeto sebagai ayah, didaftarkan untuk masuk sekolah. Kakek Geppeto menjual pakaiannya dan dengan uang itu, ia membelikan Pinokio sebuah buku. “Belajarlah baik-baik dengan buku ini,” nasihat Kakek Geppeto.

“Terima kasih, Pak. Aku akan pergi ke sekolah dan belajar giat, biar menjadi anak pintar,” kata Pinokio.

Dan, suatu hari Pinokio berangkat ke sekolah. Tetapi, ia tidak berjalan menuju sekolah, setelah mendengar suara tambur bertalu-talu. Ketika Pinokio mendekat, ternyata suara tambur itu berasal dari sebuah tenda sandiwara boneka. Tergoda ingin melihat sandiwara, Pinokio menjual bukunya dan membeli karcis masuk.

Ia melanggar janjinya pada ayahnya, Geppeto. Singkat cerita, akibat perbuatannya itu, setiap kali berbohong, hidung Pinokio bertambah panjang. Karena berkali-kali berbohong, hidung Pinokio terus bertambah panjang, sampai-sampai badannya tak mampu berdiri tegak, akibat saking panjangnya hidung. Sebaliknya, kalau ia berkata jujur, maka panjang hidung Pinokia berkurang. Ia pun gembira karenanya.

Di akhir cerita, menurut Carlo Collodi penulis kisah Pinokio (1818) asal Italia ini, Pinokio mengalami musibah hingga tenggelam di lautan. Meski akhirnya diselamatkan oleh Kakek Geppeto yang merasa sedih kehilangan kabar dari Pinokio.

Berhari-hari pergi tanpa jejak, hingga memutuskan mencari Pinokio di manapun ia berada. Karena kegigihan Kakek Geppeto, dan Pinokio yang menyadari tentang makna kejujuran serta betapa tak enaknya ketika berbohong, telah menjadi satu titik balik perjalanan. Pinokio yang semula berwujud boneka kayu, berubah menjadi seorang anak laki-laki yang betulan.

Tetapi, para peneliti di Spanyol dari University of Granada mengungkapkan kisah sebaliknya sebagai akibat dari kebohongan. Menurut menurut mereka, ketika berbohong, hidung bukan memanjang, selainkan menyusut sedikit alias memendek. Apa pun, akibat dari kebohongan itu ada!

Politik Kebohongan

Seorang penyair dan pengarang dongeng dari Yunani Claudius Aesopus (620-564 SM), pernah mengatakan, “Seorang pembohong tidak akan dipercaya bahkan ketika ia berbicara tentang kebenaran.”

Di zaman yang lain, Robert Green Ingersoll seorang pengacara dan politikus dari AS (1833-1899) mengatakan hal yang hampir sama dengan rumusan yang lain, “Sebuah kebohongan tidak akan cocok dengan apapun, kecuali dengan kebohongan lainnya.”

Friedrich Nietzsche (1844-1900), ilmuwan dan filsuf asal Jerman yang hidup sezaman dengan Robert Green Ingersoll juga berbicara soal kebohongan. “Saya tidak sedih kalau Anda telah membohongi saya, tapi saya justru sedih karena sejak saat itu saya tidak bisa percaya lagi kepada Anda.”

Tetapi, petinggi Partai Nazi yang juga tangan kanan Adolf Hitler, Paul Joseph Goebbels (1897-1945), tidak peduli dengan omongan Nietzche itu walau sama-sama orang Jerman. Goebbels bahkan mengatakan, “Kebohongan yang diucapkan terus-menerus, niscaya akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran”.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved